Posted on

Sebuah Pertukaran (Episode 2)

SEBUAH PERTUKARAN

==00==•0•==•|0•0|•==•0•==00==

Episode 2

Opening theme song:

Letto – Menyambut Janji

ku menanti sang kekasih
dalam sunyi ku bersuara lirih
yang berganti hanya buih
yang sejati tak akan berdalih
lembaran putih telah terpilih
dan demi cinta

ku tepiskan semua keraguan
jiwa
dan ku ganti dengan
kepastian
hatiku ini yang mulai
mengerti
dan berani tuk menyambut janji

kisah cinta yang abadi
takkan ada jika tak kau cari
sering juga hanya mimpi
yang membuatku bertahan
di sini
lingkaran putih telah terpilih
dan demi cinta

ku tepiskan semua keraguan
jiwa
dan ku ganti dengan
kepastian
hatiku ini yang mulai
mengerti
dan berani tuk menyambut
janji
ku tepiskan semua keraguan
jiwa
dan ku ganti dengan
kepastian
hatiku ini yang mulai
mengerti
dan berani tuk menyambut
janji
ku tepiskan semua keraguan
jiwa
dan ku ganti dengan
kepastian
hatiku ini yang mulai
mengerti
dan berani tuk menyambut
janji
________________________________
#Penglihatan

"Silakan buka matamu pelan-pelan!" Perintah dokter setelah melepaskan kasa penutup mataku.

"Ya, begitu! Picingkan matamu dan buka lebih lebar lagi secara perlahan!" Komandonya untuk kedua kali.

Mataku mengerjap-ngerjap.
Sedikit demi sedikit berkas sinar mulai dapat kulihat sebelum tampak bayangan yang awalnya buram, namun akhirnya semakin jelas menampakan benda yang nyata. Mulai dari dinding ruangan yang berwarna putih, sebuah bufet di samping ranjang dengan bunga krisan dalam vas di atasnya, tirai sutra berwarna toska, lantai berkeramik putih, dan beberapa orang yang mengelilingiku.

"Apa kamu dapat melihat orang yang ada di hadapanmu?" Tanya dokter.

Orang yang berada di hadapanku adalah seorang perawat yang sedang membantu dokter menangani penyembuhan mataku setelah 12 jam yang lalu melakukan operasi.

"Saya dapat melihat dengan jelas Dokter!" Sahutku suka-cita.

Pak Juno menghampiriku,"Syukurlah matamu sudah dapat melihat lagi! Setelah ini kita akan operasi wajahmu di Bangkok!"

"Terima kasih dokter, anda berhasil melakukan operasi mata anak saya!" Imbuhnya.

Mulai saat ini aku berperan sebagai Aldrius Titan, sesuai kesepakatan kami dua hari yang lalu. Aku berpura-pura menjadi anak bungsu Pak Juno yang tertimpa kecelakaan mobil sepuluh hari yang lalu. Di satu sisi tujuan Pak Juno melakukan ini adalah sebagai wujud tanggung jawab beliau dan Titan terhadapku atas peristiwa kecelakaan yang kualami, karena tertabrak oleh Titan yang menyebabkan mata kiriku buta, wajahku terluka parah, dan kakiku lumpuh sementara. Di sisi lain mereka ingin menjebak keluar dalang yang melakukan skandal di balik peristiwa kecelakaan yang menimpaku. Menurut perjanjian kami bertiga, aku harus berpura-pura mengalami amnesia ringan di hadapan para pegawai perusahaan Mercury Text, perusahaan milik keluarga Pak Juno. Agar identitas asliku sebagai Bumi Persada Biru tidak terbongkar oleh siapapun. Sejak awal aku berobat di rumah sakit ini, Titan telah sengaja memakai namanya sebagai identitas diriku.

"Bagaimana, operasinya berhasil?" Dokter Jaya masuk membawa catatan medis.

"Anda benar Dokter Jaya, Dokter Rafael memang spesialis mata terhebat di negeri ini!" Pak Juno menjabat tangan Dokter Jaya penuh keakraban.

"Oh, syukurlah! Jadi Bumi sekarang sudah bisa melihat?" Sapa Dokter Jaya menyalamiku.

"Bumi? Bukankah anak Pak Juno ini bernama Titan?" Dokter Rafael mengernyitkan keningnya.
Dokter Jaya gelagapan.

"Ups, maaf, habis menangani pasien yang mengalami serangan jantung, saya jadi salah bicara, maksud saya : Jadi sekarang Titan sudah bisa melihat bumi lagi? Hehe…"

Dokter Rafael menggeleng-gelengkan kepala.

"Untuk sementara mungkin Titan akan merasa sedikit pusing karena mata kirinya yang baru masih beradaptasi dengan organ tubuh yang lain, terutama saraf dan otak. Biasanya ini hanya berlangsung selama beberapa hari, nanti saya akan memberi obat untuk mengurangi rasa sakit itu!"

Dokter Rafael berlalu meninggalkan ruangan.

