Posted on

Debat

Debat adalah kegiatan adu
argumentasi antara dua pihak atau
lebih, baik secara perorangan
maupun kelompok, dalam
mendiskusikan dan memutuskan
masalah dan perbedaan. Secara
formal, debat banyak dilakukan
dalam institusi legislatif seperti
parlemen , terutama di negara-
negara yang menggunakan sistem
oposisi. Dalam hal ini, debat
dilakukan menuruti aturan-aturan
yang jelas dan hasil dari debat
dapat dihasilkan melalui voting
atau keputusan juri.
Contoh lain debat yang
diselenggarakan secara formal
adalah debat antar kandidat
legislatif dan debat antar calon
presiden/wakil presiden yang
umum dilakukan menjelang
pemilihan umum .
Debat kompetitif adalah debat
dalam bentuk permainan yang
biasa dilakukan di tingkat sekolah
dan universitas. Dalam hal ini,
debat dilakukan sebagai
pertandingan dengan aturan
("format") yang jelas dan ketat
antara dua pihak yang masing-
masing mendukung dan menentang
sebuah pernyataan. Debat
disaksikan oleh satu atau beberapa
orang juri yang ditunjuk untuk
menentukan pemenang dari sebuah
debat. Pemenang dari debat
kompetitif adalah tim yang berhasil
menunjukkan pengetahuan dan
kemampuan debat yang lebih baik.
Daftar isi [sembunyikan ]
1 Debat kompetitif dalam
pendidikan
1.1 Debat kompetitif di Indonesia
1.2 Berbagai gaya debat
parlementer
1.2.1 Australian Parliamentary/
Australasian Parliamentary
("Australs")
1.2.2 Asian Parliamentary
("Asians")
1.2.3 British Parliamentary ("BP")
1.2.4 Format World Schools
1.2.5 American Parliamentary
1.3 Debat kompetitif selain debat
parlementer
1.3.1 Debat Proposal
1.3.2 Lincoln-Douglas Debate
2 Kegiatan lain yang serupa
2.1 Model United Nations
2.2 Moot court
3 Lihat pula
Debat kompetitif dalam pendidikan
Tidak seperti debat sebenarnya di
parlemen, debat kompetitif tidak
bertujuan untuk menghasilkan
keputusan namun lebih diarahkan
untuk mengembangkan
kemampuan-kemampuan tertentu
di kalangan pesertanya, seperti
kemampuan untuk mengutarakan
pendapat secara logis, jelas dan
terstruktur, mendengarkan
pendapat yang berbeda, dan
kemampuan berbahasa asing (bila
debat dilakukan dalam bahasa
asing).
Namun demikian, beberapa format
yang digunakan dalam debat
kompetitif didasarkan atas debat
formal yang dilakukan di parlemen.
Dari sinilah muncul istilah "debat
parlementer" sebagai salah satu
gaya debat kompetitif yang
populer. Ada berbagai format debat
parlementer yang masing-masing
memiliki aturan dan organisasinya
sendiri.
Kejuaraan debat kompetitif
parlementer tingkat dunia yang
paling diakui adalah World
Universities Debating Championship
(WUDC) dengan gaya British
Parliamentary di tingkat universitas
dan World Schools Debating
Championship (WSDC) untuk tingkat
sekolah menengah atas.
Kompetisi debat bertaraf
internasional umumnya
menggunakan bahasa Inggris
sebagai pengantar. Tidak ada
bantuan penerjemah bagi peserta
manapun. Namun demikian,
beberapa kompetisi memberikan
penghargaan khusus kepada tim
yang berasal dari negara-negara
yang hanya menggunakan bahasa
Inggris sebagai bahasa kedua
(English as Second Language – ESL).
Negara-negara yang terkenal
dengan tim debatnya antara lain
Inggris , Australia, Irlandia, dan
Amerika Serikat . Di Asia, negara
yang dianggap relatif kuat antara
lain Filipina dan Singapura .
Debat kompetitif di Indonesia
Artikel Utama: Debat kompetitif
di Indonesia
Di Indonesia , debat kompetitif
sudah mulai berkembang, walaupun
masih didominasi oleh kompetisi
debat berbahasa Inggris. Kejuaraan
debat parlementar pertama di
tingkat universitas adalah Java
Overland Varsities English Debate
(JOVED) yang diselenggarakan tahun
1997 di Universitas Katolik
Parahyangan , Bandung, dan diikuti
oleh tim-tim dari berbagai wilayah
di P. Jawa. Kejuaraan debat se-
Indonesia yang pertama adalah
Indonesian Varsity English Debate
(IVED) 1998 di Universitas
Indonesia . Hingga kini (2006),
kedua kompetisi tersebut
diselenggarakan setiap tahun secara
bergilir di universitas yang
berbeda.
Sejak 2001, Indonesia telah
mengirimkan delegasi ke WSDC.
Delegasi tersebut dipilih setiap
tahunnya melalui Indonesian
Schools Debating Championship
(ISDC) yang diselenggarakan oleh
Departemen Pendidikan Nasional
bekerjasama dengan Association for
Critical Thinking (ACT).
