Posted on

Kupinjam Namamu (Episode 3)

Namamu Kupinjam 3

===00==oOo==00===

Keramaian jam istirahat selalu memadati kantin. Hampir setiap stan penjual makanan dipenuhi orang yang akan membeli dagangan, sesak berjejalan. Satu sama lain saling berebut ingin duluan dilayani. Tapi tidak dengan gadis berambut sepinggang itu. Dia tetap sabar di antriannya dan menebarkan senyum simpul tatkala orang-orang yang mengenalnya menyapa sambil lewat.

Fiuh, lega baginya setelah 2 bungkus hamburger berhasil digenggamnya.

"Camelia," panggil seorang pemuda bertubuh kurus berjalan menyamai langkahnya.

Camelia menoleh,"Apa Mir?"

Amir cengengesan, ia menggigit jari-jarinya sendiri. Tidak disangka Camelia akan menyahut sapaannya.

"Kamu beli 2 hamburger untuk siapa? Untuk Friska, teman semejamu, atau Kedasih teman yang duduk di belakangmu?" seloroh Amir dengan gaya salah tingkah.

"Bukan untuk keduanya!" Jawab Camelia singkat.

"Hamburger sebanyak ini mau kamu habiskan sendiri?"

"Bagi satu untukku dong? Ya, Camelia darling?" Ratap Amir penuh harap, bibirnya sudah basah karena tergiur melihat hamburger di tangan Camelia.

Tiba-tiba saja Camelia berlari kecil menuju seseorang yang berdiri di depan pintu kelas.

"Badaaaaii.. Nih, hamburger buat lu! Sengaja gue beli buat lu loh," Camelia menyodorkan sebungkus hamburger yang sempat diminta oleh Amir darinya.

Melihat hal itu di kejauhan Amir hanya dapat melongo dan menggigit jarinya seperti yang biasa dilakukannya.

"Camelia, hiks…" Desis Amir.

"Thanks ya Mel. Elo baik deh sama gue," digigitnya roti isi sayur dan irisan daging itu.

"Itu belum seberapa. Nanti kalau loe bersedia mengajari gue olah vokal akan ada lebih banyak lagi hadiah yang gue kasih!" Camelia menggamit lengan Badai mesra.

Mereka duduk di serambi teras kelas. Menikmati kunyahan demi kunyahan hamburger yang sedang mereka santap. Sesekali Camelia menyodorkan punyanya agar digigit Badai. Namun Badai merasa canggung.

"Ayo Dai, ungkapin kemesraan lu sama gue!" Bisik Camelia pelan.

Badai tidak mengerti maksud Camelia. Mata Camelia menunjuk ke arah samping tempat di mana Amir berdiri.

"Owh.." Badai mulai paham maksudnya.

Segera mereka melakukan adegan kemesraan saling menyilangkan tangan mereka berbagi hamburger yang tengah mereka nikmati.

"Cie.. Cie.. Mesra amir kalian berdua! Si Amir aja enggak mesra tuh!" Goda segerombolan anak yang lewat di hadapan mereka.

Mendengar namanya disebutkan Amir hanya dapat berbalik penuh rasa jealous. Kedua tangannya mengepal meremas-remas jemarinya.

"Dai, sore nanti lu ada waktu enggak buat gue?" Camelia melahap sisa hamburgernya yang tinggal satu kunyahan.

"Memangnya mau mulai latihan hari ini?" Selidik Badai.

"Enggak sih, tapi iya juga, gue pengen ngajak loe jalan-jalan ke mall, udah gitu kita ke karaoke box hitung-hitung latihan nyanyi di sana," Camelia menyandarkan kepalanya di bahu Badai.

Badai mengamati sekeliling, sudah tidak ada Amir di sekitar mereka tetapi mengapa Camelia masih bersikap sok mesra. Badai mulai merasa risih atas tindakan Camelia itu.

"Dengan siapa saja?" Tanya Badai.

"Kita berdua saja!" Jawab Camelia.

Di saat yang kebetulan, Kedasih melenggang melewati mereka berdua yang sedang duduk di depan koridor kelas. Sikapnya benar-benar cuek, seakan tak memperhatikan sekelilingnya.

"Kedasih," panggil Badai seraya berdiri.