"Maaf Pak, saya lupa Bumi dan Titan sedang bertukar peran!" Bisik Dokter Jaya. Ia mengetahui semua perjanjian kami bertiga.

Pak Juno menghela nafas.

"Saya mohon Dokter Jaya berkenan menutup rahasia ini rapat-rapat! Tak boleh seorang pun tahu bahwa Titan sebenarnya ada di luar kota!" Pak Juno mengiba.

"Tenang Pak Juno, saya bukan wartawan maupun reporter tabloid gosip yang senang mengumbar rahasia orang lain! Saya pun tidak akan melanggar kode etik saya sebagai seorang dokter!"

"Alhamdulillah, saya percaya sepenuhnya kepada anda, Dokter!"

"Sus, tolong serahkan catatan medis ini kepada Dokter Aryati! Minggu depan Pak Titan harus segera menjalani terapi pemulihan kakinya dengan Dokter Aryati!" Seorang perawat yang sedang lewat menghampiri Dokter Jaya.

"Baik Dok!" Sahut perawat itu serta-merta menerima catatan medis yang disodorkan oleh Dokter Jaya.

"Syukurlah Pak Juno, anda tidak perlu membawa Bumi ke Singapura sepulang dari Bangkok nanti! Karena di sini kita ada Dokter Aryati, patolog yang bisa mengatasi kelumpuhan Bumi!"

Aku menarik nafas lega. Pak Juno tidak perlu mengeluarkan uang lebih untuk pengobatanku. Bagiku sebenarnya rasa tanggung jawab beliau dan Titan saja sudah cukup. Aku bahkan bersyukur karena mereka berkenan membiayai operasi wajahku yang hancur agar menjadi lebih baik. Tidak akan ada lagi orang yang mengataiku Bumi Si Pangeran Kodok.

"Titan beristirahatlah!" Dokter Jaya mengedipkan sebelah mata padaku.

"Ayah, hhh… mengapa tidak memberitahuku, hhh… kalau Titan mengalami kecelakaan?" Seorang pria bersama seorang wanita datang dengan nafas tersengal-sengal.

"Dari mana kalian tahu kalau Titan mengalami kecelakaan? Bukankah kalian sedang berbulan madu merayakan ulang tahun pernikahan kalian yang ke-3?" Jawab Pak Juno dingin.

Ekspresi wajahnya menunjukan rasa antipati pada sang pria.

"Kenapa sih, nada bicara ayah selalu sinis padaku? Makanya Yah, jabatan presdir itu seharusnya diserahkan padaku! Kan Titan tidak akan mengalami hal buruk seperti ini!" Pria itu tersenyum menyeringai.

"Lantas bila jabatan presdir itu kuserahkan padamu, kamu akan baik-baik saja, duduk nyaman di kursi singgasanamu, begitu?" Amarah Pak Juno kelihatannya mulai naik.

Aku mulai paham, sepertinya pria ini adalah Saturno, kakak ipar Titan yang pernah diceritakan tempo hari lalu. Menurut Titan, kemungkinan besar dalang penyebab kecelakaan yang menimpaku adalah dia. Dialah orang yang telah merusak rem mobil yang dikendarai oleh Titan.

"Ouch.. Ayah tidak bermaksud mengatakan bahwa akulah yang menyebabkan peristiwa kecelakaan yang dialami oleh Titan kan? Ingat Yah, saingan perusahaan ayah tidak hanya Master Flam-perusahaanku! Masih banyak perusahaan lain yang berniat menjatuhkan perusahaan ayah! Sekarang kalau terjadi apa-apa pada Titan, siapa yang harus disalahkan?" Saturno masih berkoar mengeluarkan alibi.

"Saturno! Mulutmu benar-benar lancang!" Pak Juno naik pitam.

Hampir saja tangannya menampar wajah tampan pria gagah itu yang menjadi menantunya.

"Sudah! Sudah! Tiap kali bertemu ayah dan papa selalu ribut!" Wanita bernama Venia-putri kedua Pak Juno, menengahi pertengkaran mertua dan menantu itu.

"Titan, maafkan kakak baru mengetahui keadaanmu sekarang!" Wanita itu mencondongkan badannya menatapku.

"Hei Ma, lihatlah wajah adikmu sekarang ini! Hilang sudah ketampanan yang dulu pernah dimilikinya itu! Kira-kira wanita mana ya yang masih mau bertekuk lutut di hadapannya memintanya untuk dijadikan istri?" Cibir Saturno.

"Uhm, sepertinya masih banyak juga sih! Cuma kasusnya beda, mereka tertarik pada Titan bukan karena ketampanannya lagi, melainkan karena harta yang dimilikinya! Hahaha…" Saturno terbahak-bahak menertawaiku.

"Papa, teganya kau mengatakan hal itu pada adik semata-wayang mama ini!" Mata Venia mendelik.

"Ups, sorry ma! Cuma bercanda kok!" Saturno menutup mulutnya dengan telapak tangannya dan berlagak seperti orang bego.