Berbagai gaya debat parlementer
Dalam debat kompetitif, sebuah
format mengatur hal-hal antara
lain:
jumlah tim dalam satu debat
jumlah pembicara dalam satu tim
giliran berbicara
lama waktu yang disediakan untuk
masing-masing pembicara
tatacara interupsi
mosi dan batasan-batasan
pendefinisian mosi
tugas yang diharapkan dari masing-
masing pembicara
hal-hal yang tidak boleh dilakukan
oleh pembicara
jumlah juri dalam satu debat
kisaran penilaian
Selain itu, berbagai kompetisi juga
memiliki aturan yang berbeda
mengenai:
penentuan topik debat (mosi) –
apakah diberikan jauh hari
sebelumnya atau hanya beberapa
saat sebelum debat dimulai
( impromptu )
lama waktu persiapan – untuk debat
impromptu , waktu persiapan
berkisar antara 15 menit (WUDC)
hingga 1 jam (WSDC)
perhitungan hasil pertandingan –
beberapa debat hanya
menggunakan victory point (VP)
untuk menentukan peringkat,
namun ada juga yang menghitung
selisih ( margin) nilai yang diraih
kedua tim atau jumlah vote juri
(mis. untuk panel beranggotakan 3
juri, sebuah tim bisa menang 3-0
atau 2-1)
sistem kompetisi – sistem gugur
biasanya hanya digunakan dalam
babak elimiasi (perdelapan final,
perempat final, semifinal dan final);
dalam babak penyisihan, sistem
yang biasa digunakan adalah power
matching
Format debat parlementer sering
menggunakan peristilahan yang
biasa dipakai di debat parlemen
sebenarnya:
topik debat disebut mosi (motion )
tim Afirmatif (yang setuju terhadap
mosi) sering disebut juga
Pemerintah ( Government), tim
Negatif (yang menentang mosi)
disebut Oposisi ( Opposition)
pembicara pertama dipanggil
sebagai Perdana Menteri (Prime
Minister), dan sebagainya
pemimpin/wasit debat
( chairperson) dipanggil Speaker of
The House
penonton/juri dipanggil Members
of the House (Sidang Dewan yang
Terhormat)
interupsi disebut Points of
Information (POI)
Australian Parliamentary/
Australasian Parliamentary
("Australs")
Gaya debat ini digunakan di
Australia, namun pengaruhnya
menyebar hingga ke kompetisi-
kompetisi yang diselenggarakan di
Asia, sehingga akhirnya disebut
sebagai format Australasian
Parliamentary. Dalam format ini,
dua tim beranggotakan masing-
masing tiga orang berhadapan
dalam satu debat, satu tim
mewakili Pemerintah
( Government ) dan satu tim
mewakili Oposisi ( Opposition),
dengan urutan sebagai berikut:
1. Pembicara pertama pihak
Pemerintah – 7 menit
2. Pembicara pertama pihak Oposisi –
7 menit
3. Pembicara kedua pihak Pemerintah
– 7 menit
4. Pembicara kedua pihak Oposisi – 7
menit
5. Pembicara ketiga pihak Pemerintah
– 7 menit
6. Pembicara ketiga pihak Oposisi – 7
menit
7. Pidato penutup pihak Oposisi – 5
menit
8. Pidato penutup pihak Pemerintah –
5 menit
Pidato penutup (Reply speech)
menjadi ciri dari format ini. Pidato
penutup dibawakan oleh pembicara
pertama atau kedua dari masing-
masing tim (tidak boleh pembicara
ketiga). Pidato penutup dimulai
oleh Oposisi terlebih dahulu, baru
Pemerintah.
Mosi dalam format ini diberikan
dalam bentuk pernyataan yang
harus didukung oleh pihak
Pemerintah dan ditentang oleh
Pihak Oposisi, contoh:
(This House believes that)
Globalization marginalizes the
poor.
(Sidang Dewan percaya bahwa)
Globalisasi meminggirkan
masyarakat miskin.
Mosi tersebut dapat didefinisikan
oleh pihak Pemerintah dalam
batasan-batasan tertentu dengan
tujuan untuk memperjelas debat
yang akan dilakukan. Ada aturan-
aturan yang cukup jelas dalam hal
apa yang boleh dilakukan sebagai
bagian dari definisi dan apa yang
tidak boleh dilakukan.
Tidak ada interupsi dalam format
ini.
Juri (adjudicator ) dalam format
Australs terdiri atas satu orang atau
satu panel berjumlah ganjil. Dalam
panel, setiap juri memberikan
voting -nya tanpa melalui
musyawarah. Dengan demikian,
keputusan panel dapat bersifat
unanimous ataupun split
decision.
Di Indonesia, format ini termasuk
yang pertama kali dikenal sehingga
cukup populer terutama di
kalangan universitas. Kompetisi
debat di Indonesia yang
menggunakan format ini adalah
Java Overland Varsities English
Debate (JOVED) dan Indonesian
Varsity English Debate (IVED).
Asian Parliamentary ("Asians")
Format ini merupakan
pengembangan dari format Australs
dan digunakan dalam kejuaraan
tingkat Asia. Perbedaannya dengan
format Australs adalah adanya
interupsi (Points of Information )
yang boleh diajukan antara menit
ke-1 dan ke-6 (hanya untuk pidato
utama, tidak pada pidato penutup).
