Posted on

Cinta di Musim Gugur

===¤¤¤===•••===!!!===•••===¤¤¤===

“Aku mengerti bagaimana
perasaanmu! Sulit rasanya
menerima
kenyataan bahwa orang yang kita
cintai menolak cinta kita! Tapi maaf
aku tak mau kau menjadikanku
sebagai tempat pelampiasan
semata!”
dia berbicara membelakangiku.
“Rain-san, ahh gomen, aku
tak seperti yang kau kira! Aku
bahkan
benar-benar menyesal pernah
menyukai dia sebelumnya! Andai
saja
Rain-san datang lebih awal ke
dalam
hidupku, tentu aku akan lebih dulu
menyukaimu dari pada dia!”
Kutatap
pepohonan di sekeliling kami,
selembar daun ginko perlambang
keabadian terjatuh mengenai
rambutku.
Langit senja sore itu menggoreskan
sebundar matahari jingga keemasan
membias di antara awan-awan yang
menyemburat bagai gumpalan
kapas
berwarna. Angin musim gugur
berhembus semakin kencang
mengantarkan hawa dingin yang
menusuk tubuh sampai ke sumsum
tulang.
Tangan-tanganku mengepal erat di
dalam saku mantel. Syal panjang
yang
kukenakan di leher berkibar tertiup
angin. Daun ginko yang menapaki
kepalaku turut terbang beberapa
meter ke belakang sebelum
akhirnya
jatuh ke tanah. Aku menghela
nafas.
Ah.. Mengapa cintaku harus turut
gugur di musim gugur, musim
bernada sendu ini.. Mungkin ini
kesalahanku yang terlalu terburu-
buru
menyatakan cinta pada orang yang
kusukai. Namun aku tidak
memperhatikan keadaan di
sekitarku.
Seharusnya akan lebih baik bila aku
mengungkapkan cinta di musim
semi,
musim di mana bunga-bunga mulai
bermekaran.. Dan pada saat itu
makna cinta akan lebih berarti
melebihi apapun!
“Uun.. Mungkin itulah sebabnya
kau
ditolak oleh Daichi-kun! Selalu ada
hikmahnya di balik setiap masalah
bukan? Aku hanya seorang
pengagummu, bukan berarti aku
menyukaimu! Maaf bila kata-kataku
terlalu kasar! Tapi kuharap kau
tidak
berhenti menjadi seorang mangaka!
Aku suka semua karyamu! ^_^”
“Kamaimasen, tidak apa-apa!”
Ratapku berkaca-kaca.
Rain-san membalikkan badan
seraya
tersenyum menambah indahnya
langit musim gugur.
“Aa.. Kita sudah sampai, di sinilah
aku
tinggal. Mau mampir dulu? Aku
punya
secangkir ocha untukmu, produk
Banzai lho! Murni teh hijau dari..”
Kubalas senyuman Rain-san,
“Doumo, kali lain saja asal kau
menyediakanku sepiring pan-wafel
hangat buatanmu!”
Senyum Rain-san kian
mengembang.
“Jangan patah semangat Yoichimi-chan!
Aku pasti akan baca buah karyamu
yang baru!” Dikepalkannya tangan
kanannya meninju ke udara.
Aku hanya mengangguk sambil
berlalu melanjutkan perjalananku,
pulang ke rumah.
“Ganbatte ne!” Teriaknya lagi, kedua
tangannya melingkar di depan
mulutnya membentuk corong.
Aku hanya membalasnya dengan
lambaian tangan, langkah kakiku
telah
jauh dari posisinya berada.
°°°***°°°
“Akhirnya kau pulang juga! Aku
sudah
lama menunggumu, kuhubungi
ponselmu namun tak aktif! Dari
mana
saja kau?” Gadis itu mendongakkan
kepalanya kepadaku.
“Untuk apa kau ke sini?”
“Hei… Begitukah cara seorang
kakak
menyambut adiknya yang datang
berkunjung?” Dia menyilangkan
kedua
tangannya di depan dada.
“Yui, pulanglah! Jangan membuat
ibumu cemas!” Kubuka kunci pintu
apartemenku.
“Justru kedatanganku ke mari
karena
disuruh oleh ibu! Hmm.. Apakah
kamu sudah tidak menganggap
ibuku
sebagai ibumu lagi?” Yui
menyelonong masuk mengikuti
langkahku.
“Angin apa yang mengantarmu ke
mari? Apakah kau ingin
membujukku
untuk pulang ke rumah?” Kuambil
gelas di atas wastafel. Kemarin
malam
baru saja kucuci dan belum sempat
kurapikan. Kucurahkan air dalam
dispenser ke dalam gelas itu.
“Jangan menganggapku tamu
seperti
ini! Kalau aku haus, aku bisa
mengambilnya sendiri bukan?
Boleh
kan aku menganggap rumahmu
rumahku juga?” Yui meneguk air
minum yang baru saja kusodorkan.
“Angin musim gugur yang telah
mengantarkanku untuk menemui
kakak tunggalku yang telah pergi
meninggalkan rumah selama lebih
dari tiga bulan sejak akhir musim
semi
silam! Ini titipan dari ibu!” Yui
menyerahkan sebuah bingkisan
terbungkus kain begitu rapi berisi
bento.
Kubuka tutup bento itu,
“Ibu selalu mencemaskanmu!
Beliau
berharap kakak segera pulang ke
rumah!”
