Posted on

Namamu Kupinjam

Namamu Kupinjam

==00•00==!!O•O!!==00•00==

A Story by SUGIH

Pagi yang cerah, matahari membagi rata sinarnya ke atas dunia. Awan-awan sirus turut menghiasi kubah biru raksasa maha karya Sang Pencipta. Bunga-bunga bungur berwarna keunguan menambah indahnya panorama pagi itu. Lebah-lebah madu beterbangan menghinggapi bunga dari satu tangkai ke tangkai yang lain.

Seorang pemuda berlari-lari kecil menapaki trotoar jalan raya yang lengang dan dipenuhi kelopak bunga bungur yang berguguran.

"Pagi Mario!" Sapa pemuda itu pada lelaki yang tengah dikejarnya.

Lelaki yang disapa melirik ke samping, arah suara si penyapa.

"Wah, pagi-pagi begini sudah ada badai! Harus cepat-cepat nih…" Sahut Mario mempercepat langkahnya.

"Huh, kebiasaan deh! Pagi ini  indah tahu, tuh lihat bunga-bunga bungur bermekaran, so enggak mungkinlah di pagi seindah ini timbul badai!" pemuda tadi memprotes.

"Ada! Badainya itu kamu!" Koreksi Mario seraya tersengih.

"Yee.. Itu sih emang namaku kalee…" Cibir si pemuda yang ternyata bernama Badai.

Ya, nama lengkap pemuda itu adalah Badai Ombak Samudra. Mungkin orang yang mendengar namanya akan tertawa terbahak-bahak. Jangan-jangan anak itu lahir di atas kapal, atau dulu waktu ibunya melahirkannya sedang jalan-jalan di tepi pantai dan tiba-tiba dilanda badai topan atau badai ombak dari laut.

"Eh, kamu kok buru-buru amat sih? Kamu enggak suka ya jalan bareng sama aku?" Seloroh Badai.

Ia berusaha menyamai langkah Mario yang tergesa-gesa.

Mario menoleh. Kemudian tersenyum tipis.

"Tahulah, ini kan hari pertama ajaran baru! So harus semangat dong!" Mario semakin mempercepat langkahnya.

"Semangat sih semangat! Tapi tidak perlu terburu-buru kan? Nikmati saja hari yang cerah ini! Sayang kan, pemandangan indah begini untuk dilewatkan?" Badai menengadahkan telapak tangannya ke langit menyambut gugurnya helaian kembang bungur.

"Ah kau, kaya cewek saja pakai menikmati bunga segala! Sorry nih, aku udah enggak sabar pengen sampai di sekolah, pengen tahu pembagian kelas baru. Siapa tahu orang yang aku suka sekelas dengan aku!"

DEGH!

Mendengar untaian kalimat yang diungkapkan oleh Mario membuat Badai terkesiap. Entah mengapa Badai jadi merasa lemas tubuhnya seakan kehilangan energi yang telah memberinya kekuatan, padahal tadi pagi ia sudah sarapan sereal kesukaannya.

Belum sempat ia menimpali perkataan Mario, lelaki berwajah Indo-Eropa itu telah jauh berada di depan meninggalkannya.

"Semoga kita menjadi kawan sekelas ya, Mario!" Gumam Badai.

==¤¤00¤¤==

"Pagi Mario!" Sapa sekelompok gadis di koridor sekolah.

"Pagi semua!" Sahut Mario dengan senyum cool-nya.

Kyaa.. Gadis-gadis itu pun mengerumuni Mario bak artis idola.

"Nah itu dia!" Pikir Badai.

"Dekati jangan ya?" Gumamnya lagi kepada dirinya sendiri.

Tapi Badai lebih memutuskan untuk berdiri di kejauhan saja. Ia khawatir Mario akan merasa bosan dengannya.

"Mario, kamu sudah lihat pengumuman pembagian kelas?" Tanya seorang gadis yang memiliki rambut sepinggang terurai. Ia hanya mengenakan bando merah di kepala.

"Sudah, tadi kulihat aku diterima di kelas XI IPA A!" Jawab Mario bersahaja.

"XI IPA A? Wah, Mario hebat ya.. Kalau tidak salah kata Bu Sri wakasek kurikulum, anak yang masuk kelas XI IPA A itu kan anak yang nilai rata-rata rapornya di atas 8,5! Selamat ya Mario, kamu beruntung!" Puji gadis lain yang memiliki kulit paling putih di antara mereka.

"Iya kamu hebat Mario, selamat ya!" Iring yang lain.