Kedasih menoleh. Tampaknya ia mulai bersikap seperti awal pertama kali berjumpa dengan Badai. Raut wajahnya begitu serius tanpa segurat senyuman, sehingga lebih terkesan dingin.

"Sore nanti kamu bisa ikut enggak dengan kami? Rencananya kami mau jalan-jalan ke mall dan main ke karaoke box,"

Kedasih menautkan kedua alisnya. Ia masih tampak menakutkan, batin Badai.

"Jam berapa?" Tanya Kedasih.

Badai menoleh pada Camelia.

"Jam 3 sore bagaimana?" Jawab Camelia cenderung balik bertanya.

"Oke asal pulangnya tidak terlalu malam, aku bisa!" Kedasih mengangguk setuju.

"Dah ya, gue mau cabut dulu," pamit Kedasih buru-buru.

"Oke entar sore gue SMS," pungkas Camelia pada Kedasih.

"Ga pa-pa kan kita ajak Kedasih?" Badai berbalik menatap Camelia.

Kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantong celananya.

"Yeah, makin rame makin asyik," Camelia membenahi roknya yang kusut karena posisi duduknya tadi.

"Oke kalau gitu, gue boleh dong mengajak satu orang lagi?" Decak Badai.

"Terserah lu aja, asal sore nanti lu ajarin gue nyanyi!" Camelia membuang bungkus hamburger ke tong sampah.

"Sip deh kalau gitu. Gue mau ke atas dulu ya, ada perlu sama teman gue di kelas XI IPA A," secepat kilat Badai segera melengos meninggalkan Camelia seorang diri.

Ditapakinya tangga demi tangga menuju kelas Mario. Hatinya berbunga-bunga. Ia yakin dengan cara seperti ini bisa membuatnya dekat dengan Mario, lelaki yang disukainya sejak dulu. Sungguh suatu kesempatan yang bagus, pikir Badai. Ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.

"Mario ada?" Tegur Badai pada salah seorang anak yang berkerumun di depan kelas XI IPA A.

"Dia kan lagi sibuk mengurus pensi, besok puncak acara MOS," jawab anak yang ditegur Badai.

"Astaga! Gue sampai lupa kalau Mario kan panitia MOS!" Badai menepuk jidatnya sendiri.

"Thanks ya infonya," Badai bergegas menuruni tangga tanpa merasa lelah sedikitpun, padahal ia baru saja sampai di lantai atas.

Ia benar-benar semangat demi Mario.

Hosh! Hosh!

Napas Badai tersengal-sengal, ia telah berputar mengelilingi sekolah, namun tak menemui Mario di mana pun.

"Badai, tubuh kamu kok berkeringat begitu, kamu habis olah raga ya?" Suara seorang lelaki di belakang Badai sukses mengejutkannya.

Saat tubuh Badai berputar menghadap si empu suara, mata Badai mengerjap bertabur bintang.

"Eh, Kak Triko," Badai tersenyum pipinya merona.

Triko membalas senyumannya. Tapi uups.. Siapa gadis yang sedang merangkul pinggang Triko itu ya? Tanya Badai dalam hati. Dari seragam yang dikenakannya gadis itu adalah siswi baru kelas X. Kelihatannya mesra sekali. Senyum Badai mendadak pudar seketika.

Dugaan Badai selama ini memang tidak pernah salah. Triko benar-benar seorang pemain cinta alias PLAYBOY. Tak salah jika Badai memperdaya Triko melalui telepon dan dunia maya. Triko gampang sekali dibodohi. Ia sama sekali tidak menyadari suara Badai dalam telepon itu. Triko benar-benar menyangka kalau Princess Aurelia itu ada di kehidupan nyata. Padahal sejatinya gadis yang bernama Princess Aurelia itu adalah seorang gadis nun jauh di luar kota yang mungkin tidak akan dikenali oleh siapapun di kota Badai tinggal, termasuk orang-orang di lingkungan sekolah dan lingkungan rumahnya. Karena Badai sendiri berkenalan dengan Princess Aurelia saat ia mengikuti kontes vokal solo di tingkat provinsi. Nama Princess Aurelia yang sebenarnya adalah Putri Erliani. Tentu saja Putri Erliani tak pernah mengetahui bahwa ada seseorang yang menyalahgunakan foto-fotonya untuk menjerat para kaum lelaki. Entah sampai kapan Badai akan terus memperdaya para lelaki dengan berpura-pura menjadi Princess Aurelia.