Format ini juga mirip dengan World
Schools Style yang digunakan di
WSDC.
Di Indonesia, format ini digunakan
dalam ALSA English Competition (e-
Comp) yang diselenggarakan
(hampir) setiap tahun oleh ALSA LC
[[Universitas Indonesia].
British Parliamentary ("BP")
Gaya debat parlementer ini banyak
dipakai di Inggris namun juga
populer di banyak negara, sebab
format inilah yang digunakan di
kejuaraan dunia WUDC. Dalam
format ini, empat tim
beranggotakan masing-masing dua
orang bertarung dalam satu debat,
dua tim mewakili Pemerintah
( Government ) dan dua lainnya
Oposisi (Opposition ), dengan
susunan sebagai berikut:
Opening Government: Opening Opposition:
– Prime Minister – Leader of the Opposition
– Deputy Prime Minister – Deputy Leader of the Opposition
Closing Government: Closing Opposition:
– Member of the Government – Member of the Opposition
– Government Whip – Opposition Whip
Urutan berbicara adalah sebagai
berikut:
1. Prime Minister – 7 menit
2. Leader of the Opposition – 7 menit
3. Deputy Prome Minister – 7 menit
4. Deputy Leader of the Opposition –
7 menit
5. Member of the Government – 7
menit
6. Member of the Opposition – 7
menit
7. Government Whip – 7 menit
8. Opposition Whip – 7 menit
Setiap pembicara diberi waktu 7
menit untuk menyampaikan
pidatonya. Di antara menit ke-1
dan ke-6, pembicara dari pihak
lawan dapat mengajukan interupsi
( Points of Information). Bila
diterima, pembicara yang
mengajukan permintaan interupsi
tadi diberikan waktu maksimal 15
detik untuk menyampaikan sebuah
pertanyaan yang kemudian harus
dijawab oleh pembicara tadi
sebelum melanjutkan pidatonya.
Juri dalam debat BP bisa satu orang
atau satu panel berjumlah ganjil. Di
akhir debat, juri menentukan
urutan kemenangan dari peringkat
1 sampai 4 untuk debat tersebut.
Dalam panel, keputusan sebisanya
diambil berdasarkan mufakat. Bila
mufakat tidak tercapai, Ketua Panel
akan membuat keputusan terakhir.
Di Indonesia, format ini digunakan
dalam kompetisi Founder's Trophy
yang diselenggarakan oleh
Komunitas Debat Bahasa Inggris
Universitas Indonesia setiap tahun.
Format World Schools
Format yang digunakan dalam
turnamen World Schools Debating
Championship (WSDC) dapat
dianggap sebagai kombinasi BP dan
Australs. Setiap debat terdiri atas
dua tim, Proposisi dan Oposisi,
beranggotakan masing-masing tiga
orang. Urutan pidato adalah
sebagai berikut:
1. Pembicara pertama Proposisi – 8
menit
2. Pembicara pertama Oposisi – 8
menit
3. Pembicara kedua Proposisi – 8
menit
4. Pembicara kedua Oposisi – 8 menit
5. Pembicara ketiga Proposisi – 8
menit
6. Pembicara ketiga Oposisi – 8 menit
7. Pidato penutup Oposisi – 4 menit
8. Pidato penutup Proposisi – 4 menit
Pidato penutup (reply speech)
dibawakan oleh pembicara pertama
atau kedua masing-masing tim
(tidak boleh pembicara ketiga) dan
didahului oleh pihak Oposisi dan
ditutup oleh pihak Proposisi.
Aturan untuk interupsi (Points of
Information – POI) mirip dengan
format BP. POI hanya dapat
diberikan antara menit ke-1 dan
ke-7 pidato utama dan tidak ada
POI dalam pidato penutup.
Di Indonesia, format ini digunakan
dalam kejuaraan Indonesian
Schools Debating Championship
(ISDC). Beberapa SMU di Indonesia
yang pernah mengadakan kompetisi
debat juga menggunakan format
ini.
American Parliamentary
Debat parlementer di Amerika
Serikat diikuti oleh dua tim untuk
setiap debatnya dengan susunan
sebagai berikut:
Government
Prime Minister (PM)
Member of the Government (MG)
Opposition
Leader of the Opposition (LO)
Member of the Opposition (MO)
Debat parlementer diadakan oleh
beberapa organisasi berbeda di
Amerika Serikat di tingkat
pendidikan menengah dan tinggi.
National Parliamentary Debate
Association (NPDA), American
Parliamentary Debate Association
(APDA), dan National Parliamentary
Tournament of Excellence (NPTE)
menyelenggarakan debat
parlementer tingkat universitas
dengan susunan pidato sebagai
berikut:
Prime Minister – 7 menit
Leader of the Opposition – 8 menit
Member of the Government – 8 min
Member of the Opposition – 8 min
Leader of the Opposition Rebuttal –
4 min
Prime Minister Rebuttal – 5 min
California High School Speech
Association (CHSSA) dan National
Parliamentary Debate League
(NPDL) menyelenggarakan debat
parlementer tingkat sekolah
menengah dengan susunan pidato
sebagai berikut:
Prime Minister – 7 menit
Leader of the Opposition – 7 menit
Member of the Government – 7
menit
Member of the Opposition – 7
menit
Leader of the Opposition Rebuttal –
5 menit
Prime Minister Rebuttal – 5 menit
Dalam semua format tersebut
kecuali CHSSA, interupsi berupa
pertanyaan dapat ditanyakan
kepada pembicara keempat pidato
pertama, kecuali pada menit
pertama dan terakhir pidato. Dalam
format CHSSA, keenam pidato
semuanya dapat diinterupsi.