Mario hanya dapat mengusap rambut di belakang kepalanya mendengar pujian para gadis itu. Mungkinkah ia menjadi besar kepala?! Who knows…

"Oh, jadi Mario masuk kelas XI IPA A ya?! Hmm, harus segera cari tahu nih, sekelas enggak ya sama aku?" Badai bergegas mencari papan informasi.

"Permisi, permisi, Badai mau lewat!" Badai menyerobot gerombolan siswa-siswi yang sedang mencari data kelas barunya.

Mendengar namanya sendiri disebutkan kontan para gerombolan itu pun menyingkir mengalah pada Badai.

"Wah, badainya kali ini badai halilintar!" Celetuk salah seorang siswa.

Badai tak menggubris. Perhatiannya terfokus pada sederet nama di lembar daftar nama siswa yang diterima di Kelas XI IPA A.

"Rata-rata raporku kan 8,6! So pasti dong aku sekelas sama Mario! Kalau enggak…"

Tuk..tuk..tuk..

Berulang kali jari telunjuk Badai berseluncur di papan informasi tepat di lembar daftar nama siswa Kelas XI IPA A. Tetapi tidak ada namanya tertera di sana. Badai merasa tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Kedua matanya melotot menatapi lembar satu-satunya yang diharapkannya.

"Sudah selesai mencari infonya?" Sungut seorang gadis yang berdiri di samping Badai.

"Apaan sih? Jutek banget!" Timpal Badai menoleh ke arah si gadis.

"Nih ya, namamu ada di lembar yang ini!" Tunjuk si gadis tadi ke kolom kertas lain yang mencantumkan nama Badai Ombak Samudra.

Dipandanginya lembar tersebut dengan rasa tidak puas.

XI IPA B
1. Alvino Bachtiar
2. Badai Ombak Samudra
3. …

"What? XI IPA B? Kok bisa? Nilai rata-rata raporku kan 8,6!" Umpat Badai senewen.

"Mana kutahu!" Seringai gadis tadi dengan pandangan menakutkan. Wajahnya merah padam.

"Sudah selesai?" Tanya gadis itu lagi.

Ia berkacak pinggang. Wajahnya mendekat ke wajah Badai. Membuat Badai menelan air liurnya sendiri saking takutnya menatap wajah gadis itu.

"Su…sudah!" Jawab Badai terbata.

"Kalau sudah, jangan lupa meminta maaf ya!" Gadis itu menunjuk ke tanah.

Ternyata sejak tadi kaki kanan Badai telah menginjak kaki kiri gadis yang sekarang ini sedang bersungut sebal padanya.

Tiba-tiba saja Badai jadi merasa malu dan segera mengangkat kaki kanannya dari pijakannya.

"Ma.. Maaf ya! Enggak sengaja!" Badai merapatkan kedua tangannya memberi sembah.

Gadis itu hanya mendengus.

Badai langsung ngibrit takut masalah akan bertambah runyam.

"E..eh..ruang kelas XI IPA B itu di sebelah mana ya?" Tegur Badai pada seseorang yang berpapasan dengannya di koridor.

"Itu di pojok dekat kantin!" Sahut seorang anak lelaki yang ditanya.

"Kalau kelas XI IPA A?" Tanya Badai lagi.

"Masa nggak tahu sih? Noh di lantai atas dekat ruang laboratorium biologi!" Tunjuk si anak lelaki ke arah anak tangga yang tidak jauh dari mereka.

"Oke, thanks ya dah kasih tahu!" timpal Badai cengengesan.

"Wah, jauh sekali ya antara kelasku dengan kelasnya Mario!" Batin Badai.

"Aku tidak terima! Aku harus menemui para wakasek kurikulum dan kesiswaan, seharusnya kan aku masuk kelas XI IPA A! Pokoknya aku harus menggugat supaya aku bisa dikembalikan ke habitatku! Ups, habitat? Emangnya aku binatang apa ya, pakai habitat segala!" Racau Badai pada dirinya sendiri, tidak karuan.

Badai berlari menuju ruang guru. Masih ada waktu 15 menit baginya sebelum bel berdentang untuk berkumpul di lapangan sekolah. Hari ini seperti biasanya Kepala Sekolah akan memberikan pidato tahunan  penyambutan penerimaan siswa baru.

BUGH!

Dalam keadaan tergesa-gesa tubuh Badai bertubrukan dengan tubuh seorang murid baru berseragam SMP. Anak lelaki itu muncul tiba-tiba dari lorong lain.

"Maaf Kak, saya tidak sengaja! Saya terburu-buru!" Anak laki-laki itu berusaha bangkit seraya memunguti atribut MOS yang terlepas dari badannya saat bertubrukan dengan Badai tadi.