"Kak Triko tahu di mana Mario?" tatapan Badai berubah sinis.

Gadis yang memeluk pinggang Triko bertingkah centil laksana perempuan yang tidak mempunyai harga diri. Mungkin merasa sikap Badai berubah, Triko berusaha melepaskan tangan si gadis dari pinggangnya.

"Tadi kulihat dia memasuki ruang UKS, mengantar seorang peserta MOS yang cedera,"

Badai segera berlari ke tempat yang disebutkan oleh Triko tanpa sempat mengucapkan permisi atau pamit.

"Mario!" Panggil Badai dari kejauhan.

Mario tengah memapah seorang peserta MOS, tampak kakinya cedera pada lutut kanan.

"Kamu.. Kamu Obby kan?" Badai menghampiri mereka.

"Kamu kenal sama Obby, sob?" korek Mario.

Apa? Dia panggil aku 'sob'? Hati Badai berbunga-bunga. Baru kali ini Mario bersikap familiar padanya. Mudah-mudahan hubungannya dengan Mario bisa semakin akrab. Harap Badai.

"Engh, 2 hari yang lalu dia menubrukku di koridor depan kantor guru," jawab Badai.

"Nah, berarti kamu ceroboh, By! Masa dalam beberapa hari ini kamu sering jatuh," cela Mario.

Obby meringis menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang UKS.

"Kamu nyari aku?" Seloroh Mario.

Badai mengamati kaki Obby yang terkilir.

"Tadi waktu turun dari tangga, teman-temanku saling mendorong, aku yang enggak ikut-ikutan malah ketiban sial! Aku terdorong oleh mereka," Obby membuka cerita.

"Oowh, hati-hati kalau jalan ya By!" nasihat Badai seraya mengacak rambut Obby.

"Aku ada perlu sama kamu Yo!" Badai menarik tangan Mario keluar meninggalkan Obby di UKS.

"Kamu di sini saja ya By!" Mario melangkah terseret.

"Yo, ada kabar bagus buat kamu! Nanti sore aku mengajak Kedasih jalan-jalan ke mall jam 3,"

Mario mengangkat alisnya tinggi, serasa tidak percaya mendengar kabar dari Badai itu.

"Serius Dai?" Mario sumringah.

Badai mengangguk.

"Yang punya ide sih Camelia, dia yang mengajakku ke karaoke box. Kebetulan Kedasih lewat depan kami, aku jadi teringat sama kamu," beber Badai terus terang.
"Jadi ceritanya kamu ngajakin aku & Kedasih buat double date nih?" Mario membelalakkan matanya, ia masih tak percaya.

Untuk kedua kalinya Badai mengangguk.

"Cihuy, berarti kesempatan buatku mendekati Kedasih nih," Mario bersorak, kakinya melonjak-lonjak girang.

"Thank you so much brother!" Mario memeluk Badai spontan.

What a surprise! Badai sangat bahagia bisa dipeluk oleh Mario. Rasanya ingin sekali menghentikan waktu agar kehangatan ini bisa terus ia rasakan. Diusapnya punggung Mario dengan lembut.

"Tapi aku punya permintaan, boleh?" Bisik Badai.

"Apa Dai? Katakanlah!" Mario melepaskan pelukannya.

"Aku ingin jadi teman dekat kamu. Aku ingin kita sering main bareng, berangkat dan pulang sekolah kita selalu bersama. Kamu mau kan menjadi sahabat aku?" Badai sedikit grogi untuk mengungkapkan permintaannya.

Mario menatap lekat dan hangat.

"Cuma itu?" tanyanya memastikan.

Badai menebarkan senyum close up.

"Oke, mulai hari ini kita bersahabat!" Mario anggung-anggip.

"Asal kau bantu aku supaya aku bisa dekat dengan Kedasih! Kau kan teman semejanya, sedikit-banyak pasti tahu tentang dia," Mario memberi persyaratan.

Badai menghamburkan diri ke dalam pelukan Mario lagi. Hatinya sangat senang, sungguh senang.

Siang itu Badai pulang sekolah dibonceng oleh Mario. Perasaan Badai benar-benar girang, karena apa yang ia harapkan selama ini telah menjadi kenyataan. Mulai hari ini Mario tidak akan pernah menghindar atau menjauh lagi dari Badai bila berangkat maupun pulang sekolah.