Di Indonesia, format debat ini
belum populer dan belum ada
kompetisi reguler yang
menggunakannya.
Debat kompetitif selain debat
parlementer
Debat Proposal
Dalam gaya Debat Proposal ( Policy
Debate ), dua tim menjadi
penganjur dan penentang sebuah
rencana yang berhubungan dengan
topik debat yang diberikan. Topik
yang diberikan umumnya mengenai
perubahan kebijakan yang
diinginkan dari pemerintah. Kedua
tim biasanya memainkan peran
Afirmatif (mendukung proposal)
dan Negatif (menentang proposal).
Pada prakteknya, kebanyakan acara
debat tipe ini hanya memiliki satu
topik yang sama yang berlaku
selama setahun penuh atau selama
jangka waktu lainnya yang sudah
ditetapkan.
Bila dibandingkan dengan debat
parlementer, debat proposal lebih
mengandalkan pada hasil riset atas
fakta-fakta pendukung (evidence ).
Debat ini juga memiliki persepsi
yang lebih luas mengenai argumen.
Misalnya, sebuah proposal
alternatif (counterplan ) yang
membuat proposal utama menjadi
tidak diperlukan dapat menjadi
sebuah argumen dalam debat ini.
Walaupun retorika juga penting dan
ikut memengaruhi nilai setiap
pembicara, pemenang tiap babak
umumnya didasari atas siapa yang
telah "memenangkan" argumen
sesuai dengan fakta pendukung dan
logika yang diberikan. Sebagai
konsekuensinya, juri kadang-kadang
membutuhkan waktu yang lama
untuk mengambil keputusan karena
semua fakta pendukung harus
diperiksa terlebih dahulu.
Di Amerika Serikat , Debat Proposal
adalah tipe debat yang lebih
populer dibandingkan debat
parlementer. Kegiatan ini juga telah
dicoba dikembangkan di Eropa dan
Jepang dan gaya debat ini ikut
memengaruhi bentuk-bentuk debat
lain. Di AS, Debat Proposal tingkat
SMU diselenggarakan oleh NFL dan
NCFL. Di tingkat universitas, debat
ini diselenggarakan oleh National
Debate Tournament (NDT), Cross
Examination Debate Association
(CEDA), National Educational
Debate Association, dan Great
Plains Forensic Conference.
Debat Proposal terdiri atas dua tim
beranggotakan masing-masing dua
orang dalam tiap debatnya. Setiap
pembicara membawakan dua
pidato, satu pidato konstruktif (8
atau 9 menit) yang berisi argumen-
argumen baru dan satu pidato
sanggahan (4, 5, atau 6 menit)
yang tidak boleh berisi argumen
baru namun dapat berisi fakta
pendukung baru untuk membantu
sanggahan. Biasanya, sehabis setiap
pidato konstruktif, pihak lawan
diberikan kesempatan untuk
melakukan pemeriksaan silang
( cross-examination ) atas pidato
tersebut. Setiap isu yang tidak
ditanggapi oleh pihak lawan
dianggap sudah diterima dalam
debat. Dewan juri secara seksama
mencatat semua pernyataan yang
dibuat dalam suatu babak (sering
disebut flow ).
Di Indonesia, format debat ini
belum populer dan belum ada
kompetisi reguler yang
menggunakannya.
Lincoln-Douglas Debate
Nama gaya debat ini diambil dari
debat-debat terkenal yang pernah
dilakukan di Senat Amerika Serikat
antara kedua kandidat Lincoln dan
Douglas. Setiap debat gaya ini
diikuti oleh dua pedebat yang
bertarung satu sama lain.
Argumen dalam debat ini terpusat
pada filosofi dan nilai-nilai abstrak,
sehingga sering disebut sebagai
debat nilai (value debate). Debat
LD kurang menekankan pada fakta
pendukung (evidence ) dan lebih
mengutamakan logika dan
penjelasan.
Di Indonesia, format debat ini
belum populer dan belum ada
kompetisi reguler yang
menggunakannya.
Kegiatan lain yang serupa
Model United Nations
Model United Nations adalah
kegiatan yang banyak dilakukan di
tingkat sekolah dan universitas di
dunia. Dalam kegiatan ini, peserta
memainkan peran sebagai delegasi
Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB)
yang mewakili negara tertentu
(dalam kompetisi internasional,
negara yang diwakili umumnya
bukan negara asal sebenarnya dari
tim tersebut).
Di Indonesia, kegiatan ini relatif
belum berkembang. Namun, Jakarta
International School (JIS), sebuah
sekolah internasional di ibukota,
memiliki kegiatan ekstrakurikuler
ini.