"Ouch, lututku sakit!" Badai meringis.

"Mari, Kak, saya bantu!" Anak berseragam SMP itu pun memapah Badai.

"Makanya punya mata jangan taruh di dengkul! Uh, apes banget deh gue hari ini!" Rutuk Badai kesal.

"Saya kan sudah minta maaf Kak!" Wajah anak itu memelas.

"Maaf sih ma…" Belum selesai ia berkata hendak mencaci-maki, Badai terkesima.

"Kamu…" Badai terdiam sesaat.

"Kenapa dengan saya, Kak?" Tanya anak baru itu dengan pandangan heran.

"Wahahaha.." Badai terpingkal-pingkal.

"Kamu lucu! Kok mau sih, pakai kalung bawang putih & make up merah putih kaya badut! Memang di sekolah ini banyak vampirnya ya Dek!"

"Yee.. Namanya juga sedang mengikuti kegiatan Masa Orientasi Siswa, Kak!" Cibir anak itu keki.

"Kak, saya permisi ya, soalnya lagi buru-buru nih!" Anak itu bergegas meninggalkan Badai.

"Woy, tunggu, aku belum tahu nama kamu! Urusan kita belum selesai!" Teriak Badai sambil berjalan tertatih.

"Namaku Obby, Kak! Obby Afrizon!" Anak itu terus berlari tak lagi menoleh.

"Hmm… Obby, Obby Afrizon nama yang lucu juga aneh! Pasti dia lahirnya di Afrika deh!" Badai berbalik, ia teringat akan niatnya untuk menemui para wakil kepala sekolah di ruang guru.

Tok! Tok!

"Permisi Bu!"

"Ya, masuk! Ada apa ya?" Bu Sri Sudaryanti wakasek kurikulum tengah mengemasi berkas di atas meja kerjanya.

Badai mencium tangan Bu Sri.

"Bu, saya mau tanya, apa benar kalau anak-anak yang masuk di kelas XI IPA A itu adalah anak yang nilai rata-rata rapornya di atas 8,5?" Tanya Badai hati-hati.

"Iya betul!" Bu Sri memasang kacamata yang terlipat di atas meja ke wajahnya.

"Kenapa Badai?" Gantian bu Sri bertanya.

"Anu…" Entah mengapa perasaan gugup menyelimuti hati Badai.

Tiba-tiba saja ia merasa kehilangan kata-kata yang sudah dirancangnya untuk menghadap Bu Sri Sudaryanti, wakasek kurikulum yang terkenal sangat teliti dalam pelajaran akuntansi di sekolah. Sayang di kelas XI ini Badai tidak akan diajar lagi oleh beliau. Enggak mungkin kan ada pelajaran akuntansi di kelas program IPA? Ditambah pembawaan Bu Sri yang cerewet membuat nyali Badai ciut untuk berbicara, hmm menjadi suatu keuntungan bagi Badai tidak diajar lagi oleh guru yang super cerewet. Pasalnya ia tidak terlalu menyukai guru yang  sering berceloteh memberi petuah-petuah kepada siswa.

Tetapi dalam kondisinya saat ini, suka tidak suka, mau tidak mau, Badai harus berbicara kepada Ibu Sri Sudaryanti. Mengajukan gugatan untuk mutasi kelas bahwa Badai telah ditempatkan di kelas yang tidak semestinya.

"Anu Bu…" Badai masih gugup.

Berulang kali ia mengatur nafas agar kondisinya menjadi stabil dan ia dapat berbicara dengan lancar.

"Memangnya kenapa dengan anumu?" Bu Sri memegangi sebelah frame kacamatanya setengah terlepas. Bola matanya sengaja dipamerkan membesar.

Haha… Ternyata Bu Sri doyan bercanda juga. Ditanya seperti itu lantas membuat Badai semakin grogi.

"Ergh, maksud saya begini Bu…"

"Maksudmu, nilai rata-rata rapormu memenuhi kriteria untuk dapat masuk kelas XI IPA A, begitu?"

PLASS!!

Lega rasanya bagi Badai. Ternyata Bu Sri dapat membaca apa yang sedang berkecamuk dalam pikiran Badai saat ini.

"Iya Bu, tetapi saya malah ditempatkan di kelas XI IPA B. Bagaimana ini Bu?" Tampaknya keberanian Badai mulai timbul.

"Hmm.. Sebenarnya bukan hanya kamu yang terpaksa Ibu tempatkan di kelas XI IPA B! Masalahnya kapasitas jumlah siswa di kelas XI IPA A maksimum hanya 36 orang. Dan ini sudah full! Sehingga mohon maaf bila Ibu terpaksa menempatkanmu di kelas XI IPA B!" Bu Sri menimpali dengan tatapan enteng.