Dipeluknya pinggang Mario erat dari belakang. Sengaja ia merapatkan tubuhnya ke punggung Mario dengan alasan supaya obrolan mereka sepanjang perjalanan bisa terdengar jelas.

"Bagusnya nanti sore aku pakai apa ya bro?" Tanya Mario.

"Ya pakai bajulah, Yo! Masa cuma pakai kolor sih," sentil Badai bercanda.

"Iya, maksudku bagusnya baju warna apa ya, Dai?" sesekali Mario menoleh sedikit ke arah Badai sambil terus fokus pada kemudi.

"Hmm, warna apa ya? Sebentar, kalau menurut aku sih, Kedasih itu orangnya misterius dan terlihat melankolis. Menurut artikel yang pernah aku baca, orang melankolis itu identik menyukai warna biru," gumam Badai.

"Masa sih, Dai?" Mario tak percaya.

"Enggak ada salahnya kan dicoba?" Saran Badai.

¤¤••00••¤¤

"Hi, dah lama nunggu?" Camelia datang bersama Kedasih.

"Ah, enggak juga, kami juga baru datang kok!" Balas Badai.

"Yah, kalau kami telat, harap maklumlah, kami kan cewek. Tahu dong, cewek kan kalau dandan suka lama," kilah Camelia.

"Enggak dandan pun kalian dah pada cantik kok," puji Badai.

Mario berdeham.

"Oh, iya, gue bawa Mario nih," Badai menarik Mario dari belakang tubuhnya.

"Hai," sapa Mario menyalami Camelia dan Kedasih.

Saat tangan Mario berjabat dengan tangan Kedasih, sengaja menahannya hingga lama.

"Lama ya kita enggak ketemu," tangan Badai masih menggenggam tangan Kedasih.

"Iya selama di SMA kamu sibuk banget jadi anggota OSIS ya?" timpal Kedasih agak malu-malu.

"Enggak juga sih sebenarnya!" mata Mario berbinar.

"Padahal waktu SD, kamu pendiam banget. Enggak nyangka sudah SMA kamu aktif berorganisasi," Kedasih tersenyum ditutupi tangan kirinya.

"Ehem.. Salaman kok lama banget ya," cibir Badai.

Naga-naganya Badai mulai mencemburui Kedasih. Sementara Camelia hanya tersengih melihat dua remaja yang terlihat sedang bernostalgia.

"Eh, kalian sudah saling kenal sejak lama ya? Sejak SD? Memang dulu Kedasih SD di mana?" berentet pertanyaan Badai diluncurkan saking penasaran.

"Loh, Dai, memangnya kamu enggak ingat? Kedasih dulu satu sekolah juga sama kita. Cuma aku, kamu, dan Kedasih kita bertiga enggak pernah satu kelas," ungkap Mario.

Badai tersentak.

"Masa sih?" tanyanya tak percaya.

Badai berkecamuk dengan pikirannya sendiri, ia terkenang masa sekolah dasarnya dulu ia tergolong anak pendiam, kurang pergaulan, dan selalu berkutat dengan buku-buku di perpustakaan. Pelajaran yang paling menonjol pada dirinya hanya seni, tidak heran memang bila sekarang berbakat sekali dalam olah vokal maupun bermain piano klasik.

"Ergh.." Badai bengong.

"Hebat ya, melihat reuni SD tapi berbeda kelas. Ck..ck..ck.." Camelia berdecak.

"Ya sudah karena sudah kumpul ayo kita segera tancap!" Mario membuyarkan lamunan Badai yang sedang berusaha mengingat masa SD-nya.

Badai bergegas naik ke boncengan Mario.

"Loh, kamu bawa motor Camelia saja! Aku bonceng Kedasih," protes Badai.

Badai merengut. Ia mulai teringat bahwa tugasnya adalah mencomblangkan hubungan Mario dengan Kedasih.

"Udah Dai, lu bawa motor gue aja!" titah Camelia riang.

Dalam hati Badai menyimpan rasa cemburu. Entah mengapa ia menjadi berubah benci pada Kedasih, gadis jutek dengan sejuta ekspresi misteriusnya. Di mana sih sisi yang menarik dari seorang Kedasih? Umpat Badai dalam hatinya. Menurutnya Kedasih tetap seorang gadis aneh yang terlihat menyebalkan di matanya.

