Posted on

Namamu Kupinjam (Episode 2)

Namamu Kupinjam 2

Badai melangkah lunglai, ia masih tertatih-tatih karena kejadian tubrukan dengan siswa baru yang bernama Obby Afrizon tadi pagi.

"Badai, bisa minta waktu enggak, sebentar?" Seorang cowok tinggi tegap menepuk bahu Badai dari belakang.

"Eh, ya, ada apa Kak?" Badai membalikan badan menghadap orang yang menepuk bahunya.

Ia sangat mengenal suara yang menyapanya itu. Dia tak lain adalah Triko, kakak kelasnya,   ketua OSIS yang tidak lama lagi akan segera lengser dari jabatannya.

"Rencananya hari Kamis nanti OSIS mau mengadakan puncak acara Masa Orientasi Siswa, kami mau mengadakan pentas seni gitu, kamu bisa enggak mengisi acara di pentas seni nanti?" ratap Triko penuh harap.

Dipandang seperti itu membuat Badai salah tingkah. Entah apa yang terjadi dalam dirinya.

"Maksud Kakak?" Badai belum mengerti.

"Kamu nyanyi di pentas ya?" Tangan Triko memberi sembah.

"Please!" Imbuhnya.

Belum sempat menjawab permintaan Triko, sesosok tubuh jangkung lain turut menghampiri.

"Gimana Dai, kamu bisa enggak mengisi acara pentas seni hari Kamis nanti?" Kali ini suara si jangkung yang berbicara.

"Mario…" Lidah Badai mendadak kelu.

"Jadi kamu mau kan?" Tanya Triko dan Mario hampir bersamaan.

"He-eh deh," Badai mengangguk.

"Oke, thanks ya Dai, kalau ada perlu apa-apa kamu hubungi aku ya! Oya kelasku sekarang XII IPA D," Triko mengusap bahu Badai kemudian berlalu dari hadapannya begitu saja.

Mario mengintip ke dalam ruang kelas XI IPA B. Ia tampak seperti mencari-cari seseorang.

"Kamu cari siapa Mario?" Badai mendekat ke arah Mario.

"Ah, enggak! Dah ya, aku mau balik ke peserta MOS!" Mario langsung berbalik tanpa mempedulikan Badai yang ingin berbicara dengannya.

"Jiah, lagi-lagi gue dikacangin, so jaim banget sih tuh anak!" Dengus Badai kepada dirinya.

¤¤••00••¤¤

"Sayang, tadi aku ketemu anak baru, wajahnya itu imut kaya kamu. Unyu-unyu gitu deh, terus pikiran aku jadi melayang mikirin kamu. Coba kamu ada di sini pasti aku enggak bakal mau pisah sama kamu," suara di ujung telepon terdengar mabuk asmara.

Badai merangkul guling tidur kesayangannya yang senantiasa menemaninya di kamar setiap hari.

Badai mendesah, "Ih sayang, awas loh nanti kamu tergoda sama anak baru itu! Aku enggak rela kalau kamu selingkuh, pokoknya kalau sampai macam-macam di belakang aku, lebih baik kita putus," ancam Badai.

"Iih, kamu kok jadi ngambek gitu sih sayang? Kamu cemburu ya? Jangan takut dong sayang, cintaku hanya ada untuk kamu!"

Badai mengelus hpnya ke dada, ia terbuai oleh gombalan-gombalan suara di ujung telepon.

"Ah, andai saja ini semua sungguh nyata!" Desah Badai.

Ditatapnya wajah si penelepon di layar facebook via komputer.

"Kak Triko, kamu ganteng banget sih!" Gumam Badai lirih.

Badai pun mulai berfantasi seolah-olah Triko datang padanya dan bercumbu-rayu dengannya.

"Badai, kamu di kamar Nak?" Panggil Ibunda Badai di balik pintu kamar.

Aarrrgh….SIAL!

"Iya, Bu," Badai membuka pintu kamarnya.

"Kamu ke minimarket di ujung kompleks ya, tolong belikan Ibu tepung terigu 5 kg! Masalahnya Ibu enggak bisa meninggalkan dapur, ada kue yang sedang Ibu panggang,"

Badai menerima selembar uang bergambar dua tokoh proklamator negara ini. Dia berjalan gontai menyusuri jalanan kompleks perumahannya.