Jari-jari lentik itu berseluncur di
antara
lautan komik koleksiku pada lemari
liswar yang melekat di dinding
ruang
tengah, tempatku menonton TV,
bersantai sekaligus melakukan
pekerjaanku: membuat manga
(komik).
“Aku dan ayah sudah baca manga
terbarumu! Ayah menyesal telah
marah besar padamu, bahkan
beliau
menangis setelah membaca karya
terbarumu itu! Semua tidak seperti
dugaannya. Beliau berharap kau
mau
pulang, kak!”
Aku tertegun mendengar ucapan
Yui.
Seakan aku tak percaya, setelah apa
yang terjadi padaku tiga bulan
silam.
•••888•••
FLASHBACK 3 bulan silam…
Waktu itu aku tertidur di kamarku,
menggenggam sebuah buku diary
berisi curahan perasaanku untuk
ingin
membuat sebuah manga
terbaruku. Di pagi hari saat ibu
membangunkanku, ibu menemukan
buku diaryku itu dalam keadaan
terbuka di mana tepat
menampilkan
selembar foto yang tertempel di
dalamnya. Foto itu adalah foto
Daichi-
kun, orang yang sangat kucintai
selama ini. Di bawah foto itu
tercetak
tulisan tanganku:
“Daichi-kun, aishiteru yo!”
*Daichi, aku cinta kamu!
Ibu terperanjat membaca isi buku
harianku. Lalu ibu berlari
tergopoh-
gopoh keluar dari kamarku
menyeret
pintu geser membawa buku diaryku
dan menunjukkannya kepada ayah
dengan mimik gelisah.
“Otousan.. Otousan.. Mite
kudasai!” (Ayah.. Ayah.. Tolong
lihat!)
Teriak ibu di koridor rumah.
Derap langkah kaki ibu di atas
lantai
papan terdengar bertalu-talu.
Seperti
ketukan pada pintu yang terus
menerus.
“Nani ga aru?” (Ada apa?) Tanya
ayah
terheran-heran.
“Mite kudasai! Mite kudasai!” Titah
ibu
dengan nafas terengah-engah.
Tangannya menyodorkan buku
harianku yang dibawanya. Ayah
menerima buku tersebut dari
tangan
ibu dan membacanya.
“Haaaa… Tadashii kai?” (Benarkah?)
Mata ayah membulat besar
mengalahkan bentuk aslinya yang
sipit.
Ayah bangkit dari duduknya dan
bergegas menemuiku yang baru
saja
terbangun dari tidur dan belum
menyadari sepenuhnya apa yang
baru saja terjadi.
“Yoichimi-chan.. Yoichimi-chan..” Panggil
Ayah keras.
Aku memicingkan mata menahan
cahaya matahari yang masuk lewat
kaca jendela, serta menggosok-
gosoknya perlahan.
“Hai, otousan.. Ada apa?” Sahutku
PLAK! PLAK! PLAK! PLAK! PLAK!
Di luar dugaan ibu, ayah marah
besar
dan berang kepadaku. Ayah
memukulku dengan sebatang rotan
bertubi-tubi.
“Kau ingin mempermalukan
keluarga
kita, hah?” Hardik ayah berang.
Dihempaskannya buku harianku
tepat mengenai wajahku.
“Kau sudah merendahkan
derajatmu
sendiri dan martabat keluarga kita!”
GUSRRAAAK!
Ayah menyerempetkan tangannya
guna menjatuhkan sederet manga
karyaku di atas rak buku. Selama
ini dia tak pernah tahu isi cerita yang
kugambarkan dalam buku-buku
komik karanganku itu, karena ayah
sangat tidak menyukai komik. Pun
begitu pula dengan ibu. Terkecuali
Yui, yang selalu ingin mengetahui
kepribadianku. Yui sejak lama
sudah mengetahui rahasia terbesarku ini.
Namun sebagai seorang adik, dia
sangat menghargai privasiku.
Sempat melarangku juga, namun karena ia
teramat menyayangiku Yui
merelakan
aku berjalan di jalanku sendiri. Ia
sama sekali tak membujukku untuk
kembali ke jalan yang seharusnya
kutempuh mengikuti keinginan ayah.
Menjadi seorang dokter.
PLAK! PLAK! PLAK!
Kembali ayah memukuliku dengan
rotan di tangannya.
“Otousan.. Gomen kudasai
ne!” (Ayah.. Mohon ampuni aku!)
Rintihku menahan sakit sambil
berlutut merengkuh kaki ayah.
“Owatte! Owatte
otousan!” (Hentikan!
Hentikan ayah!) Cegah ibu.
PLLAAAAKK….
Ibu terpekik berusaha
melindungiku
hingga akhirnya pukulan terakhir
ayah mengena punggung ibu, sampai
rotan tersebut patah.
•••888•••
Sejak saat itu aku pergi
meninggalkan
rumah. Dan di sinilah aku berada
sekarang. Di sebuah apartemen
tepat
di tengah-tengah hiruk-pikuk
ramainya Kota Tokyo.
“Kue-kue ini sangat lezat! Aroma
daun momoji begitu kental terasa!”
Aku mengalihkan pembicaraan.
“Ya, ibu selalu ingat kue
kesukaanmu
itu kak!” Pandangannya tak beralih
dari buku komik yang sedang
dibacanya.
Sesekali ia mengeluarkan tawa.
“Oya, Daichi-kun ternyata sangat
tampan juga ya! Hansamu ne!