Saat ini luapan api menggoyak
kepalaKU,
Badai amarah menghantam
benakKU,
memporak-porandakkan kesetiaan
dalam relung hatiKU,
Membakar keyakinan akan
cintaKU ..
ingin aku menangis,,
Namun kusadar tangisan takkan
obati lukaKU..
Ingin aku mengamuk,
namun kuyakin amukan takkan
menyelesaikan masalahKU..
Perih ini kubuat sendiri atas
cintaKU yang tak bertepi,
Luka ini kubuat sendiri karena kau yang aku cintai,
dan tolong ..
Obati perasaanKU ini ..

Camelia memeluk erat pinggang Badai, sementara hal yang sama dilakukan Kedasih kepada Mario. Perbedaannya Camelia tidak ada rasa sungkan kepada Badai. Sebaliknya Kedasih tampak malu-malu untuk berpegangan pada Mario. Hati Badai panas membara terbakar oleh api cemburu. Kendati demikian ia tak boleh menunjukkannya kepada siapapun di antara mereka, mencurigakan bukan? Otomatis Badai hanya dapat memendam perasaan cemburu tersebut hanya di dalam hati.

Zrrrt… Zrrrt…
Nada getar hp pertanda sebuah panggilan masuk pada hp Badai berbunyi. Dirogohnya saku celana sebelah kiri. Sebuah panggilan masuk dari Triko My Love.

Dimatikannya hp Badai, dan disimpan kembali ke dalam kantong celananya.

"Loh tidak diangkat?" Singgung Camelia.

"Malas ah, lagi nyetir. Bahaya kan, lagi nyetir terima panggilan telepon?" Dalih Badai berkelakar.
"Wah, lu cowok yang hati-hati juga ya? Tapi kalau panggilan itu penting, gimana?"

"Gak terlalu penting kok," jawab Badai kurang antusias.

"Pacar lu?" Selidik Camelia.

"Gue 100% jomblo!" jawab Badai sedikit tegas.

"Masa seh?" Camelia mengencangkan pegangannya.

Badai menambah sedikit kecepatan motor yang dikendarainya.

Sekali-sekali Triko harus dicuekin, batin Badai dalam hati. Salah siapa juga menjalin kemesraan dengan anak baru. Ngakunya cintanya hanya untuknya seorang, Princess Aurelia. Ternyata di belakang dia jago selingkuh. Huh, perlu dikacangin juga tuh playboy, dengus Badai nyaris terdengar oleh Camelia.

"Lu ngomong apa sih Dai? Kok kelihatannya lagi sewot gitu?" Seloroh Camelia curiga.

"Ah, enggak gue cuma senewen sama pengendara mobil barusan, dia nyetir nyaris nyerempet kita kan?" Badai berpura-pura.

"Apa iya, perasaan tidak ada mobil yang mau nyerempet kita deh," Camelia bingung sendiri.

¤¤•O•¤¤

"Wow, keren seumur-umur aku baru sekali ini main ice skating nih!" Badai berseru heboh.

"Aku juga," sahut Kedasih.

"Yuk, ganti sepatu dulu!" Mario mendorong tubuh Badai.

Perasaan panas yang sempat bergejolak dalam hati berubah mencair. Saat ini ia mulai luluh kembali setelah Mario menyentuhnya.

Camelia sudah berganti sepatu lebih dulu.

"Hei, Dai, lu bawa kamera kan? Keluarin dong, kita foto-foto dulu, narsis dikit boleh kan?" Camelia menghampiri Badai yang tengah berganti sepatu.

"Kedasih, ayo kita foto-foto dulu yok!" Camelia menarik tangan Kedasih ke arena seluncur.

"Tapi.. Tapi.. Whoa.." Kedasih histeris.

BUGH!

Kedasih terjatuh karena belum bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Untung saja kedua lututnya sudah memakai pengaman sehingga tidak menyebabkan cedera yang berarti.

"Ups, sorry Sih!" Camelia menahan punggung Kedasih agar tidak limbung.

"Kamu enggak apa-apa?" Mario mengulurkan tangannya pada Kedasih.

Kedasih bangkit,"Maaf masih pemula!"

"Dai, kita foto berempat, minta tolong dipotretkan saja pada petugas penjaga penitipan sepatu yang sedang santai di pojok sana!" tunjuk Mario ke salah satu corner.