Secara kebetulan dia melintasi lapangan basket. Di sana ada Mario dan beberapa orang remaja kompleks seumurannya. Seperti biasa Mario selalu bergaya cuek kepada Badai.

"Badai, main basket yuk sama kita!" Ajak salah seorang di antara mereka kepada Badai.

Badai terpana, seumur-umur baru kali ini ada remaja kompleks yang mau mengajaknya bermain basket.

Badai menyunggingkan senyuman pada anak yang mengajaknya tadi. Tak disangka anak itu pun membalas senyumannya. Sungguh manis. Mario memang cool, tapi anak yang baru membalas senyumnya itu lebih manis daripada Mario. Mungkin karena Mario jarang tersenyum kepadanya, pikir Badai.

"Maaf Rud, aku harus belanja disuruh ibuku," Badai melengos.

Ternyata jawaban Badai disambut gelak tawa genk Mario.

"Yo, teman sekolahmu itu anak mami banget seh? Dia enggak pernah gabung sama kita-kita," ejek seorang anak yang bernama Nico pada Mario.

Nico sebenarnya adalah teman satu sekolah juga dengan Badai dan Mario. Hanya saja Nico masuk program IPS.

"Termasuk teman elo juga kalee! Biar pun satu sekolah gue sama Badai kagak akrab banget dah!" Elak Mario.

"Loh, bukannya kamu sama Badai berteman sejak SD? SD, SMP, dan SMA kalian satu sekolah terus kan? Masa kalian enggak akrab sih?" Rudy si anak bersenyum manis tadi melontarkan pertanyaan bertubi-tubi.

Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mario.

"Ya, gue kan sama Badai dari SD enggak pernah satu kelas, men! So ngapain gue mesti akrab sama dia?" Mario mengerling.

"Tapi kok lo tahu sih kalau gue dari SD satu sekolah terus sama Badai? Padahal elo tinggal di kompleks ini baru 3 bulan. Hayoo..elo perhatian ya sama si Badai?" Tuding Mario ke muka Rudy.

"Pake ngajakin si Badai main basket sama kita lagi!" Seru Nico disusul gelak canda cemoohan yang lain.

"Ah, enggak, kebetulan saja aku sama Badai berteman di FB. Waktu aku mengkonfirmasi permintaan pertemanan dengan Mario, dia nge-add aku! Ya, aku konfirmasi sajalah. Enggak ada salahnya kan berteman sama dia, toh kelihatannya dia anak baik-baik. Ya, dari cerita dia, aku tahu kalau kamu satu sekolah terus sama Badai sejak SD," ungkap Rudy berterus-terang.

"Ueh, ceritanya elo jadi teman curhat dia nih?" Goda Rifkan salah seorang anggota genk Mario.

"Memangnya kenapa sih kalian pada mengucilkan Badai?" Rudy penasaran.

"Mengucilkan sih enggak. Hanya saja dia sendiri yang suka bersikap aneh. Dan dia termasuk tipe anak yang tertutup, enggak mau gaul dengan kita di sini." Beber Rifkan.

"Kalau aku ajak dia gabung sama kita, gimana?" Rudy menarik satu alisnya lebih tinggi.

Nico melempar basket ke arah Rudy.

"Terserah elo aja deh!" Sahut Nico cuek.

"Tuh, dia lewat lagi" seru Mario.

"Badai, habis belanja kamu balik ke sini ya! Rudy pengin curhat sama kamu!" Goda Nico cekikikan.

Muka Rudy bersemu kemerahan.

"Apaan sih?" Sentil Rudy melemparkan bola ke dalam keranjang.

"Kyahahaha…" Semua pun tergelak.

Hanya Badai yang terpaku sesaat, kemudian ia melanjutkan langkahnya pulang ke rumah.

"Kenapa sih, aku tidak punya kemampuan di bidang olah raga? Tidak ada satu pun permainan olah raga yang aku kuasai." Rutuk Badai kepada dirinya sendiri.

Ia melempar bantal berbentuk boneka lumba-lumba berwarna biru muda ke atas kasur. Direbahkannya tubuhnya yang penat ke pembaringan hingga akhirnya kedua matanya mengatup rapat dan terlelap.

17.00

"Maafin teman-teman ya, atas kejadian tadi siang,"

Muncul panel chat di pojok bawah sebelah kiri facebook Badai. Dari Rudy.