Moot court
Kompetisi Moot court biasa
dilakukan oleh mahasiswa hukum di
tingkat universitas.Debat adalah kegiatan adu
argumentasi antara dua pihak atau
lebih, baik secara perorangan
maupun kelompok, dalam
mendiskusikan dan memutuskan
masalah dan perbedaan. Secara
formal, debat banyak dilakukan
dalam institusi legislatif seperti
parlemen , terutama di negara-
negara yang menggunakan sistem
oposisi. Dalam hal ini, debat
dilakukan menuruti aturan-aturan
yang jelas dan hasil dari debat
dapat dihasilkan melalui voting
atau keputusan juri.
Contoh lain debat yang
diselenggarakan secara formal
adalah debat antar kandidat
legislatif dan debat antar calon
presiden/wakil presiden yang
umum dilakukan menjelang
pemilihan umum .
Debat kompetitif adalah debat
dalam bentuk permainan yang
biasa dilakukan di tingkat sekolah
dan universitas. Dalam hal ini,
debat dilakukan sebagai
pertandingan dengan aturan
("format") yang jelas dan ketat
antara dua pihak yang masing-
masing mendukung dan menentang
sebuah pernyataan. Debat
disaksikan oleh satu atau beberapa
orang juri yang ditunjuk untuk
menentukan pemenang dari sebuah
debat. Pemenang dari debat
kompetitif adalah tim yang berhasil
menunjukkan pengetahuan dan
kemampuan debat yang lebih baik.
Daftar isi [sembunyikan ]
1 Debat kompetitif dalam
pendidikan
1.1 Debat kompetitif di Indonesia
1.2 Berbagai gaya debat
parlementer
1.2.1 Australian Parliamentary/
Australasian Parliamentary
("Australs")
1.2.2 Asian Parliamentary
("Asians")
1.2.3 British Parliamentary ("BP")
1.2.4 Format World Schools
1.2.5 American Parliamentary
1.3 Debat kompetitif selain debat
parlementer
1.3.1 Debat Proposal
1.3.2 Lincoln-Douglas Debate
2 Kegiatan lain yang serupa
2.1 Model United Nations
2.2 Moot court
3 Lihat pula
Debat kompetitif dalam pendidikan
Tidak seperti debat sebenarnya di
parlemen, debat kompetitif tidak
bertujuan untuk menghasilkan
keputusan namun lebih diarahkan
untuk mengembangkan
kemampuan-kemampuan tertentu
di kalangan pesertanya, seperti
kemampuan untuk mengutarakan
pendapat secara logis, jelas dan
terstruktur, mendengarkan
pendapat yang berbeda, dan
kemampuan berbahasa asing (bila
debat dilakukan dalam bahasa
asing).
Namun demikian, beberapa format
yang digunakan dalam debat
kompetitif didasarkan atas debat
formal yang dilakukan di parlemen.
Dari sinilah muncul istilah "debat
parlementer" sebagai salah satu
gaya debat kompetitif yang
populer. Ada berbagai format debat
parlementer yang masing-masing
memiliki aturan dan organisasinya
sendiri.
Kejuaraan debat kompetitif
parlementer tingkat dunia yang
paling diakui adalah World
Universities Debating Championship
(WUDC) dengan gaya British
Parliamentary di tingkat universitas
dan World Schools Debating
Championship (WSDC) untuk tingkat
sekolah menengah atas.
Kompetisi debat bertaraf
internasional umumnya
menggunakan bahasa Inggris
sebagai pengantar. Tidak ada
bantuan penerjemah bagi peserta
manapun. Namun demikian,
beberapa kompetisi memberikan
penghargaan khusus kepada tim
yang berasal dari negara-negara
yang hanya menggunakan bahasa
Inggris sebagai bahasa kedua
(English as Second Language – ESL).
Negara-negara yang terkenal
dengan tim debatnya antara lain
Inggris , Australia, Irlandia, dan
Amerika Serikat . Di Asia, negara
yang dianggap relatif kuat antara
lain Filipina dan Singapura .
Debat kompetitif di Indonesia
Artikel Utama: Debat kompetitif
di Indonesia
Di Indonesia , debat kompetitif
sudah mulai berkembang, walaupun
masih didominasi oleh kompetisi
debat berbahasa Inggris. Kejuaraan
debat parlementar pertama di
tingkat universitas adalah Java
Overland Varsities English Debate
(JOVED) yang diselenggarakan tahun
1997 di Universitas Katolik
Parahyangan , Bandung, dan diikuti
oleh tim-tim dari berbagai wilayah
di P. Jawa. Kejuaraan debat se-
Indonesia yang pertama adalah
Indonesian Varsity English Debate
(IVED) 1998 di Universitas
Indonesia . Hingga kini (2006),
kedua kompetisi tersebut
diselenggarakan setiap tahun secara
bergilir di universitas yang
berbeda.
Sejak 2001, Indonesia telah
mengirimkan delegasi ke WSDC.
Delegasi tersebut dipilih setiap
tahunnya melalui Indonesian
Schools Debating Championship
(ISDC) yang diselenggarakan oleh
Departemen Pendidikan Nasional
bekerjasama dengan Association for
Critical Thinking (ACT).