Badai pun beraksi meluncur di arena ski. Tiba-tiba…

Sreeet… GUSRAAKH!

"Aduh," ringis Badai.

Camelia meluncur ke arah Badai.

"Kalau meluncur badan tidak boleh terlalu tegak! Paling tidak kamu harus mencondongkan badan sedikitnya 15°!" Camelia membantu Badai berdiri, kemudian membimbingnya berseluncur.

Mario terpingkal-pingkal melihat polah Badai yang sok aksi.

Sebuah tembang lawas Now that You are here-Christian Bautista mengalun riang dari hp Mario. Tanpa perlu menunggu nada dering itu tuntas, Mario pun mengangkatnya.

"Halo," Badai membuka salam.

"Kak Mario, kakak kok enggak membangunkan Obby? Obby masih di UKS nih!" Suara itu merengek manja.

"Ups, maaf, kakak lupa! Terus kakimu sudah bisa jalan?" Mario menepuk keningnya.

"BELUM KAKAK!" teriak Obby kencang hingga terdengar oleh Kedasih yang berdiri di samping Mario.

"Hmm, tapi kakak lagi ada acara nih, begini kakak akan minta tolong pada teman kakak saja, kamu kenal Kak Nico kan? Nanti biar kakak suruh dia untuk menjemputmu di UKS sekolah! Oke?" tanpa menunggu persetujuan dari Obby, Mario langsung menutup pembicaraan begitu saja.

Ia tidak ingin kencannya dengan Kedasih terganggu, karena ini merupakan kencan perdana baginya.

"Obby tertidur di sekolah jam segini baru bangun?" Tanya Badai.

"Mamanya bilang dia itu tukang tidur!" Jawab Mario kurang respek.

"Mamanya? Tampaknya baru beberapa hari kenal kalian sudah akrab sekali ya?" Korek Badai.

Dalam hati Badai merasa iri kepada Obby karena bisa begitu cepat akrab dengan Mario, sedangkan Badai perlu waktu 5 tahun agar bisa menjadi dekat dengan Mario seperti ini.

"Mamanya adalah sahabat mamaku!" Jawab Mario singkat.

Badai manggut-manggut,"Oh pantesan!"

Seorang petugas yang dimintai tolong untuk memotret mereka berempat datang menghampiri. Segera keempatnya berpose, lebih dari sepuluh kali petugas itu mengambil gambar dari satu tempat ke tempat lain dalam arena. Mereka pun merasa puas dengan hasil gambar yang diambil. Baru setelah itu keempatnya memotret sendiri-sendiri, berpasangan, maupun bertiga saling bergantian memotret foto.

Setelah puas bermain ice skating di arena seluncur, kini tiba saatnya mereka menuju karaoke box. Di sinilah satu-satunya tempat di mana Badai bisa memamerkan kemahirannya. Sesuai tujuan utama, karaoke box lebih ditujukan untuk Camelia yang ingin berlatih olah vokal dengan Badai.

Track demi track mereka putar namun belum memberikan hasil yang memuaskan dari Camelia.

Di saat lagu Sang Dewi-Titi DJ melantun pada bagian reffrain, suara Camelia lebih jelas terdengar seperti penyanyi roker yang sedang merintih kesakitan karena melahirkan.

"Walaupun dirimu tak bersayaaaaap…" Camelia naik ke atas kursi.

Otot tangannya mengejang namun napasnya menggebu-gebu.

"Mel.. Mel.. Turun Mel, ingat ini bukan di rumah sakit jiwa, Mel!" Gurau Mario padanya.

Kedasih terpingkal-pingkal menahan perutnya kesakitan saking lucunya melihat tingkah Camelia.

Camelia sama sekali tak menghiraukan imbauan teman-temannya. Ia masih terus bernyanyi. Gadis tomboy ini sangat berambisi untuk menjadi seorang penyanyi profesional. Mungkin ia ingin menjadi artis terkenal. Tak peduli suaranya sangat parau ia tetap terus bernyanyi, padahal Badai sudah mengajari tone-tone dan vibra lagu yang dinyanyikan olehnya. Tapi masih saja selalu salah.

"…Ku akan percayaaaaa uuooo…
Kau mampu terbang bawa dirikuuuu…
Tanpa takut dan ragu huhuhu…."