"Enggak ada yang perlu dimaafkan kok, memangnya kalian salah apa?" Balas Badai.

"Ya, tadi kan mereka ngolokin kamu,"

Badai tersenyum kecut. Hatinya sedih tetapi juga senang. Sedih karena menjadi ejekan para remaja kompleks. Senang karena bisa dekat dengan Rudy, cowok bersenyum manis. Badai menerawang, andai saja Mario bisa bersikap semanis Rudy. Pasti tidak akan sulit baginya untuk dapat dekat dengan Mario.

"Badai, kamu masih di situ?" Panel Mario bergeser ke kanan atas.

"Eh, oh, iya. Gak apa-apa kok!" Badai membalas permintaan maaf Rudy.

"Thanks ya Dai. Oh, iya kapan-kapan aku boleh main ke rumahmu?" Rudy merasa lega.

"Boleh," Ketik Badai singkat di layar panel chat.

"Oke, sip. Kalau gitu aku minta nomor hp kamu dong. Boleh kan?" Rudy semakin bersahabat.

"Aku kirim lewat ps ya," balas Badai cepat.

"Oke bro! Makasih ya dah mau anggap aku sebagai teman," Rudy menutup chatnya sore itu.

Badai tersenyum-senyum sendiri. Seharusnya ia yang berterima kasih pada Rudy karena Rudy sudah bersikap baik padanya sejak Rudy datang sebagai pendatang baru di kompleks perumahan Badai tinggal.

Badai terus berseluncur di layar facebook. Sejenak ia teringat pada kejadian tadi pagi, peristiwa tubrukan dengan seorang siswa baru yang mengaku bernama Obby Afrizon. Diketiknya nama itu di kolom pencarian. Mulai dari mengetik kata Obi Afrizon, hasilnya nihil. Kemudian menggantinya dengan Oby, masih sama. Hingga beberapa saat ia terus berkutat dengan layar facebook. Ah, lama-lama Badai merasa jenuh juga. Ketika ia akan log out dari akunnya, perhatiannya tersita oleh sebuah status terbaru yang diupdate oleh Mario.

"AKU JATUH CINTA! Tuhan kumohon bisikkan padanya bahwa aku telah jatuh cinta padanya. Melalui angin yang berhembus lembut, melalui gerimis yang membasahi bumi, melalui sinar mentari yang menghangatkan tubuhnya sepanjang hari dan melalui bulan yang mengantarkannya kepada mimpi indah pada malam hari,"

Begitulah isi status yang baru saja diperbarui oleh Mario. Ih, lebay deh ah, cibir Badai.

Sesaat kemudian mata Badai membelalak begitu melihat jumlah jempol yang diacungkan ke atas untuk status tersebut, ada lebih dari 100 jempol pada status yang disebutnya lebay.

"Aku bisa dapat 20 jempol saja sudah syukur, kok Mario bisa ya dapat hampir 200 jempol hanya dalam waktu 5 menit. Badai berdecak. Dibacanya komentar teman-teman Mario satu-persatu.

Ada yang berkomentar :
"Semoga bisikannya didengar langsung oleh pujaan hatimu ya, Mario!"

"SMS aja bro!" Sahut yang lain.

"Dekati dong! Kalau cuma diam di tempat, dia mana tahu kalau kamu jatuh cinta padanya!"

"Perlu Mak Comblang, panggil saja eike!" Wah, wah, komentator yang ini waria kali ya, bahasanya pakai eike-eike segala.

Badai menggeleng. Satu-persatu komentar ia baca tanpa ada balasan dari si empu status. Kira-kira Mario pergi ke mana ya? Masa statusnya ditinggal begitu saja? Jangan-jangan si Mario lagi boker di WC. Hihihi… Badai tertawa sendiri.

"Kak Mario, makasih dah konfirmasi permintaan pertemanan dari Obby. Lagi jatuh cinta ya Kak? Semoga terbalaskan ya Kak. Good luck for you!^_^" komentar terakhir yang tertera pada kolom komentar.

Yess! Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ini benar-benar Obby anak baru yang menabraknya tadi pagi. Badai kegirangan. Kemudian ia mengklik nama akun si anak baru. Badai terpana.

Foto-foto profil Obby manis sekali penampilannya. Benar-benar cowok imut. Jauh bila dibandingkan dengan penampilan tadi pagi yang memakai atribut MOS. Badai mendownload foto-foto profil Obby yang menurutnya berpenampilan manis. Dalam foto Obby sama sekali tidak terlihat masih SMP, justru ia terlihat seperti sudah SMA.