"Tapi saya ingin masuk kelas XI IPA A, Bu!" Badai mulai mengutarakan hasratnya.

"Tidak apa-apa Badai di kelas XI IPA B pun! Toh, di kelasmu itu juga masih ada sebagian yang nilai rata-rata rapornya di atas 8,5! Kamu tidak usah cemas ya Badai!" Bu Sri beranjak dari tempat duduknya.

"Atau kamu mau dipindahkan ke kelas XI IPA E?" Tawar Bu Sri seraya tersenyum mengembang.

XI IPA E? Konon posisi kelas tersebut dalam denah sekolah Badai terletak di samping toilet siswa. Dan sudah tak diragukan lagi, aroma WC pun tercium hingga ke ruang kelas itu. Hiii… Badai bergidik jijik.

"Bu, tak bisakah saya dipindahkan ke kelas XI IPA A?" Badai mulai bernegosiasi.

"Apa sih yang memotivasi kamu supaya bisa masuk kelas XI IPA A?" Kulik Bu Sri dengan pandangan curiga.

"Engh… Itu… Itu…" Badai kembali kehilangan kata-kata.

"Begini Bu, Ibu kan tahu sendiri kalau kelas XI IPA B itu ada di sebelah kantin, otomatis bau masakan menyebar ke ruang kelas itu Bu! Saya ini termasuk tipe anak yang tidak bisa belajar kalau mencium aroma masakan, Bu!" Badai mencoba berkelakar.

Bu Sri berpikir sejenak. Lalu…

"Ibu tak bisa mengambil keputusan sendiri Badai! Karena Ibu juga harus membicarakannya dengan Pak Ruspita, wakasek kesiswaan!"

JLEGH!

Benar dugaannya masalah ini harus dibicarakan dengan dua orang wakil kepala sekolah sekaligus.

Neeet… Neeet… Neeet…

"Nah, bel sekolah sudah berbunyi. Sebaiknya kamu lekas berbaris di lapangan agar tidak terlambat mengikuti upacara tahunan!" Bu Sri mendorong tubuh Badai keluar ruangan.

"Tapi Bu, saya berharap untuk benar-benar bisa masuk kelas XI IPA A!"

Bu Sri menutup pintu kantornya. Ia menyamai langkah Badai di depannya.

"Begini saja Badai, sebenarnya keputusan pembagian kelas itu sudah final. Tidak dapat diganggu gugat! Tetapi Ibu bisa memberi kamu kompensasi, bila ada anak di Kelas XI IPA A yang bersedia bertukar kelas denganmu, maka permintaanmu akan Ibu kabulkan!"

"Tidak ada cara lainkah Bu?" Badai terus memaksa.

"Hanya itu satu-satunya cara untuk kamu supaya bisa masuk kelas XI IPA A!" Tegas Bu Sri.

=••00¤00••=

"Huah lega rasanya bisa bebas! Bosan tiap kali upacara hari Senin, apa yang disampaikan oleh kepsek selalu kata-kata 'Pake otakmu! Bukan dengkulmu!' Fiuh enggak ada kalimat favorit yang lain lagi apa?" Badai ngedumel seorang diri.

Ia melangkah memasuki ruang kelas yang tak diinginkannya.

"Sebenarnya sih kelas ini enggak jelek juga! Tapi karena gue enggak sekelas sama…" Badai mendesah.

"Wey, kenapa ngomong sendiri cuy? Lu lagi stress ya?" Celetuk seseorang yang berjalan di belakang Badai.

"Hati-hati cyn, stress bisa menyebabkan gangguan kejiwaan!" Timpal anak yang lain.

"Can-cyn! Can-cyn! Emang eike cowok apaan?" Sungut Badai sebal.

Kontan gerutuan Badai disambut gelak tawa seisi kelas.

"Walah, enggak ada bangku kosong lagi apa?" Badai celingak-celinguk mengamati susunan meja kursi dalam kelas.

Hampir semua meja dan kursi sudah terisi oleh para siswa yang datang lebih dulu. Tadi pagi Badai tidak sempat mencari tempat duduk di kelas ini karena ia telah terobsesi untuk dapat mutasi ke kelas XI IPA A. Ia terlalu berambisi untuk dapat duduk satu kelas dengan Mario.

"Badai, lu nyari meja kosong? Nih, di sini!" Sorak seorang cewek.