Berbagai gaya debat parlementer
Dalam debat kompetitif, sebuah
format mengatur hal-hal antara
lain:
jumlah tim dalam satu debat
jumlah pembicara dalam satu tim
giliran berbicara
lama waktu yang disediakan untuk
masing-masing pembicara
tatacara interupsi
mosi dan batasan-batasan
pendefinisian mosi
tugas yang diharapkan dari masing-
masing pembicara
hal-hal yang tidak boleh dilakukan
oleh pembicara
jumlah juri dalam satu debat
kisaran penilaian
Selain itu, berbagai kompetisi juga
memiliki aturan yang berbeda
mengenai:
penentuan topik debat (mosi) –
apakah diberikan jauh hari
sebelumnya atau hanya beberapa
saat sebelum debat dimulai
( impromptu )
lama waktu persiapan – untuk debat
impromptu , waktu persiapan
berkisar antara 15 menit (WUDC)
hingga 1 jam (WSDC)
perhitungan hasil pertandingan –
beberapa debat hanya
menggunakan victory point (VP)
untuk menentukan peringkat,
namun ada juga yang menghitung
selisih ( margin) nilai yang diraih
kedua tim atau jumlah vote juri
(mis. untuk panel beranggotakan 3
juri, sebuah tim bisa menang 3-0
atau 2-1)
sistem kompetisi – sistem gugur
biasanya hanya digunakan dalam
babak elimiasi (perdelapan final,
perempat final, semifinal dan final);
dalam babak penyisihan, sistem
yang biasa digunakan adalah power
matching
Format debat parlementer sering
menggunakan peristilahan yang
biasa dipakai di debat parlemen
sebenarnya:
topik debat disebut mosi (motion )
tim Afirmatif (yang setuju terhadap
mosi) sering disebut juga
Pemerintah ( Government), tim
Negatif (yang menentang mosi)
disebut Oposisi ( Opposition)
pembicara pertama dipanggil
sebagai Perdana Menteri (Prime
Minister), dan sebagainya
pemimpin/wasit debat
( chairperson) dipanggil Speaker of
The House
penonton/juri dipanggil Members
of the House (Sidang Dewan yang
Terhormat)
interupsi disebut Points of
Information (POI)
Australian Parliamentary/
Australasian Parliamentary
("Australs")
Gaya debat ini digunakan di
Australia, namun pengaruhnya
menyebar hingga ke kompetisi-
kompetisi yang diselenggarakan di
Asia, sehingga akhirnya disebut
sebagai format Australasian
Parliamentary. Dalam format ini,
dua tim beranggotakan masing-
masing tiga orang berhadapan
dalam satu debat, satu tim
mewakili Pemerintah
( Government ) dan satu tim
mewakili Oposisi ( Opposition),
dengan urutan sebagai berikut:
1. Pembicara pertama pihak
Pemerintah – 7 menit
2. Pembicara pertama pihak Oposisi –
7 menit
3. Pembicara kedua pihak Pemerintah
– 7 menit
4. Pembicara kedua pihak Oposisi – 7
menit
5. Pembicara ketiga pihak Pemerintah
– 7 menit
6. Pembicara ketiga pihak Oposisi – 7
menit
7. Pidato penutup pihak Oposisi – 5
menit
8. Pidato penutup pihak Pemerintah –
5 menit
Pidato penutup (Reply speech)
menjadi ciri dari format ini. Pidato
penutup dibawakan oleh pembicara
pertama atau kedua dari masing-
masing tim (tidak boleh pembicara
ketiga). Pidato penutup dimulai
oleh Oposisi terlebih dahulu, baru
Pemerintah.
Mosi dalam format ini diberikan
dalam bentuk pernyataan yang
harus didukung oleh pihak
Pemerintah dan ditentang oleh
Pihak Oposisi, contoh:
(This House believes that)
Globalization marginalizes the
poor.
(Sidang Dewan percaya bahwa)
Globalisasi meminggirkan
masyarakat miskin.
Mosi tersebut dapat didefinisikan
oleh pihak Pemerintah dalam
batasan-batasan tertentu dengan
tujuan untuk memperjelas debat
yang akan dilakukan. Ada aturan-
aturan yang cukup jelas dalam hal
apa yang boleh dilakukan sebagai
bagian dari definisi dan apa yang
tidak boleh dilakukan.
Tidak ada interupsi dalam format
ini.
Juri (adjudicator ) dalam format
Australs terdiri atas satu orang atau
satu panel berjumlah ganjil. Dalam
panel, setiap juri memberikan
voting -nya tanpa melalui
musyawarah. Dengan demikian,
keputusan panel dapat bersifat
unanimous ataupun split
decision.
Di Indonesia, format ini termasuk
yang pertama kali dikenal sehingga
cukup populer terutama di
kalangan universitas. Kompetisi
debat di Indonesia yang
menggunakan format ini adalah
Java Overland Varsities English
Debate (JOVED) dan Indonesian
Varsity English Debate (IVED).
Asian Parliamentary ("Asians")
Format ini merupakan
pengembangan dari format Australs
dan digunakan dalam kejuaraan
tingkat Asia. Perbedaannya dengan
format Australs adalah adanya
interupsi (Points of Information )
yang boleh diajukan antara menit
ke-1 dan ke-6 (hanya untuk pidato
utama, tidak pada pidato penutup).