Lima menit berikutnya Badai log out dari akunnya dan masuk kembali ke jejaring sosial yang sama dengan menggunakan akun yang berbeda. Princess Aurelia.

"Hi, sayang.. Udah ma'em belum?" Tulisnya di dinding seseorang.

Semenit, dua menit tak ada balasan.

Badai mengirim sebuah SMS melalui ponselnya.

"Sayang, kamu lagi asyik BBM sama cewek anak-anak baru di sekolahmu ya? Kok aku nulis di dinding kamu, enggak kamu balas?"

Sent.

"Corry chaiank, aku lagi antar mama ke butik, beli baju baru buat pernikahan tanteku di luar kota. Iya nanti kalau aku udah pulang dari butik, aku buka fb deh. Aku balas pesan dinding kamu!" Inbox. Dari Triko My Love.

"Ah, ya udah kalau gitu aku mo mandi dulu ya say! Nanti malam kita lanjut lagi," Badai mengetik cepat balasannya.

"Mau kumandikan ya sayang?" Triko tak lambat membalas pula.

"Hmm.. Maumu!" Omel Badai.

¤¤||(_0_)||¤¤

Ting Tong! Ting Tong!

Bel pintu depan berbunyi nyaring.

"Badai, ada tamu, bukakan pintunya Nak!" Teriak Ibunda Badai dari lantai atas.

"Iya Bu, ini juga lagi mau dibuka," sahut Badai lemah.

Kriet..

Daun pintu terbuka lebar.

"Siang Dai, baru pulang sekolah ya? Sorry kalau aku ganggu waktu istirahat siang kamu. Sorry juga enggak sempat bilang dulu lewat telepon," senyum manis itu merekah sangat tulus dan sopan, siapa lagi kalau bukan Rudy.

"Enggak apa-apa kok. Sendiri?" Selidik Badai.

"Tuh, lihat! Siapa yang datang sama aku?" Rudy melirik ke arah samping.

Sesosok pemuda berwajah Indo-Eropa dengan tubuhnya yang jangkung sedang duduk di serambi rumah Badai memandangi ikan-ikan peliharaan dalam kolam berukuran kecil.

"Mario…" Desis Badai.

Ia merasa tidak percaya, dua orang cowok ganteng akan datang berkunjung padanya di siang bolong.

"Oh, sampai lupa mempersilakan masuk!" Badai menghampiri Mario dan menyalaminya.

"Tadi pagi kamu enggak jalan kaki lagi ya berangkat ke sekolah?" Badai membuka percakapan dengan Mario.

Mario hanya terdiam, ia asyik mengamati ikan-ikan dalam kolam.

"Mario kan baru saja mendapat motor baru dari ayahnya," Rudy menimpali pertanyaan Badai yang ditujukan pada Mario.

Mario membulatkan bibirnya, ia baru saja mengetahui perihal tersebut.

"Ayo masuk!" Tawar Badai lagi.

Kali ini Mario sudah menyimak apa yang dibicarakan oleh Badai.

"Aku sering dengar suara piano dari rumah ini. Kudengar dari Mario kamu juara vokal solo tingkat provinsi ya Dai?" Rudy menghempaskan pantatnya di atas sofa.

"Iya," sahut Badai singkat.

"Wow, selamat ya Dai. Berarti aku datang tidak ke tempat yang salah," Rudy memancarkan aura paras tampannya. Ia selalu penuh senyum, sehingga tak jemu untuk memandang wajahnya.

"Siapa Dai?" Suara ibunda Badai turun dari lantai atas.

"Eh, Nak Mario. Tumben, main ke mari. Ibumu sehat Nak?" Sapa ibu Badai menyalami Mario.

"Mama sehat tante," Mario menyunggingkan senyum ramah.

Baru kali ini Badai melihat senyum Mario yang begitu indah. Mario terlihat semakin tampan saja dibalut senyumannya itu.

"Rudy enggak disapa, tante? Padahal yang membawa Mario ke mari kan Rudy, tante," Rudy mencium tangan ibu Badai penuh rasa hormat dan santun.

"Angin apa yang membawa kalian ke mari? Jarang loh ada kawan Badai yang berkunjung ke rumah kami ini," Ibunda Badai menghangatkan suasana.