Badai menghampiri meja yang telah ditunjuk. Ia meletakkan tasnya di laci meja yang terbuka. Saat ia akan merebahkan pantatnya di kursi…

"Kamu…"

"Iya, kenapa?" Sahut si empu kursi sebelah.

Badai bergidik ngeri, ia teringat kejadian tadi pagi. Gadis jutek berwajah masam yang kakinya terinjak olehnya saat ia membaca papan informasi. Sekarang menjadi teman satu kelasnya, bahkan menjadi teman satu meja dengannya.

"Kenapa bengong Dai?" Cewek yang tadi bersorak memanggilnya mengibas-ngibaskan telapak tangannya di hadapan wajah Badai.

Cewek itu duduk persis di depan kursi Badai.

"Oh, eh…" Badai terkesiap.

"Lu terpana sama yang duduk di sebelah lu ini ya?" Goda cewek itu pada Badai.

What, terpana? Ketakutan malah iya, batin Badai.

"Oh, ya kenalin gue Camelia! Cewek yang duduk di sebelah lu ini dah kenal kali ya?" Camelia melirik si gadis jutek.

"Emang dia siapa?" Badai melongo.

"Ah, elu Dai, mentang-mentang populer di sekolah, sengak ya, pura-pura kagak kenal sama kembang sekolah!" Camelia menyikut bahu Badai.

"Siapa sih yang enggak kenal sama Kedasih, gadis bertangan besi di SMA tercinta kita ini!" Camelia melirik ke arah Kedasih untuk ke sekian kalinya.

Merasa sedang dibicarakan, Kedasih pun berdeham.

"Bertangan besi?" Badai keheranan.

"Ah, lu beneran kagak tahu dia, apa?" Camelia melonjak.

Perhatian seisi kelas sempat tersedot oleh lonjakan Camelia yang sangat surprise itu.

Badai memberi isyarat telunjuk di depan bibirnya agar Camelia bicara tidak terlalu gaduh.

"Sst.. Kedasih ini bukan anak perguruan bela diri mana pun, tapi konon katanya dia pernah mematahkan tangan beberapa orang cowok yang mencoba berniat jahat padanya! Gila, kebayang nggak sama lu, gimana hebatnya dia?!" Camelia berbisik pelan di telinga Badai, namun sangat jelas terdengar.

Badai mencuri-curi pandang pada Kedasih yang sedang mengalihkan pandangan dan mengobrol dengan teman yang duduk di seberang mejanya.

Badai semakin bergidik ketakutan.

"Semoga besok gue dipindahkan ke kelas XI IPA A deh!" Harap Badai dalam hati.

"Camelia, gue bisa gak pindah duduk sama lu?" Badai berbisik di telinga Camelia.

"Kenapa lu Dai, masa cuma dengar cerita gue aja lu langsung takut gitu sih?" Camelia mengerutkan kening.

"Masalahnya tadi pagi gue dah bikin masalah sama dia!"

"Tenang aja Dai, masalah lu sama dia bukan masalah kriminal kan?" Camelia memastikan.

"Jadi lu gak usah takut lagi lah sama dia! Hati-hati loh, lama-lama rasa takut lu itu nanti bisa berubah jadi perasaan cinta sama dia!" Camelia menepuk bahu Badai seraya tersenyum menggoda.

"Eh, Dai, gue senang banget bisa sekelas sama lu, udah lama gue pengin belajar vokal sama lu! Lu mau kan ajarin gue nyanyi?" Tatapan mata Camelia mengerjap-ngerjap penuh arti.

"Wah, sayang ya Camelia, lu baik sama gue! Tapi mungkin besok gue dah enggak di kelas ini lagi! Gue besok mau pindah ke kelas XI IPA A. Hari ini gue mesti nyari anak di kelas XI IPA A yang mau tukeran kelas sama gue!" Badai membatin. Ia berbicara pada dirinya sendiri.

"Gimana Dai? Lu mau kan ngajarin gue olah vokal? Gue pengin banget bisa pintar nyanyi kaya lu! Terkenal satu sekolah, wah asyik banget pasti tuh!" Camelia berangan-angan.

"Selamat pagi anak-anak!" Sapa suara seorang wanita setengah baya berperawakan gemuk dengan betisnya yang besar memasuki ruangan kelas.

"Maafkan kalau kedatangan Ibu pada hari ini terlambat!" Wanita itu berdiri di muka kelas.

Penampilannya sangat rapi dan sopan. Karena badannya yang gemuk ia memiliki dua lipatan di bawah dagunya. Rambutnya keriting diikat dengan sehelai kain pengikat rambut bermotif bunga-bunga.