"Benar-benar menantu kurangajar, kau!" Pak Juno masih emosi.

Hmm..kalau aku jadi Titan, punya kakak ipar seperti Saturno, mungkin sudah aku tendang. Tapi dulu aku juga pernah menjadi makhluk yang lemah, terusir dari rumahku sendiri oleh saudara-saudari tiriku.

"Ayah, maafkan suamiku. Walau mulutnya kasar tapi hatinya baik kok! Venia yakin Saturno tadi cuma bercanda!"

Terlihat benar kalau Venia membela suaminya yang nyleneh itu.

"Titan, kamu jangan ambil hati omongan kakak iparmu ya!" Venia menggenggam tanganku.

Pak Juno memberi isyarat padaku melalui tatapan matanya. Aku mengerti maksudnya, agar aku jangan mengeluarkan suara sepatah kata pun. Aku harus berpura-pura mengalami amnesia ringan, hilang ingatan sementara, guna menutupi bahwa sebenarnya aku bukanlah Titan.

Aku diam termangu.

"Kakak sangat sedih melihat keadaanmu, dek! Hampir saja kakak tidak mengenalimu yang terluka parah seperti ini!" Venia menangis berderai air mata.

Tangannya yang lembut penuh kasih membelai-belai kepalaku yang masih ditutupi lilitan perban.

"Bagaimana bisa wajahmu menjadi hancur begini?! Kakimu lumpuh, dek? Ayah, kita harus segera melaporkan kasus ini ke polisi! Jangan sampai penjahat-penjahat yang telah mencelakakan Titan mengulang kejahatan mereka untuk yang kedua kalinya!"

"Sudah…sudah! Kamu tenanglah! Masalah ini sedang diselidiki polisi! Kelak kita akan tahu siapa sutradara di balik peristiwa ini!" Nyonya Juno-ibunda Titan muncul di hadapan kami.

Matanya melirik ke arah Saturno saat bicara tadi, seperti memberi kesan bahwa Saturno-lah sang sutradara hebat itu. Saturno bergidik sesaat setelah dilirik oleh Nyonya Juno.

"Tapi Bu, masalah ini sangat serius! Semoga polisi cepat selesai menangani kasus ini! Grrr…ingin rasanya kubejek-bejek wajah orang yang telah merusak fisik adik lelaki-ku yang tampan ini!" Venia mengepalkan tangan kanannya dan meninju telapak tangan kirinya, kemudian berputar seperti mengulek sambal.

"Sabar Venia, Allah selalu mendengarkan doa insan-Nya yang teraniaya! Masalah wajah Titan, ayah dan ibu berencana membawanya berobat dan operasi plastik di Thailand!" Nyonya Juno menepuk bahu Venia.

"Ayo Titan, sudah waktunya untuk beristirahat!" Nyonya Juno mendorong kursi rodaku.

"Ibu senang sekali akhirnya kamu sudah bisa melihat lagi!"

Aku yakin suara itu bukanlah akting semata yang sengaja mendramatisir keadaan karena peranku sebagai Titan. Bagiku suara Nyonya Juno barusan terdengar sangat tulus, dan memang sengaja dituturkan untuk aku, Bumi Persada Biru!

=°°=

#Kepalsuan

"Hey Bulan, apakah kamu percaya kalau orang ini adalah Bumi? Kekasih yang kau campakan itu! Haha…" Ariel tergelak.

Sementara para wanita yang mengelilingiku menatapnya sinis.

"Eh, kau jangan siriklah jadi orang, Riel!" Sungut salah seorang di antara mereka.

"Siapa yang sirik? Awak jangan bikin fitnah ya! Tampang saye ni masih tampan nian daripadanya!" Ariel menyolot.

"Apa maksudnya ini?" Bulan mulai mengeluarkan suara.

Wow..walau hanya beberapa kata yang terucap, ternyata suara Bulan terdengar begitu lembut dengan irama mendayu-dayu. Pantas saja Bumi sangat mencintainya. Dari sudut nama, Bulan dan Bumi adalah dua sejoli yang tak terpisahkan. Di mana ada bumi di situ pasti ada bulan. Tapi secara fisik, Bumi dan Bulan memang terlihat tidak serasi dikarenakan paras Bumi yang…hmm aku jadi miris mengingatnya. Semoga semua operasi yang direncanakan oleh ayah untuk Bumi berjalan lancar, Bumi bisa melihat dan berjalan lagi, serta wajahnya menjadi tampan seperti yang diharapkannya.

"Ariel, bukankah Pak Valas sudah bilang pada kita kalau Bumi mengalami kecelakaan dan melakukan operasi wajah!" Wanita yang lain turut konfirmasi.

"Hey Mentari, kamu percaya dengan rumor tu?" Ariel mengolok.

Ternyata wanita yang terus membelaku itu bernama Mentari. Lengkap sudah! Ada Bumi, ada Bulan, dan ada Mentari! Haha..unik sekali. Sepertinya aku akan betah di sini.

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s