"Oh, ini tante, saya ingin belajar piano dengan Badai. Setiap malam saya mendengar suara permainannya begitu merdu," Rudy mengemukakan niatnya.

"Wah, mohon maaf ya Nak Rudy, kalau suara piano di rumah kami mengganggu ketenangan Nak Rudy!" Ibunda Badai merasa tidak enak.

"Tidak sama sekali tante. Malah saya suka sekali mendengarnya. Maka dari itu saya ingin belajar dengan Badai," Rudy meyakinkan.

Ibunda Badai mengusap dada,"Oh, syukurlah. Sebentar ya, tante ambilkan minum dulu!"

"Tidak usah repot-repot tante. Rumah kita kan dekat!" Sergah Mario tiba-tiba.

"Iya tante, cuma 10 meter saja kok," imbuh Rudy.

"Ya sudah, tante tinggal dulu ke dalam ya. Ada yang harus tante kerjakan. Kalau perlu apa-apa, anggap saja seperti di rumah sendiri!" Ibunda Badai bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan mereka bertiga di ruang depan.

"Oh, jadi ini piano yang sering kamu mainkan ya? Boleh aku coba?" Rudy menghampiri piano bercat hitam mengkilap. Sangat terlihat jelas kalau piano tersebut produk merk terkenal.

"Silakan!" Badai membuka kap penutup pianonya.

"Dai, kulihat tadi pagi kamu masuk kelas XI IPA B. Memang kelasmu di situ ya?" Mario mulai menegur Badai.

"Ya iyalah, kelasku memang di XI IPA B. Aku kan bukan anak jenius seperti kamu yang diterima di kelas XI IPA A," Badai berkata dusta.

Ia tidak ingin Mario sampai membujuknya untuk bertukar kelas.

"Oh, kulihat kamu duduk dengan cewek. Kalau tidak salah dia kan…" Mario tersendat, ia seperti ragu mengutarakan sesuatu.

"Dai, ini tuts dasarnya yang mana sih?" Rudy menyela pembicaraan.

"Sebentar ya Mar!" Badai berbalik mendekati Rudy.

Nada-nada pun mulai mengalun lembut tatkala Badai mulai memainkan sebuah lagu. Rudy duduk di sampingnya, memperhatikan kelincahan tangan Badai dengan saksama.

Tak lama Rudy pun sudah mulai bisa mengikuti gerak lincah Badai memainkan Habanera (Carmen) yang dulu dipopulerkan oleh pianis legendaris Bizet.

"Kamu pernah belajar piano juga ya?" Badai menengok ke arah Rudy.

Rudy terfokus perhatiannya pada tuts piano.

"Dulu sempat ikut kursus sebentar, tapi belum sempat dilanjutkan karena keburu pindah ke sini," ungkap Rudy terus terang.

Mario berdiri memperhatikan, ia masih menantikan keterangan dari Badai.

"Maksudmu Kedasih si tangan besi ya?" Badai beringsut dari posisi duduknya.

Mario tertegun.

"Aku memang duduk dengan dia. Tapi terus terang, menurutku karakternya itu sulit ditebak. Kadang dia jutek, kadang dia baik seperti kemarin. Sedangkan seharian ini aku melihat sikapnya misterius, dia tidak mau berbicara dengan siapapun di kelas. Gadis yang aneh!" Gumam Badai terlebih kepada dirinya sendiri.

"Aneh katamu?" Mario menatap lurus Badai.

Badai terkesiap,"Ada apa denganmu Mario? Apakah kamu menyukai Kedasih? Jangan-jangan statusmu di fb kemarin sore itu maksudnya untuk Kedasih?" Kulik Badai.

Mario membuang pandangan. Tak lama setelah itu ia tersenyum nyengir kuda.

"Kalau kamu perlu perantara mungkin aku bisa," tawar Badai penuh semangat.

Mario berpikir menimbang-nimbang sejenak.

"Memangnya kamu bisa?" Mario tersenyum di kulum.

Semakin sering tersenyum, Mario semakin terlihat cool and handsome.

"Kenapa enggak dicoba?" Tantang Badai.

"Kayanya kamu bisa diandalkan nih," mata Mario berkedip.

"Wow, Dai, kamu punya kolam renang ya? Perasaan di kompleks kita enggak ada yang punya kolam renang deh," seru Rudy tiba-tiba, ia berlari ke halaman samping.