"Enggak apa-apa Bu, biasalah Jakarta macet kan Bu?" Seloroh seisi kelas dengan nada bercanda mencoba mengakrabkan diri dengan guru yang tampak asing ini. Baru kali pertama mereka berjumpa.

"Maklumlah Bu, pembangunan monorail di Jakarta masih belum selesai kan? Nanti kalau saya jadi menteri, akan saya buat jembatan Kaliwa supaya bisa menghubungkan Pulau Kalimantan dengan Jawa!" Lanjut anak yang bergurau tadi disusul gelak tawa seisi kelas.

"Iya, nunggu elu jadi menteri Pulau Jawa keburu tenggelam men! Noh, gunung-gunung berapi di Jawa dah pada ngadat terus!" Timpal Camelia asal tak kalah sengit.

"Sudah, sudah, semuanya harap tenang! Sebelumnya perkenalkan, nama saya Sugeng Saraswati Sosroamijoyo! Saya baru saja dimutasikan ke sekolah ini dari SMAN X!" Wanita itu kembali mengeluarkan suara begitu mendayu-dayu berirama merdu di telinga setiap orang yang mendengarnya.

"Weleh-weleh, bapaknya Ibu masinis ya? Nama Ibu panjang amir kaya kereta! Si Amir aja anunya enggak panjang-panjang gitu," Goda seorang siswa dengan tatapan genit kepada teman yang duduk di sebelahnya dan kebetulan bernama Amir.

Sontak seluruh perhatian tertuju kepada siswa yang bernama Amir di kelas ini. Dan tertawa terpingkal begitu Amir ternganga menjadi bahan lelucon teman sebelah mejanya.

"Hehe, nama Ibu sebenarnya hanya Sugeng Saraswati! Sedangkan Sosroamijoyo itu nama belakang suami Ibu. Tapi kalian bisa panggil Ibu cukup Ibu Sugeng saja!" Bu Sugeng menebar senyuman ramah.

"Wow, Bu Sugeng men! Susunya ageng!" Celetuk salah seorang siswa kurang ajar dengan suara berbisik.

Sontak, teman-teman yang dibisikinya pun tertawa cekikikan.
"Jagoan cewek pula men!" Sahut teman yang lain tak kalah kurang ajar masih dengan suara berbisik.

Tiba-tiba salah seorang siswa bertampang preman, dua kancing teratas kemeja seragamnya sengaja tidak dikancingkan, ia mengacungkan jari.

"Bu Guru, berarti kalau kami ada perlu dengan Ibu, kami harus menghubungi 008 ya?" Celetuk si preman yang tidak diketahui namanya dengan spontan.

Tawa pun kian meledak membahana ke seluruh ruangan. Para pedagang dari kantin sebelah berusaha mengintip melalui jendela kelas, kehebohan apa yang sedang terjadi di kelas XI IPA B.

"Saras 008!" Seru salah seorang siswa pada si Amir.

"Bagi yang memerlukan kontak Ibu, silakan menemui Ibu di luar jam pelajaran. Karena kebetulan Ibu ditunjuk oleh bapak kepala sekolah untuk menjadi guru wali kelas di kelas XI IPA B ini!"

"Horeee…" Sorak riuh-rendah seisi kelas diiringi tepuk tangan nan meriah menyambut pengumuman tersebut.

Sebenarnya masih terdapat segelintir siswa kurang ajar yang berceletuk macam-macam perihal wali kelas mereka ini,  seperti,

"Suaminya Bu Sugeng pasti tukang jualan teh botol! Tuh, dari namanya saja sudah kelihatan SOSROamijoyo!"

Tapi suasana yang semakin akrab mengingatkan bahwa mereka sedang berada dalam forum lingkungan sekolah.

"By the way, Ibu mengajar pelajaran apa nih Bu? Biologi ya Bu?" Terka seluruh siswa.

"Ibu mengajar dua mata pelajaran, yaitu matematika dan seni budaya! Jadi bagi kalian yang merasa jenuh dengan pelajaran hitung-hitungan, kita bisa berhibur diri di pelajaran seni budaya!"

"Untuk jam pelajaran hari ini kebetulan adalah seni budaya, bagaimana kalau kita bernyanyi? Adakah di antara kalian yang berbakat menyanyi?" Tatap Bu Sugeng satu-persatu seluruh siswanya.

Semua mata tertuju pada Badai.

"Di sekolah ini yang terkenal jago nyanyi Badai, Bu," Camelia unjuk suara seolah mempromosikan Badai.

"Woo, hati-hati Bu, kalau Badai nyanyi, bisa-bisa kelas ini jadi ambruk," gurau si preman tadi.