Pantas saja kakak suka padanya! Aku juga
tergila-gila padanya!” Yui
menyunggingkan senyuman,
kepalanya miring ke bahu kiri.
“Tenang, aku takkan merebutnya
Darimu, kakak!!”
Pandangannya menyipit ke arahku,
dengan senyuman yang dipaksakan,
dan tangannya mengibas-ngibas
memberi isyarat ‘tenang saja’.
“Hmm.. Tak apa! Ambil saja
buatmu!”
Balasku cuek.
Yui menatapku lekat.
“Aku baru saja ditolaknya minggu
lalu!” Imbuhku.
Yui beranjak mendekatiku lalu
memeluk punggungku. Dan
menyandarkan kepalanya di
tengkuk leherku.
“Maafkan aku, Kak!”
“Lupakan! Kau beruntung, kau
terlahir
sebagai anak bungsu!”
“Maksud Kakak? Wakaranai yo!”
Kuputar badanku menghadapnya.
“Bekerja di penerbit manga,
bukan berarti dia menyukai komik!” Cetusku.
Mata imouto-ku itu berbinar
Sebening kristal.
“Kak, maafkan aku! Sebenarnya aku
mendapatkan alamat apartemenmu
ini dari Daichi-kun! Aku datang ke
kantor penerbit dan menemuinya,
karena kau sulit ditemui!”
“Hmm.. Sudah kuduga! Pantas
rasanya aku pernah melihatmu
datang berkunjung ke kantor kami
beberapa kali!”
“Kakak harus tegar ya, rasanya
pasti sangat sakit ditolak oleh seseorang
yang sangat kita cintai!”
Yui menggenggam erat tanganku.
“Aku tidak menyesal meski telah
ditolak olehnya, karena…”
“Apakah ani mendapatkan seorang
pengganti Daichi-kun yang jauh
lebih tampan?” Ia selalu begitu, memiliki
kebiasaan yang sama denganku:
selalu memotong pembicaraan
orang lain sebagai lawan bicara. Mungkin
kami berdua akan sangat cocok bila
bekerja di sebuah lembaga sensor
film, memotong adegan-adegan film
yang tidak layak tayang. Hmm.. Apa
hubungannya ya?!
“Kakak…”
“Kamu memang pandai membaca
pikiran orang lain ya!” Tatapku
lurus.
“Kakak cepat sekali jatuh cinta ya?
Syukurlah, kakak cepat bangkit dari
keterpurukan! Aku dukung kakak
sepenuhnya!”
“Arigatou Yui-chan! Kamu adik yang
pengertian!” Kupegang kedua bahu
adik perempuanku itu.
“Huaa.. Rumah ini nyaman sekali
ya! Sepertinya aku akan kerasan tinggal
di sini!” Yui mengejapkan pandangan
ke seputar ruangan.
Aku mengernyitkan kening.
“Maksudmu?” Tanyaku singkat.
“Taraaaa…”
Yui menarik sebuah tas koper yang
tak kuperhatikan sama sekali
sebelumnya.
“Mulai minggu depan aku pindah
kuliah ke universitas dekat daerah
sini,
boleh kan aku menemanimu di sini?
Kau pasti memerlukan teman yang
selalu menyediakan masakan dan
merapikan rumah setiap hari!”
Senyuman menyeringai itu
mengembang lebar.
Baru kusadari maksud
perkataannya
saat kusodorkan segelas air minum
padanya tadi.
“Imouto-chan, kamu sedang tidak
ada masalah di rumah kan, sehingga
menyusulku ke mari!” Selidikku.
“Jamin deh, nggak ada masalah apa-
apa kok!” Kedua jari kanannya
membentuk huruf V tanda
bersumpah. Senyuman lebar itu tak
pernah luput dari mimik wajahnya
yang lucu.
Kusenggol dua kuncir rambut yang
tertata di kepalanya. Bibirnya
merengut tanda tak suka
diperlakukan
seperti anak kecil.
“Sekarang mana kamarku?” Dia
berlari
kecil mengelilingi seluruh ruangan
dalam rumah dan membuka pintu-
pintu yang tertutup.
Hmm…
¤¤¤•••¤¤¤
“Tadaima!” teriakku menarik handle
pintu ruang depan.
Yui tergopoh-gopoh menyambut
kedatanganku.
“Okaeri..” Sambutnya hangat.
“Rain-san, douzo ohairi (silakan
masuk)! Perkenalkan, ini imouto,
Yui-chan!”
Rain-san membungkukkan setengah
badan (ojigi) memberikan
penghormatan kepada Yui.
“Hajimemashite, Yui-san, Rain
Kanagawa desu!” (Perkenalkan,
Nona Yui, saya Rain Kanagawa!)
“Kochirakoso Kanagawa-san, Yui
Watanabe desu!” (Salam kenal
kembali Tuan Kanagawa, saya Yui
Watanabe!)
Yui membalas ojigi kepada Rain-
san.
“Ee.. Rain mo ii, panggil saja Rain
ya!”
“Kalau gitu aku panggil Rain-kun
saja
ya?” Yui mempersilakan Rain-san
untuk duduk di ruang kerjaku yang
mungil. Tangannya sibuk
mencurahkan air hangat ke dalam
cangkir menyeduhkan capuccino.
Dia adik yang pengertian, batinku.
“Waa.. Sugoi! Ini semua manga
buatanmu kan, Yoichimi-chan?” Rain-
san
memandang takjub pada deretan
komik tebal karanganku.