"Baru aja jadi dua hari yang lalu. Sengaja dibikin oleh ayahku supaya aku bisa berenang. Soalnya enggak ada satu pun pelajaran olah raga yang aku kuasai. Ya dengan cara ini setidaknya bisa membuat aku menguasai salah satu cabang olah raga kan," urai Badai gamblang.

Rudy manggut-manggut.

"Wah, boleh dong aku sering-sering berenang di sini?" Celetuk Rudy.

"Kalau mau sekarang juga boleh," Badai duduk di tepian kolam.

"Wah, asyik, nyebur yuk!" ajak Rudy dengan riang.

Rudy sudah menanggalkan kaos dan celana panjang yang dipakainya. Badai sempat terpesona menatap keindahan tubuh Rudy. Ia berdecak kagum, kulit Rudy begitu putih, bersih, dan kenyal. Rudy hanya tinggal mengenakan sebuah celana pendek yang longgar.

Mario menghampiri Badai duduk di tepi kolam. Kedua pasang kaki mereka berendam di dasar air kolam. Mengayun-ayunkan kaki mereka sehingga air pun bercipratan.

Rudy sudah asyik hilir-mudik dari satu ujung kolam ke ujung kolam yang lain. Sesekali ia mencipratkan air ke arah Badai dan Mario hingga membuat pakaian Badai dan Mario menjadi basah. Tak lama kemudian Mario pun menanggalkan kaos yang dipakainya. Setelah melepas celana yang dikenakannya Mario pun menceburkan diri ke dalam kolam. Menyerang Rudy dengan mengunci pergerakannya di dalam air.

Badai ternganga, ia masih tak percaya akan apa yang sedang dilihatnya. Mata Badai sama sekali tak berkedip. Kedua lelaki yang sedang berenang itu sama-sama memiliki tubuh yang indah, berotot walau belum terlalu sixpacks.

Badai sungguh iri, ia sangat ingin dapat berada di tengah-tengah mereka bercanda bersama, tentu sangat mengasyikan. Tanpa disadarinya diam-diam Rudy menarik kedua kaki Badai dari dasar kolam.

BYUURR!!

Badai pun tercebur. Nafasnya megap-megap, kedua tangannya terjulur ke permukaan air, ia sama sekali tak bisa berenang.

Mario dan Rudy mencandainya dengan terus menyorakinya agar dapat mengejar mereka.

"Ayo Dai, kejar kami!" Panggil Mario lantang.

"Mario.. Rudy.. " panggil Badai lemah.

Sebagian air telah masuk ke dalam rongga mulut Badai.
Badai semakin tak berdaya. Sebagian tubuhnya telah terbenam. Perlahan kepalanya mulai ikut tenggelam.

"Wah, Rud, gimana tuh?" Mario mulai panik.

"Yo, memang beneran dia enggak bisa olah raga apa-apa?" Rudy turut cemas.

Dengan sigap Mario menghampiri Badai dan membawanya berenang menepi. Rudy menyusul di belakang.

Mario menekan-nekan dada Badai. Sementara Rudy berusaha memberikan nafas buatan. Sebenarnya Badai masih dalam keadaan sadar, akan tetapi ia telah terlalu banyak minum air di dalam kolam. Dengan nafas buatan yang diberikan oleh Rudy sedikit demi sedikit air yang terminum dapat dikeluarkan dan mulut Badai pun tersedak. Badai terbatuk-batuk.

"Dai, maafin kami ya. Kirain kamu enggak serius enggak bisa olah raga apa-apa," raut wajah Rudy merasa bersalah.

Badai terdiam, pikirannya berkecamuk. Ia tidak percaya apa yang baru saja terjadi padanya. Saat Rudy memberinya nafas buatan, tidakkah kedua bibir mereka telah saling bersentuhan? Itu berarti mereka telah saling berciuman?! Badai tersenyum-senyum sendiri.

"Badai, kamu enggak apa-apa?" tanya Mario.

Badai mendudukkan tubuhnya sedikit lebih tegak. Tiba-tiba saja ia memeluk Mario dan Rudy bersamaan. Ia tertawa tergelak. Rudy dan Mario merasa tercekik oleh pelukan Badai yang teramat kencang.

"Ayo kita nyebur lagi ke kolam! Kalian harus ajari aku berenang!" Seru Badai penuh semangat.