Sayang, kali ini tak ada lagi yang tertawa. Apalagi terpingkal dan terkekeh. Semua terdiam tatkala Bu Sugeng memberi kode untuk tenang kepada semua murid dalam ruangan.

"Di kelas ini, siapa yang bernama Badai?" Tanya Bu Sugeng.

"Saya Bu," Badai bangkit dari duduknya.

"Bagus, dengan cara seperti ini Ibu dapat mengenal kalian satu-persatu," Bu Sugeng memegang bahu Badai dari belakang.

"Rasanya kita pernah bertemu sebelumnya ya?" Sapa Bu Sugeng pada Badai seakan sudah mengenalinya.

Badai mengangguk.

"Kamu yang juara vokal solo  tingkat provinsi bulan lalu kan?" Bu Sugeng mengingat-ingat.

"Kebetulan sekali anak-anak, Ibu pernah menjadi juri kontes vokal solo tingkat provinsi!"

Oooo… Gemuruh seisi kelas membulatkan suara.

"Nyanyi! Nyanyi! Nyanyi!" Daulat seisi kelas pada Badai.

Ditatapnya sekilas wajah Bu Sugeng, yang dibalas dengan sebuah anggukan. Tak lama kemudian Badai pun bernyanyi menembangkan lagu

Prok! Prok! Prok!

Tepuk tangan seisi kelas mengantar Badai ke posisi tempat duduknya.

"Badai I love you!" Histeria beberapa orang siswi seraya mencubiti pipi Badai gemas.

Tak kalah dengan para siswa, tubuh mereka nyaris terkapar karena terlena mendengar kemerduan dan kelembutan suara Badai yang begitu mempesona. Sungguh suara yang teramat dahsyat. Wajar saja bila Badai berhasil menyabet juara vokal solo di tingkat provinsi. Dan menurut rencana Badai akan dikirim untuk mewakili provinsi menuju kontes vokal solo di tingkat nasional.

Badai duduk kembali di kursinya, ia sempat menengok ke arah Kedasih si gadis jutek yang duduk di sebelahnya. Aneh, aura yang dipancarkan Kedasih yang sebelumnya terlihat menyeramkan bagi Badai, kini berubah menjadi lebih ramah. Badai mengucek matanya, apakah ia telah salah lihat? Tidak, Kedasih benar-benar tersenyum padanya walau hanya seutas senyuman simpul. Sepertinya setelah penampilan Badai bernyanyi di hadapan teman-teman sekelas tadi, Kedasih mulai mempunyai sedikit perasaan kagum kepada Badai.

Badai mencoba menerka-nerka makna senyuman yang dilontarkan Kedasih itu.

“Kenalkan namaku Kedasih Amelia!” baru kali ini pula Kedasih berkenan mengulurkan tangannya pada Badai setelah peristiwa yang tidak mengenakkan di antara keduanya beberapa jam yang lalu.

Badai menyambut uluran tangan Kedasih,” Kamu sudah tahu namaku kan? Badai Ombak Samudra.”

Kedasih tersengih, tawanya nyaris meledak kalau saja tangannya tidak berhasil menutup rapat mulutnya. “Nama kamu lucu ya? Pasti ibu kamu melahirkan kamu di tengah laut ya?”

Badai hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman. “Silakan tertawa jika memang namaku aneh menurutmu!”

Sirna sudah perasaan takutnya kepada Kedasih, gadis bertangan besi.

Camelia melirik,”Cie..cie..kenalannya baru sekarang sih?” sindir Camelia seraya tersenyum.

Terdengar suara Bu Sugeng memanggil nama Amir untuk tampil bernyanyi ke depan kelas. Camelia masih belum beranjak dari pandangannya kepada Badai dan Kedasih yang duduk di belakangnya.

“Camelia… maafkanlah aku!” Amir mulai bersenandung membawakan salah satu judul milik penyanyi Irwansyah.

Seisi kelas mulai menyoraki ke arah Camelia. Detik itu juga Camelia berubah tersipu-sipu malu. Ia sama sekali tak menyangka akan menjadi objek sasaran Amir saat bernyanyi, sungguhkah Amir memendam perasaan kepadanya?

==00♥00==

Pak Ruspita wakasek kesiswaan memanggil Badai untuk menemuinya di penghujung jam istirahat ke-2. Senada dengan Ibu Sri Sudaryanti yang terbilang tegas, Pak Ruspita lebih dikenal sebagai sosok guru yang tidak neko-neko. Artinya tidak banyak tawar-menawar. Jadi keputusan yang akan diambil untuk pengajuan mutasi kelas oleh Badai hanya YA atau TIDAK!