“Hmm..” Sahutku.
“Aku baru tahu kalau sebenarnya
Yoichimi-chan telah menelurkan lebih
dari
20 judul manga! Yang aku tahu
buah
karya Yoichimi-chan: Selembar Daun
Momoji, Ame ga Furanai (Hujan
yang
tak turun), Tokyo Summer Night,
bla..bla..bla..”
“Silakan diminum capuccinonya!”
Yui menyorongkan dua cangkir
minuman pada kami berdua.
“Ups.. Bau hangus apa ini?”
Hidungku
mengendus-endus aroma gosong.
“Wuuuaaaa…. Lupa, tadi aku lagi
memanggang kue shortcake!” Yui
tergesa-gesa berlari menuju dapur.
(U_U)”
Saking terburu-buru sandal karet
yang
dipakai gadis periang itu terlepas
dan
melayang tepat menyinggung
terkena
cangkir kopi yang akan diminum
oleh
Rain-san.
PYAR!
Capuccino itu tumpah membasahi
kaus Rain-san.
“Aww.. Panas!” Kaget Rain-san.
Ia mengibas-ngibaskan kausnya
beberapa cm menjauh dari
tubuhnya.
Tanpa kuduga Rain-san
menanggalkan baju kaus yang
dipakainya. Wooow.. Sungguh
pemandangan yang indah bagiku.
Tubuh putih berpetak-petak
tercetak
jelas bagai lipatan dan patahan
dataran permukaan bumi.
Menonjolkan bentuk kejantanan
maskulin.
Rain-san permisi menuju kamar
kecil
untuk memeras baju kausnya.
Mataku
turut mengantarnya menuju kamar
mandi membilas bersih tubuh
proporsional lelaki jantan itu walau
dari kejauhan. Sekali dua kali Rain-
san
melirik ke arahku. Mungkin ia tahu
bila aku tak berhenti
memandanginya.
“Boleh aku pinjam kausmu?”
Tanyanya tiba-tiba.
Aku sedikit tertegun mendengar
permintaan yang diajukannya.
“Eh.. Oh.. Ya, tentu saja boleh! Mari
ikut ke kamarku!” Ajakku.
Andai saja Yui tidak berada di
rumah
ini, sudah pasti aku dapat berbuat
lebih bebas terhadap Rain-san,
lelaki
yang berhasil memupus rasa
cintaku
terhadap Daichi-kun, sejak
pertemuan
pertamaku dengannya, dua minggu
lalu. Uh sheet! Aku harus bisa
menahan diri.
¤¤¤•••¤¤¤
FLASHBACK
“Gomen ne, Yoichimi-chan, sekali lagi
saya minta maaf. Walau saya
bekerja
di penerbit komik, tetapi saya
seorang tidak menyukai komik!
Saya tidak juga menyukai karya Anda!
Begitu juga perasaan saya kepada Anda!
Mungkin dalam waktu dekat saya
akan melamar seorang wanita yang
sangat
saya cintai! Mohon pengertian
Anda!”
Daichi-kun membungkuk di
hadapanku.
“Maaf aku sudah salah duga,
kupikir
Daichi-kun menyukai karya
kami!” Aku turut membungkuk di
depannya,
Lama kami terdiam, hingga tiba-
tiba
sosok itu muncul di saat mata ini
ingin
menangis. Sekian lama aku
memendam rasa namun hanya
menghasilkan buah kisut tanpa isi.
Benih-benih cinta yang kusemai di
taman hatiku kini telah melayu
sebelum berkembang. Bagai disayat
buluh sembilu, hatiku hancur
berkeping-keping. Bahkan dunia
terasa seperti berhenti berputar,
dan
jam di dinding berhenti berdetak.
“Daichi-kun, sudah lama
menunggu?”
Tegur sosok itu ramah bersahaja.
“Tidak juga! Orang yang ingin kau
temui sudah bersama kita di sini!”
Pandangan Daichi-kun beralih
menuju
arahku.
“Yoichi-kun, ini adalah Rain
Kanagawa, penggemar berat manga
anda yang berjudul Ame ga
Furanai!”
Rain-san berdiri membungkukkan
badan ke hadapanku. Aku bangkit
berdiri membalas ojigi yang
dilakukannya dengan sangat
hormat.
“Yoichimi Watanabe!” Aku
menyerahkan
selembar kartu namaku.
“Ah, gomen, saya harus pergi
sekarang! Silakan anda berdua
berbincang-bincang!” Daichi-kun
berpamitan padaku.
Aku memalingkan wajah ke arah
dinding kaca samping tempat
dudukku. Rain-san menoleh padaku
sesaat setelah melambaikan
tangannya pada Daichi-kun.
“Pemandangan di luar sana indah
ya?
Walaupun sebagian pepohonan
telah
menggugurkan daunnya!” Rain-san
membuka percakapan di antara
kami.
“Dedaunan itu gugur di musim yang
salah!” Gumamku pelan.
“Apa?” Tanyanya.
“Ah, tidak!” Sahutku lesu.
“Aku sangat suka gambar-gambar
buatanmu! Semuanya tampak
hidup!
Aku masih ingat salah satu
percakapan yang sangat berkesan
dalam dialog Ame ga Furanai, ‘Cinta
datang tak kenal musim! Walau
bukan
di musim semi cinta tetap akan
selalu
bersemi! Meski itu musim panas
cinta
akan selalu tetap hangat di hatimu!