Format ini juga mirip dengan World
Schools Style yang digunakan di
WSDC.
Di Indonesia, format ini digunakan
dalam ALSA English Competition (e-
Comp) yang diselenggarakan
(hampir) setiap tahun oleh ALSA LC
[[Universitas Indonesia].
British Parliamentary ("BP")
Gaya debat parlementer ini banyak
dipakai di Inggris namun juga
populer di banyak negara, sebab
format inilah yang digunakan di
kejuaraan dunia WUDC. Dalam
format ini, empat tim
beranggotakan masing-masing dua
orang bertarung dalam satu debat,
dua tim mewakili Pemerintah
( Government ) dan dua lainnya
Oposisi (Opposition ), dengan
susunan sebagai berikut:
Opening Government: Opening Opposition:
– Prime Minister – Leader of the Opposition
– Deputy Prime Minister – Deputy Leader of the Opposition
Closing Government: Closing Opposition:
– Member of the Government – Member of the Opposition
– Government Whip – Opposition Whip
Urutan berbicara adalah sebagai
berikut:
1. Prime Minister – 7 menit
2. Leader of the Opposition – 7 menit
3. Deputy Prome Minister – 7 menit
4. Deputy Leader of the Opposition –
7 menit
5. Member of the Government – 7
menit
6. Member of the Opposition – 7
menit
7. Government Whip – 7 menit
8. Opposition Whip – 7 menit
Setiap pembicara diberi waktu 7
menit untuk menyampaikan
pidatonya. Di antara menit ke-1
dan ke-6, pembicara dari pihak
lawan dapat mengajukan interupsi
( Points of Information). Bila
diterima, pembicara yang
mengajukan permintaan interupsi
tadi diberikan waktu maksimal 15
detik untuk menyampaikan sebuah
pertanyaan yang kemudian harus
dijawab oleh pembicara tadi
sebelum melanjutkan pidatonya.
Juri dalam debat BP bisa satu orang
atau satu panel berjumlah ganjil. Di
akhir debat, juri menentukan
urutan kemenangan dari peringkat
1 sampai 4 untuk debat tersebut.
Dalam panel, keputusan sebisanya
diambil berdasarkan mufakat. Bila
mufakat tidak tercapai, Ketua Panel
akan membuat keputusan terakhir.
Di Indonesia, format ini digunakan
dalam kompetisi Founder's Trophy
yang diselenggarakan oleh
Komunitas Debat Bahasa Inggris
Universitas Indonesia setiap tahun.
Format World Schools
Format yang digunakan dalam
turnamen World Schools Debating
Championship (WSDC) dapat
dianggap sebagai kombinasi BP dan
Australs. Setiap debat terdiri atas
dua tim, Proposisi dan Oposisi,
beranggotakan masing-masing tiga
orang. Urutan pidato adalah
sebagai berikut:
1. Pembicara pertama Proposisi – 8
menit
2. Pembicara pertama Oposisi – 8
menit
3. Pembicara kedua Proposisi – 8
menit
4. Pembicara kedua Oposisi – 8 menit
5. Pembicara ketiga Proposisi – 8
menit
6. Pembicara ketiga Oposisi – 8 menit
7. Pidato penutup Oposisi – 4 menit
8. Pidato penutup Proposisi – 4 menit
Pidato penutup (reply speech)
dibawakan oleh pembicara pertama
atau kedua masing-masing tim
(tidak boleh pembicara ketiga) dan
didahului oleh pihak Oposisi dan
ditutup oleh pihak Proposisi.
Aturan untuk interupsi (Points of
Information – POI) mirip dengan
format BP. POI hanya dapat
diberikan antara menit ke-1 dan
ke-7 pidato utama dan tidak ada
POI dalam pidato penutup.
Di Indonesia, format ini digunakan
dalam kejuaraan Indonesian
Schools Debating Championship
(ISDC). Beberapa SMU di Indonesia
yang pernah mengadakan kompetisi
debat juga menggunakan format
ini.
American Parliamentary
Debat parlementer di Amerika
Serikat diikuti oleh dua tim untuk
setiap debatnya dengan susunan
sebagai berikut:
Government
Prime Minister (PM)
Member of the Government (MG)
Opposition
Leader of the Opposition (LO)
Member of the Opposition (MO)
Debat parlementer diadakan oleh
beberapa organisasi berbeda di
Amerika Serikat di tingkat
pendidikan menengah dan tinggi.
National Parliamentary Debate
Association (NPDA), American
Parliamentary Debate Association
(APDA), dan National Parliamentary
Tournament of Excellence (NPTE)
menyelenggarakan debat
parlementer tingkat universitas
dengan susunan pidato sebagai
berikut:
Prime Minister – 7 menit
Leader of the Opposition – 8 menit
Member of the Government – 8 min
Member of the Opposition – 8 min
Leader of the Opposition Rebuttal –
4 min
Prime Minister Rebuttal – 5 min
California High School Speech
Association (CHSSA) dan National
Parliamentary Debate League
(NPDL) menyelenggarakan debat
parlementer tingkat sekolah
menengah dengan susunan pidato
sebagai berikut:
Prime Minister – 7 menit
Leader of the Opposition – 7 menit
Member of the Government – 7
menit
Member of the Opposition – 7
menit
Leader of the Opposition Rebuttal –
5 menit
Prime Minister Rebuttal – 5 menit
Dalam semua format tersebut
kecuali CHSSA, interupsi berupa
pertanyaan dapat ditanyakan
kepada pembicara keempat pidato
pertama, kecuali pada menit
pertama dan terakhir pidato. Dalam
format CHSSA, keenam pidato
semuanya dapat diinterupsi.