“Bapak dengar dari Bu Sri, kamu minta pindah kelas ya?” tanya Pak Ruspita to the point.

Badai mengangguk,”Betul Pak!”

Pak Ruspita menatap Badai lekat,”Padahal Bapak sengaja menempatkanmu di kelas XI IPA B supaya kamu bisa berlatih vokal lebih intens dengan Bu Sugeng! Bulan depan kamu berangkat mewakili provinsi loh!”

Badai tidak mengacuhkan perkataan Pak Ruspita, baginya yang diinginkan olehnya saat ini adalah bisa sekelas dengan Mario, cowok paling ngetop di sekolah.

Badai menundukkan kepala tak berani membalas tatapan guru olah raganya itu,”Jadi saya tidak bisa pindah ke kelas XI IPA A ya Pak?”

“Tadi pagi Bu Sri sudah bilang apa padamu?” kulik Pak Ruspita.

“Beliau memberikan kompensasi bahwa bila ada anak kelas XI IPA A yang bersedia bertukar kelas dengan saya maka saya diperbolehkan untuk bertukar kelas dengan anak itu,” Badai masih tak kuasa mengangkat dagunya sedikit lebih tinggi.

“Kamu mau pindah sekarang? Atau mau pindah besok?” tanya Pak Ruspita seolah telah mengabulkan keinginan Badai tanpa memenuhi kompensasi yang diberikan oleh Bu Sri.

“Maksud Bapak?” Badai mulai menatap pandangan Pak Ruspita, dalam benaknya masih terbersit rasa heran.

“Kalau kamu mau masuk di kelas XI IPA A sekarang juga, silakan masuk jam terakhir sehabis jam istirahat ini!” Pak Ruspita mengepulkan asap rokok yang dihisapnya ke luar jendela.

“Saya bertukar kelas dengan siapa Pak?” tatapan Badai berbinar, ia merasa senang keinginannya telah dikabulkan oleh para wakasek.

“REVALDO MARIO!” jawab Pak Ruspita datar.

Badai mendadak tercengang seakan ada duri tersangkut di kerongkongannya,”Hah? Eng, maaf Pak, maksud Bapak yang bertukar kelas dengan saya itu adalah Mario? Kapten tim basket sekolah kita? Anak yang terpilih mengikuti lomba pidato Bahasa Inggris tingkat nasional itu, Pak?”

Pak Ruspita hanya menganggukan kepala sekali untuk menjawab serentetan pertanyaan yang dikemukakan oleh Badai.

Tubuh Badai terasa lunglai, padahal tujuan ia pindah kelas adalah ingin satu kelas dengan Mario, tetapi mengapa justru malah Mario ingin pindah ke kelas XI IPA B?! Badai mencoba mengingat-ingat sesuatu kejadian yang baru saja dialaminya semenjak pagi ia berangkat sekolah dengan Mario. Tetapi yang ia ingat hanya sebuah perasaan kalau Mario kurang menyukai kedekatannya. Mario terlihat terburu-buru berangkat ke sekolah tadi pagi.

“Pak, maaf, kalau boleh tahu lagi, apakah Mario tahu kalau dia bertukar kelas dengan saya?” selidik Badai hati-hati, ia khawatir Pak Ruspita akan balik mencurigainya.

“Saat kamu menemui Ibu Sri, Mario pun menemui saya, mengutarakan hal yang sama denganmu!. Tapi sampai sekarang saya belum bertemu lagi dengan Mario, tampaknya ia sangat sibuk menjadi panitia kegiatan MOS!” Beber Pak Ruspita detail.

Syukurlah, Mario belum mengetahui hal ini. Batin Badai dalam hati.

“Maaf Pak, saya tidak mau bertukar kelas dengan Mario. Terus terang, tujuan saya pindah ke kelas XI IPA A, agar saya dapat bersaing secara kompetitif dengan Mario!”

Pak Ruspita tertawa terpingkal,”Memangnya kamu mau bersaing dalam hal apa dengan Mario? Setiap orang itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, Badai. Tanpa harus sekelas dengannya pun kalian tetap dapat berkompetisi di bidang masing-masing kan? Jangan-jangan Mario mengajukan pindah kelas pun karena mempunyai motivasi yang sama denganmu? Kalau begitu pengajuan kalian berdua saya tolak!”

“Tapi Pak…” belum sempat Badai memohon, Pak Ruspita telah beranjak pergi memasuki sebuah ruangan dan menutup pintu ruangan tersebut tanpa memberi kesempatan pada Badai untuk menyelesaikan pembicaraannya.

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s