Saat musim gugur tiba cinta takkan
rontok seperti daun yang
meranggas!
Kendati musim dingin sekalipun
cinta
takkan membeku menjadi es dan
dingin seperti salju!’ Aku sangat
suka
kalimat-kalimat itu!”
Aku terpana mendengar ucapan
pria
muda berwajah tirus itu. Baru kali
ini
aku menemukan orang yang begitu
hafalnya kutipan dialog dalam
cerita
yang kubuat. Aku takjub.
Rain-san tersenyum tipis, sungkan!
“Maaf kalau terdapat kata yang
salah
dalam sitiranku”,
Aku menggeleng. Baru kusadari
lelaki
ini jauh lebih tampan daripada
lelaki
yang baru saja berlalu dari
hadapanku. Hmm.. Mungkin ini
semua sudah diatur oleh Tuhan,
alasan mengapa aku harus
terabaikan
oleh Daichi-kun beberapa puluh
detik
yang lalu. Aku mulai yakin, Tuhan
sedang mengutus ke hadapanku
seorang lelaki yang dapat
menerimaku
apa adanya. Aku termangu di depan
kaca.
“Terkadang sesuatu yang terlihat
indah di luar, sebenarnya ia rapuh
di
dalam! Juga sebaliknya, sesuatu
yang
terlihat kuat dan tegar malah
menutupi kehancuran di
dalamnya!”
Kubertopang dagu di samping
dinding kaca bening yang
memantulkan bayangan tubuhku.
Sering kubertanya pada diriku
sendiri
mengapa sesuatu yang sama itu
harus terlihat terbalik di dalam
sana?!
“Hmm.. Itulah yang disebut maya!
Apa
yang kita lihat hanyalah sebuah
ilusi!”
Respon Rain-san.
“Rain.. Namamu berarti hujan kan?
Sama seperti judul manga
karanganku
Ame ga..”
“Ya, namaku berarti hujan Yoichi-
kun!
Boleh kupanggil namamu Yoichi-
kun?”
Hidung mancung itu menghirup
aroma bunga segar dalam
jambangan
bunga di atas meja.
Aku mengangguk mengiyakan.
“Dalam manga-mu tokoh yang
bernama Koichiro sangat
mengharapkan turunnya hujan di
saat
bukan waktunya! Hujan sebagai
anugerah tuhan yang dapat
menyuburkan ladang cinta yang
tengah ia garap, untuk seorang
kekasih pujaan yang bernama
Daichi!
Namun hujan yang didambakan tak
kunjung turun. Maaf, bila saya
lancang
berbicara apakah tokoh Daichi
dalam
cerita itu sebenarnya adalah
Daichi-
kun redaktur manga anda? Dan
tokoh
Koichiro itu sebenarnya adalah
anda?!” Rain-san berbicara dengan
intonasi yang teratur dan sangat
hati-
hati. Mungkin ia takut menyinggung
perasaanku.
Aku terkesiap mendengar
penuturannya. Benar-benar luar
biasa
tidak hanya kutipan dialog yang
sangat dihafalnya, bahkan ia dapat
menebak dengan tepat gambaran
karakter yang kugoreskan pada
setiap
helai ceritaku.
“Semuanya sudah menjadi nyata,
Rain-san! Dengan segenap
kekuatan,
aku telah memperjuangkannya!”
Aku
menunduk dalam.
“Wakatta.. Aku turut berduka
Yoichi-
kun!”
*Wakatta : Saya mengerti
“Kamaimasen, Rain-san! Matahari
selalu tersembunyi di balik awan
ketika langit mendung! Pada
akhirnya
setelah mendung dan hujan turun ia
keluar juga!” Tepisku.
“Ng…?!” Rain-san hanya dapat
menggumam, terlihat ragu-ragu
mengatakan sesuatu.
Karena kata “Ng..” itulah
hubunganku
dengan Rain-san mulai dekat.
Sedikit demi sedikit aku
mengetahui
latar belakang kehidupan
pribadinya.
Ia adalah seorang pemilik caffe
tidak
jauh dari tempatku bekerja.
Biasanya
ia menghabiskan waktunya sehari-
hari
membuat pan-wafel, dan ice cream
cone. Ia begitu tertarik membaca
manga-ku karena terdapat tokoh
Daichi-kun yang sangat nyata
kulukiskan. Dan sejak saat itu dia
berharap dapat bertemu langsung
denganku sang mangaka. Tujuannya
adalah untuk memberitahuku
perihal
orientasi sexual Daichi-kun
sesunguhnya. Namun terlambat
baginya, karena kemunculannya
tepat
setelah aku mengetahui kenyataan
sejati yang sebenarnya dapat
menyiksa perasaanku lebih dalam.
Seandainya Rain-san tak pernah
muncul di hadapanku tentu aku
akan
sangat terpuruk larut dalam
kesedihan penolakan cinta.
Pernyataannya yang begitu
mengesankan telah membuatku
terlupa bahwa aku sedang bersedih.
Juga, paras wajahnya yang teramat
tampan, telah meneduhkan
gemulung
ombak di lautan yang menghadang
batu karang. Apakah aku telah
jatuh
cinta kepadanya? Aku tak tahu,
begitu
mudahnya kah aku jatuh cinta dan
berpaling ke lain hati!?
Bagaimana pun aku amat bahagia
karena dapat mengenalnya sejak
saat
itu.