Di Indonesia, format debat ini
belum populer dan belum ada
kompetisi reguler yang
menggunakannya.
Debat kompetitif selain debat
parlementer
Debat Proposal
Dalam gaya Debat Proposal ( Policy
Debate ), dua tim menjadi
penganjur dan penentang sebuah
rencana yang berhubungan dengan
topik debat yang diberikan. Topik
yang diberikan umumnya mengenai
perubahan kebijakan yang
diinginkan dari pemerintah. Kedua
tim biasanya memainkan peran
Afirmatif (mendukung proposal)
dan Negatif (menentang proposal).
Pada prakteknya, kebanyakan acara
debat tipe ini hanya memiliki satu
topik yang sama yang berlaku
selama setahun penuh atau selama
jangka waktu lainnya yang sudah
ditetapkan.
Bila dibandingkan dengan debat
parlementer, debat proposal lebih
mengandalkan pada hasil riset atas
fakta-fakta pendukung (evidence ).
Debat ini juga memiliki persepsi
yang lebih luas mengenai argumen.
Misalnya, sebuah proposal
alternatif (counterplan ) yang
membuat proposal utama menjadi
tidak diperlukan dapat menjadi
sebuah argumen dalam debat ini.
Walaupun retorika juga penting dan
ikut memengaruhi nilai setiap
pembicara, pemenang tiap babak
umumnya didasari atas siapa yang
telah "memenangkan" argumen
sesuai dengan fakta pendukung dan
logika yang diberikan. Sebagai
konsekuensinya, juri kadang-kadang
membutuhkan waktu yang lama
untuk mengambil keputusan karena
semua fakta pendukung harus
diperiksa terlebih dahulu.
Di Amerika Serikat , Debat Proposal
adalah tipe debat yang lebih
populer dibandingkan debat
parlementer. Kegiatan ini juga telah
dicoba dikembangkan di Eropa dan
Jepang dan gaya debat ini ikut
memengaruhi bentuk-bentuk debat
lain. Di AS, Debat Proposal tingkat
SMU diselenggarakan oleh NFL dan
NCFL. Di tingkat universitas, debat
ini diselenggarakan oleh National
Debate Tournament (NDT), Cross
Examination Debate Association
(CEDA), National Educational
Debate Association, dan Great
Plains Forensic Conference.
Debat Proposal terdiri atas dua tim
beranggotakan masing-masing dua
orang dalam tiap debatnya. Setiap
pembicara membawakan dua
pidato, satu pidato konstruktif (8
atau 9 menit) yang berisi argumen-
argumen baru dan satu pidato
sanggahan (4, 5, atau 6 menit)
yang tidak boleh berisi argumen
baru namun dapat berisi fakta
pendukung baru untuk membantu
sanggahan. Biasanya, sehabis setiap
pidato konstruktif, pihak lawan
diberikan kesempatan untuk
melakukan pemeriksaan silang
( cross-examination ) atas pidato
tersebut. Setiap isu yang tidak
ditanggapi oleh pihak lawan
dianggap sudah diterima dalam
debat. Dewan juri secara seksama
mencatat semua pernyataan yang
dibuat dalam suatu babak (sering
disebut flow ).
Di Indonesia, format debat ini
belum populer dan belum ada
kompetisi reguler yang
menggunakannya.
Lincoln-Douglas Debate
Nama gaya debat ini diambil dari
debat-debat terkenal yang pernah
dilakukan di Senat Amerika Serikat
antara kedua kandidat Lincoln dan
Douglas. Setiap debat gaya ini
diikuti oleh dua pedebat yang
bertarung satu sama lain.
Argumen dalam debat ini terpusat
pada filosofi dan nilai-nilai abstrak,
sehingga sering disebut sebagai
debat nilai (value debate). Debat
LD kurang menekankan pada fakta
pendukung (evidence ) dan lebih
mengutamakan logika dan
penjelasan.
Di Indonesia, format debat ini
belum populer dan belum ada
kompetisi reguler yang
menggunakannya.
Kegiatan lain yang serupa
Model United Nations
Model United Nations adalah
kegiatan yang banyak dilakukan di
tingkat sekolah dan universitas di
dunia. Dalam kegiatan ini, peserta
memainkan peran sebagai delegasi
Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB)
yang mewakili negara tertentu
(dalam kompetisi internasional,
negara yang diwakili umumnya
bukan negara asal sebenarnya dari
tim tersebut).
Di Indonesia, kegiatan ini relatif
belum berkembang. Namun, Jakarta
International School (JIS), sebuah
sekolah internasional di ibukota,
memiliki kegiatan ekstrakurikuler
ini.
Moot court
Kompetisi Moot court biasa
dilakukan oleh mahasiswa hukum di
tingkat universitas.

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s