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

20 responses to “Kupinjam Namamu (Episode 3)

  1. anonymous ⋅

    evol writes:terusin dong.Makin penasaran..

  2. HidingPrinceOfBorneo ⋅

    Oke, tenang.. Sabar ya sob

  3. kristen-alkitab ⋅

    hehehe..terlalu memaksa yah aku.Sorry ya sob.:)Abisnya penasaran..

  4. HidingPrinceOfBorneo ⋅

    Nyantai bro. Ini lagi aq usahakan. Emailku masih belum terbuka kah?

  5. kristen-alkitab ⋅

    Mang klo mau nerusin ceritanya, harus di ketik 1 by 1 lagi. trus di post.maaf yah, aku gak bisa buka emailnya.

  6. HidingPrinceOfBorneo ⋅

    Dua hari sekali aq ngetik untuk satu episode. Tapi naskah yg kuketik enggak cuma cerita yg ini. Masih ada cerita lain yg sedang kuedit, From Jakarta to Tokyo. Cerita tersebut sudah kuposting juga lebih dulu di blog ini tapi masih naskah mentah. Jadi sekarang lagi kuedit ulang, perbaikan tulisan dan pemberian dialognya.

  7. kristen-alkitab ⋅

    Oh.Bro gak capek ??

  8. HidingPrinceOfBorneo ⋅

    Kalau sudah hobby capek tidak terlalu dirasa. Setiap kali membaca komentar orang yg sudah membaca ceritaku, ada kepuasan tersendiri bagiku. Aku jadi merasa sudah menjadi seorang penulis terkenal. Padahal boro-boro terkenal. Hehe..

  9. HidingPrinceOfBorneo ⋅

    Kalau sudah hobby capek tidak terlalu dirasa. Setiap kali membaca komentar orang yg sudah membaca ceritaku, ada kepuasan tersendiri bagiku. Aku jadi merasa sudah menjadi seorang penulis terkenal. Padahal boro-boro terkenal. Hehe..

  10. HidingPrinceOfBorneo ⋅

    Amin. Thanks sob atas spiritnya.Menurutmu, Pembalasan Markonah layak untuk dipublikasikan tidak?

  11. kristen-alkitab ⋅

    Hehehe..siapa tahukan, kamu jadi penulis novel terbaik..Amin.

  12. kristen-alkitab ⋅

    Termasuk ceruta lucu loh…brother pinter banget yah, romantis, humor, motivasi masuk dlm cerita..good deh pokok.a

  13. kristen-alkitab ⋅

    Sama2.Bagus banget.Menurut aku ceritanya memberi inspirasi utk seorang ayah, bahkan ibu, bagaimana mendidik anaknya.Ceritanya pun menghibur sekali.like deh pokok.a.Diterusin dong, smpe endingnya.kan ceritanya belum ending??

  14. HidingPrinceOfBorneo ⋅

    Trims sobat atas reviewnya, sebenarnya sudah lama aku ingin mengirim naskah Pembalasan Markonah ke penerbit, hanya saja aku masih sangsi atas kemampuanku sendiri, aku khawatir naskahku akan ditolak karena ceritanya terlalu kontroversi. Kamu hebat ya bisa menilai seperti itu. Aku enggak menyangka. Nanti pasti aku posting kelanjutan Pembalasan Markonah. 😮 😮

  15. kristen-alkitab ⋅

    :)beneran loh aku jga suka cerita markonah..selain mengisnpirasi, bahasa eikenya bikin perut aku sakit karena ketawa..hehehe..lucu banget..dilanjutin yah, sob.itu kemampuan kamu, gak ada lagi yg lain.

  16. HidingPrinceOfBorneo ⋅

    Sebenarnya waktu kuposting ceritanya lengkap loh, anehnya yg tampil cuma separuh.

  17. kristen-alkitab ⋅

    Iya, kenapa ya??akukan nulis panjang-lebar di blognya aku, stelah ku posting jadinya pendek banget, gak sampe setengah.

  18. HidingPrinceOfBorneo ⋅

    Ada pembatasan jumlah kata kalau mempostingnya lewat hp. Tapi kalau posting via komputer akan sempurna.

  19. HidingPrinceOfBorneo ⋅

    Ada pembatasan jumlah kata kalau mempostingnya lewat hp. Tapi kalau posting via komputer akan sempurna.

  20. kristen-alkitab ⋅

    oh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s