¤¤¤•••¤¤¤
“Mengapa kau memandangiku
seperti
itu?” Kelihatannya ia jengah
kuperhatikan.
Tubuh tegap itu berjalan
mendekatiku. Dia masih
bertelanjang
dada di hadapanku seperti saat
masuk kamar tadi. Jantungku
mendadak berdebar lebih kencang
dari biasanya. Dan.. Benar saja
Rain-
san mendorong tubuhku ke sudut
ranjang dan menimpa tubuhku.
Kedua tangannya bertumpu pada
kasur. Keringat dingin mulai keluar
di
sisi-sisi wajahku. Wajahnya
mendekati
wajahku. Aku memejamkan mata.
“Apakah kau sedang memiliki hasrat
untuk bercinta?” Bisiknya pelan di
telingaku.
Jari telunjuknya berseluncur di atas
wajahku. Membuai hasrat ragaku.
Kurasakan medan magnet terbesar
pada tubuhku telah berusaha
menarik
magnetlain untuk saling merapat.
“Katakan padaku, bahwa aku
bukanlah tempat pelampiasan
bagimu!” Bisiknya lagi.
Darah dalam tubuhku berdesir
bergejolak bagai air yang mendidih
di
atas kompor. Aku tak dapat lagi
menahan hasratku. Dengan segenap
tenaga yang kumiliki aku pun
berbalik
menimpa tubuhnya. Kubelai
dadanya
yang bidang putih mulus bak
pegunungan Alpen yang berselimut
salju.
“Hmm.. Kau bukan tempat
pelampiasan bagiku, karena ku tak
ingin menodai sejatinya cinta yang
kumiliki!” Kukecup leher jenjang
nan
menawan itu.
“Bangunlah! Kenakan baju yang di
atas meja itu, di luar Yui sedang
menunggu kita!” Bisikku halus
teramat pelan.
Kami pun bangkit berdiri. Rain-san
meraih kaus yang telah kusiapkan
untuknya. Bersama kami beranjak
keluar kembali ke ruang tengah.
“Duh, maaf ya cakenya gosong! Tapi
krim yang melapisinya manis lho!”
Nada bicara Yui terdengar kecewa.
Kami semua tertawa menatap
ekspresi wajahnya yang sangat lucu
itu. Yui terlihat seperti anak kecil
yang
merengut sedih.
Tanpa malu-malu Rain-san
mencomot kue di visin kecil yang
disodorkan oleh Yui.
“Tampaknya kau harus belajar
memasak dengan Rain-san!
Terutama
belajar membuat cake seperti pan-
wafel, hmm.. Lezat sekali!” Kutepuk
bahu Yui pelan.
“Oya? Kau pandai memasak Rain-
san?” Yui melempar pandangan
pada
Rain-san.
“Uun, ryouri wa anmari jouzu
dewanai!” (Tidak, saya tidak begitu
pandai memasak!) Sangkal Rain-san
merendah.
“Oya, bagaimana kalau Yui diterima
kursus di caffe tempatmu? Hitung-
hitung biar dia kerja part time
n_n!”
Bujukku.
Yui membungkuk,
“Yoroshiku ne!” (Mohon
bimbingannya!)
“Baiklah, datanglah ke tempatku
kapan pun kau mau!” Rain-san
akhirnya luluh juga.
“Wah, maaf aku ada janji dengan
seseorang! Kapan-kapan aku akan
datang lagi!” Pamit Rain.
“Bajumu yang kotor biar ditinggal
di
sini saja, nanti aku kan
mencucikannya!” Sergahku.
“Maaf sudah banyak membuat
repot!”
Rain-san berlalu dari hadapanku
dan
Yui.
“Jadi, orang itukah yang kini telah
menghapus nama Daichi-kun dari
hatimu, ani?” Yui melirikku.
“Tampan sekali!” Gumamnya.
xxx000xxx
Hari yang panas, biasanya cuaca
seperti ini menjadi pertanda bahwa
sore nanti akan turun hujan.
Tok! Tok!
Terdengar suara pintu depan
diketuk.
Dengan langkah gontai segera
kubuka
untuk menemui siapa tamu yang
datang berkunjung kali ini. Semoga
saja orang itu adalah Rain-san,
harapku.
CKLEK!
Mereka? Cuaca panas hari ini
rasanya
semakin bertambah dengan
hadirnya
wajah-wajah itu ke hadapanku.
“Masuklah!” Sambutku.
“Ani, siapa yang datang
berkunjung?”
Teriak Yui dari ruang tengah.
Mereka mengikuti langkahku ke
ruangan tempat di mana Yui
berada.
“Ayah.. Ibu..” Yui terpaku menatap
kedatangan mereka yang tak pernah
kami duga selama ini.
Ibu membuka percakapan di antara
kami.
“Rumah tanpa kalian terasa sepi
nak!”
Ujung mataku melirik Yui yang
terduduk di sebelahku. Yui berubah
menjadi kikuk. Tampak kecemasan
terukir pada raut wajahnya.
“Kalian adalah anak-anak ibu, ibu
tak
bisa hidup tanpa kalian! Pulanglah,
pintu rumah selalu terbuka lebar
untuk kalian!”
Aku menunduk tak kuasa menatap
wajah setengah baya di hadapanku
ini.
“Kalian harus segera mengakhiri
kisah
cinta segitiga di antara kalian!” Ibu
menghela nafas pendek.
Aku mengerutkan dahi. Aku sama
sekali tak mengerti apa maksud
ucapan ibu.