¤¤•»»0O0««•¤¤

Rudy dan Mario baru saja pamit untuk pulang. Badai mengintip kepergian mereka melalui jendela kamarnya di lantai atas. Sejak hari ini mereka telah saling berjanji untuk mulai berkawan dekat. Rudy akan datang setiap saat untuk berlatih piano pada Badai. Sebaliknya Badai sangat memerlukannya untuk melatihnya berenang. Atau lebih tepatnya agar ia sering mendapat ciuman dari Rudy saat Rudy memberinya napas buatan. Sementara Mario akan menjadi dekat dengannya karena Mario membutuhkan seorang perantara untuk menyampaikan perasaan kasihnya kepada seorang gadis yang bernama Kedasih, teman satu meja Badai di kelas XI IPA B.

Hmm… Mario…
Desah Badai. Ada sekelumit perasaan bahagia karena selama bertahun-tahun ia telah menantikan untuk bisa menjadi dekat dengan Mario.  Sejak ia mengalami masa pubertas yang terlalu dini di masa kelas 6 SD, Badai diam-diam telah menaruh perasaan suka kepada sosok wajah Indonesia keturunan Italia, Mario. Ayah Mario memang seorang Italia.

Tapi di sisi lain Badai pun merasakan kesedihan, mengapa ia harus jatuh cinta pada orang yang tidak semestinya. Tidakkah ia dan Mario adalah sama-sama lelaki. Bagaimana mungkin cinta mereka dapat dipersatukan. Oleh karena itulah cintanya pada Mario hanya menjadi cinta yang bertepuk sebelah tangan. Cinta itu hanya dapat ia pendam seorang diri. Tanpa pernah terkuak baik oleh Mario atau siapapun. Sebagai pelampiasannya Badai hanya dapat menyamar menjadi perempuan melalui telepon dan situs-situs jejaring sosial di dunia maya.

Bermodalkan suara yang sangat lembut mirip suara perempuan Badai mengelabui para lelaki yang disukainya di lingkungan rumah maupun sekolahnya. Disokong pula dalam portable computer yang dimilikinya terdapat sebuah aplikasi yang dapat mengubah suara menjadi suara orang lain baik suara bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa, manula, pria maupun wanita. Ajaib semua lelaki yang dijebaknya terperdaya, tiada yang mengenali suaranya. Padahal tanpa aplikasi pengubah suara pun suara Badai sangat merdu, terutama bila Badai sedang bernyanyi.

Seperti yang dilakukannya kepada Triko. Selama ini Triko adalah pelampiasan cinta bagi Badai karena Mario tak pernah sekalipun mau dekat dengannya. Kendati demikian Badai tak kuasa untuk memperdaya Mario melalui telepon seperti yang dilakukannya kepada Triko. Baginya Mario adalah cinta sejatinya yang murni.

Selama ini lelaki yang diperdaya oleh Badai via telepon dan dunia maya hanya lelaki yang terkesan playboy di mata Badai. Ia sama sekali tidak menyukai lelaki para pemain cinta. Maka dari itu ia hanya bermaksud mempermainkan mereka agar mereka jera dalam bermain cinta.

Badai masih meratapi kepergian Rudy dan Mario melalui kaca jendela kamarnya. Tanpa terasa air matanya menetes di kedua belah pipinya. Badai bergumam pelan.

"Mario, I love you… Aku cemburu Mario, waktu kutahu bahwa di hatimu ada nama seseorang lain, dan itu bukanlah namaku!"

Sejak bertemu dan ku mengenalmu
Hatiku terasa berbeda
Kubahagia bila mendegar suaramu
Jantungku berhenti berdetak
Bila bertemu berpapasan
denganmu
Hatiku berbunga saat melihat
senyummu
Tubuhku lemas saat suara lembut
mu menyapaku
Memanggilku ,mengajakku,dan
memintaku
Namun itu hanya ada dalam buaian mimpi yang terus meracuniku
Memberiku harapan-harapan palsu
Kau lembut,peduli,sayang padaku
Itu semua semu
Ku tak kuasa menolak dirimu
Diriku terhipnotis cintamu
Hatiku terjerat oleh sikapmu
Perasaan ku larut dalam harimu
waktuku hilang bersamamu
Semua hanyalah harapan kalbu
Inikah cinta pertamaku…?

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s