“Kemarin pihak keluarga Daichi-kun
telah datang ke rumah untuk
melamarmu Yui!” Imbuh ibu.
JLEG!
Hatiku tersentak. Benarkah apa
yang
baru saja kudengar tadi? Jadi,
wanita
yang akan dilamar oleh Daichi-kun
saat ia menolakku tempo hari lalu
adalah Yui, adik kandungku sendiri?
Bagaimana ini bisa terjadi seperti
ini?!
“Ayah memohon maaf padamu
Yoichi! Tak seharusnya ayah
memukulimu waktu itu. Ayah
menyesal…” Ayah duduk bersimpuh
menundukkan badan memohon
maaf.
“Otousan.. Jangan seperti ini! Justru
aku yang salah telah mencoreng
nama baik keluarga!” Kurengkuh
tubuh ayah.
Ayah menangis,
“Selama ini, ayah tak pernah
memperhatikanmu, sehingga ayah
tidak pernah mengetahui
pergolakan
batin yang terjadi pada dirimu!
Setelah kamu pergi meninggalkan
rumah, ayah baru mau membaca
manga karanganmu! Ayah tersentuh
akan apa yang kau derita, nak! Ayah
mohon maafkanlah ayah! Ayah
sungguh sangat menyesal!”
“Sudahlah otousan! Aku yang
seharusnya meminta maaf pada
ayah
dan ibu!” Ayah mempererat
pelukannya, air matanya jatuh
menetesi bahuku.
“Kau sudah dewasa nak! Kami
menyadari sepenuhnya, jalan
hidupmu kau sendirilah yang
menentukannya! Apapun keputusan
kalian, kami akan sangat
menghargainya!” Tandas ibu.
“Terima kasih ayah, terima kasih
ibu!”
Ungkapku haru.
Yui turut menitikkan air mata
seraya
tersenyum bahagia. Kutarik kuncir
rambutnya sebelah kiri.
“Aww..” Pekiknya kecil.
“Kamu bilang, kamu tidak ada
masalah di rumah, heu..”, bisikku
di
telinganya.
“Hehehe.. Maafkan aku, ani! Aku
cuma
tak mau ani repot memikirkan
aku!”
Gadis periang itu mulai terkekeh.
“Ending yang bahagia kan?”
Bisiknya
lagi.
“Siapa bilang ini sudah ending?”
Sungutku sedikit jengkel.
“Maaf kak, sebenarnya aku dan
Daichi-kun sudah lama berpacaran!
Tetapi setelah aku tahu kakak jatuh
cinta padanya aku memilih untuk
bungkam, biar Daichi-kun yang
memutuskannya!” Yui tertawa
cekikikan.
“Ya, dan akhirnya dia memilihmu!”
Jawabku datar.
“Maaf ya kak!” Berkali-kali Yui
merapatkan kedua tangannya
memberi sembah padaku.
“Sudahlah, sekarang tinggal aku
berjuang untuk mendapatkan
cintaku
yang baru walaupun ini musim
gugur!” Aku menengadah ke langit-
langit membuang pandangan dari
Yui.
“Kak, cinta itu tak kenal musim
bukan? Tak selamanya cinta itu
harus
bersemi di musim semi! Walaupun
musim gugur cinta itu akan tetap
dapat tumbuh di hati setiap orang
yang mempunyai semangat
perjuangan cinta!” Lagi-lagi aku
terkesima, ternyata bukan hanya
Rain-
san yang hafal akan kutipan dialog
dalam manga-ku. Bahkan Yui
mampu
menyitir bagian klimaks dari Ame
ga
Furanai!
“Doumo, imouto-chan!” Kuacak-
acak
lagi kuncir rambut adikku itu.
“Aaw..” Pekiknya lagi.
»»»¤¤¤«««
Langit sore ini tampak mendung
seperti prediksiku tadi siang,
kelihatannya sore ini akan turun
hujan.
Musim gugur menemaniku
Melukiskan jejakku pada puing-
puing
waktu
Lalu berkelana menembus semua
pekatku..
Winter, akan segera menyapaku
Ada desau resah bergelayut di kalbu
Ia mengganggu pertahanan asaku
Maka musim-musim-Mu
Hanyalah petikan dawai yang
sebentar
lagi akan beranjak..
Ia akan pergi menjauh atau
mungkin
akan duduk lagi disini..
Biarlah kurebahkan gundah pada
dinginnya udara
Kutitipkan rindu pada gugurnya
daun..
Kusampaikan salam pada desauan
angin yang berbadai..
Dan kunisbahkan cinta pada Sang
Pemilik Rasa..
Hingga nanti..
Ketika musim-musim-Mu kembali..
Ia akan bangga melihatku…
Karena dukanya…
Lukanya…
Cintanya…
Penantiannya…
Telah kumuarakan dalam harapku…
“Ini bajumu!”
Kuserahkan bingkisan berisi pakaian
kepada Rain-san. Wajahnya tampak
fresh hari ini dengan gaya casual
terlihat lima tahun lebih muda dari
usia sesungguhnya.
“Terima kasih!” Ia menerima
bingkisan yang kuserahkan.
Rain-san tersenyum.
“Aku sudah memutuskan bagaimana
akhir dari kisah Ame ga Furanai!”
“Oya, bolehkah aku mengetahuinya
sekarang?” Sahutnya antusias.
“Tunggu saja sampai aku selesai
menggambar beberapa lembar
terakhir!” Timpalku.
“Hmm.. Baiklah kalau begitu! Aku
akan
menanti, Yoichi-kun boleh aku
mengutarakan sesuatu?” Rain-san
mendesah pelan.
“Aku juga ingin berbicara
denganmu
Rain-san! Terima kasih ya sudah
hadir
ke dalam hidup aku!”
Langit mendung semakin
menggantung. Awan perak
berkelebat
membayangi bumi. Daun-daun
mapel
berguguran jatuh ke tanah, kuning
kemerahan.
“Aku tahu apa yang telah
mengantarkanmu ke hadapanku
pada
pertemuan kita pertama kali dulu..”
Rain-san terkesima, sejenak ia
masih
berdiri mematung.
“Sebenarnya dulu kau pernah
ditolak
oleh Daichi-kun, bukan? Kau datang
padaku karena membaca manga-ku
yang sebenarnya merupakan
curahan
hatiku kepada Daichi-kun. Jadi kau
ingin memberitahuku bahwa
Daichi-
kun bukan bagian dari dunia kita!”
Burung-burung robin beterbangan
menghinggapi dahan mencari
tempat
berlindung berteduh dari hujan
yang
mungkin tidak lama lagi akan
turun.
“Bagaimana kau tahu Yoichi-kun?
Aku
baru saja ingin mengatakannya
padamu!”
Aku tak menggubris pertanyaannya.
“Sama seperti langit ini,
bersediakah
kau menjadi hujan dalam asaku
yang
selama ini kudamba? Hujan yang
memberiku keteduhan di saat aku
kering gersang akan hausnya cinta!
Hujan yang pada akhirnya reda
mengantarkan pelangi dan
memberikan warna-warna yang
indah
ke dalam hidupku!”
“Hey, Yoichi-kun, kau tidak
menjadikanku tempat
pelampiasanmu kan?” Rain-san
memegang kedua pundakku.
Ini bukanlah pertanyaan pertama
darinya menanyakan
kesungguhanku
untuk mencintainya. Aku tak peduli
apakah ini terlalu cepat atau tidak,
karena Cinta tak mengenal musim!
Cinta tak mengenal waktu. Ia bisa
datang kapan saja ia mau sesuka
hati.
Ia juga bisa pergi kapan saja ia
bisa.
Seperti halnya dengan diriku yang
begitu cepat dapat melupakan
Daichi-
kun hanya beberapa momen setelah
kehadiran Rain-san yang
membuatku
terlupa akan Daichi-kun.
Zzrrrrrrrssssssssss…..
Rintik-rintik hujan mulai turun.
“Hujan ini, telah lama kunanti
kedatangannya! Rain-san arigatou
ne!” Aku berhambur ke dalam
pelukan tubuhnya yang tegap.
Perlahan hujan semakin deras
bergemericik menderu menyapu
dedaunan yang gugur di sepanjang
jalan. Kami berdua basah kuyup.
Dalam deras air hujan, masih dapat
kulihat dengan jelas rona sepasang
kekasih yang sedang dimabuk
kasmaran, berpayung di bawah
sebatang pohon oak nan besar. Yui
dan Daichi-kun tampak sebagai
pasangan yang berbahagia.
“Yoichi-kun, kau basah kuyup.
Sebaiknya kita pulang ke rumahku!”
Tanpa persetujuanku Rain-san
berlari
sembari menarik tanganku.
“Kau tinggal sendiri di rumah ini?”
Kuamati rumah mungil berlantai
dua
itu.
Tidak ada tanda-tanda adanya
makhluk lain sebagai penghuni
rumah
ini. Rain-san menggiringku ke
ruang
tidurnya.
“Tanggalkan pakaianmu! Kau basah
kuyup sekali! Pakaianmu ada di sini
juga kan?!” Rain-san menarik ke
atas,
baju yang kupakai.
Dia sudah bertelanjang dada sejak
tadi.
“Heei.. Kau pernah berjanji kan,
kalau
aku mampir ke rumahmu, kau akan
membuatkanku secangkir ocha
hangat dan sepiring pan-wafel?”
Peringatanku padanya.
“Kemarilah! Mendekatlah padaku!
Maka kau kan kuberi ocha dan pan-
wafelku padamu!” Rain-san
tersenyum, kedua matanya
melirikku
genit.
Tanpa harus menunggu perintahnya
untuk kedua kali, aku pun langsung
menghamburkan diri ke dalam
pelukannya. Rain-san memelukku
hangat menciumi wajah dan bibirku
dengan lembut. Kemudian setelah
beberapa saat lamanya kami pun
bergelung di bawah gabar selimut.
Hujan tak kunjung henti menambah
syahdu kehangatan percintaan kami
berdua di atas peraduan.
“Sayang, apakah seperti ini akhir
dari
manga Ame ga Furanai (Hujan yang
tak kunjung turun)?” Rain-san
melingkarkan tangannya di
pinggangku, bibirnya tiada berhenti
memberikan kecupan-kecupan di
sekujur tubuhku.
“Hmm.. Kayanya aku harus ganti
judul
deh, jadi Ame ga Owaranai (Hujan
yang tak berakhir)!” Kubalas
kecupan-
kecupanhangatnya dengan
sentuhan
lembut bibirku di bibirnya.
Sungguh ocha (teh) dan pan-wafel
yang disuguhkannya sangatlah
nyaman dan nikmat!
===000===The_End===000===

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s