Posted on

My Name is Cloudy

Sapporo,17 Desember 2005

Salju mulai turun setelah musim
gugur yang pendek berakhir.
Dedaunan kemerahan telah jatuh
berguguran meninggalkan
batangnya. Seperti halnya diriku
yang telah ditinggalkan teman-
teman sebangsa yang pulang ke
tanah air. Mendung langit terlihat
dari jendela kaca kamarku, begitu
kelam bak hatiku. Aku rindu kepada
mama, papa, kakak, juga Reinald.
Ah, tidak! Jangan pernah
mengenang mereka lagi!
Hatiku benar-benar kelam bila
mengingat mereka. Mendung
seperti namaku: CLOUDY. Aku
teramat sangat benci pada namaku
sendiri. Mama bilang saat aku
dilahirkan langit seharian mendung
namun tak kunjung menurunkan
hujan. Oleh karena itu mama yang
kebetulan guru Bahasa Inggris
memberiku nama: CLOUDY SKY.
Yang berarti LANGIT MENDUNG.
Aku sama sekali tak pernah
menyangka kalau namaku akan
membawa suasana hatiku selalu
mendung, selalu diliputi kesedihan.
Segulung rol film kembali berputar
di kepalaku, bayangan-bayangan
masa lalu kembali tertayangkan di
penglihatanku, tertuju pada
kampung halamanku: BOGOR.
Dua tahun yang lalu, kota dimana
aku dilahirkan 18 tahun silam
adalah kota berhati beku yang tak
pernah mengizinkan aku untuk
merasakan kebahagiaan.
Sesuai dengan popularitasnya
Bogor terkenal dengan julukan Kota
Hujan, kota yang memiliki curah
hujan tertinggi di Indonesia
sepanjang tahun. Bogor akan terasa
sangat dingin bila hujan sedang
turun deras. Dan aku merasa mati
beku karena kedinginan. Dingin,
sedingin salju yang kini sedang
kutatap di negeri sakura ini.
Hari itu mama telah berjanji
padaku akan menyaksikan malam
penyerahan penghargaan gelar duta
wisata kota kami: Mojang-Jajaka
Bogor. Tapi sore itu saat mama dan
papa tengah berada dalam
perjalanan menuju Balai Kota,
langit mendadak mendung, kendati
setelah setengah jam berlalu pun
tak kunjung menurunkan hujan.
Karena cuaca mendung pulalah
mama mengurungkan niatnya
sementara. Papa memarkirkan
mobilnya di tepi jalan tak jauh dari
sebatang pohon asam yang begitu
tinggi dan batangnya berdiameter
1,5 meter. Papa turun dari mobil,
kemudian memasuki sebuah outlet
ATM tak jauh di seberang jalan.
Mungkin papa bermaksud
mengambil uang tabungannya
sedikit untuk membelikanku sebuah
hadiah, meskipun aku tidak juara
nantinya. Mama menanti papa di
bawah pohon asam tadi. Tiba-tiba
saja terlihat langit berkelebat, suara
yang begitu dahsyat dan
bergemuruh disertai kilatan
cahayanya menyambar pohon asam
tempat dimana mama berdiri.
Menggelegar hingga menumbangkan
pohon tersebut. Belum sempat
mama berlari, pohon itu roboh
menimpa tubuh mama. Tak dinyana
mama pun tewas seketika, teramat
tragis! Tubuh mama hancur
bersimbah darah. Aku menjerit
histeris setelah melihat jenazah
mama diautopsi di rumah sakit.
Pandanganku berubah menjadi
gelap, dan tak lama aku pun
terjatuh tak sadarkan diri.
***
Dua bulan setelah kepergian mama,
papa jadi sering sakit-sakitan.
Terkadang seperti orang yang lupa
ingatan, ia sama sekali tidak ingat
lagi padaku, pada Surya kakakku,
apalagi pada Reinald pacarku.
Nama yang terakhir kusebutkan ini
dikenal dengan baik oleh
keluargaku sebatas sebagai sahabat
karibku saja. Sebenarnya diam-
diam antara aku dan Reinald telah
menjalin hubungan khusus sejak
kami duduk di kelas 3 SMP. Baik
aku maupun Reinald, kami berdua
sama-sama saling mencintai satu
sama lain. Namun kami terpaksa
merahasiannya dari siapapun.
Tatapan mata papa begitu kosong
seperti orang yang tak dapat
melihat. Menatap wajah kami anak-
anaknya penuh kehampaan.
Sementara kedua kaki papa sudah
tak bisa bergerak maupun berjalan.
Dokter memvonis papa terserang
stroke.
Penyakit papa jauh lebih cepat
menggerogoti tubuhnya. Semakin
hari tubuh ringkih itu membuatnya
terlihat lebih tua dari usianya yang
terbilang masih muda: 40 tahun.
Mungkin papa terlalu sedih
ditinggalkan mama. Tepat satu
tahun setelah meninggalnya mama,
papa pun menyusul mama,
menghadap Sang Pencipta. Kulihat
hari itu langit begitu gelap karena
mendung yang terus menggantung.
Aku amat marah pada diriku
sendiri. Menyalahkan namaku yang
selalu membawaku larut dalam
kesedihan. Mengapa aku harus
bernama Cloudy? Mengapa bukan
Shine, Purnama, Boy, Joko atau
apalah asalkan jangan berbau
kesedihan.
Kak Surya dan Reinald selalu
mengingatkanku, itu semua bukan
salahku. Tapi kenyataannya, mama
dan papa meninggal dunia di saat
hari mendung, tanpa diiringi hujan
sama sekali. Persis seperti tatkala
aku dilahirkan ke dunia ini. Meski
harus kuakui itu semua terjadi
karena kehendak Yang Maha Kuasa.
Tapi mendung itu selalu datang
merenggut nyawa orang-orang yang
kucintai.
***
Di lain hari, Kak Surya sedang
merapikan gudang bawah tanah
yang gelap dan kotor berdebu.
Terlihat dari jendela kaca di lantai
utama rumah kami, keadaan di luar
rumah langit begitu gelap pekat,
MENDUNG!
Aku pun mulai cemas takut akan
terjadi sesuatu yang mengerikan
kembali terjadi. Ternyata dugaanku
tidak meleset, tiba-tiba saja listrik
padam, lampu di seluruh ruangan
tak dapat kunyalakan. Kak Surya
yang masih berada di gudang
bawah tanah mencoba menaiki
tangga untuk mengambil senter di
kamar lantai atas. Baru beberapa
anak tangga dipijaknya, kakinya
terantuk sesuatu dan
mengakibatkan tubuhnya jatuh
terpeleset, malang tak dapat
dihindari, kepala Kak Surya
membentur lantai hingga
menyebabkannya tewas seketika.
“Tidaaak…..”, aku menjerit di
tengah lamunanku
“Cloudy, kamu baik-baik saja?” Fain
rupanya sudah lama mengawasiku
“Kamu pasti teringat masa lalu
kamu lagi, ya? Kan sudah kubilang
lupakan saja! Life must go on!
Remember?” Tatapan mata yang
teduh itu membuat hatiku mencair
agar jatuh ke dalam pelukannya
“Tidak Fain! Aku takkan pernah bisa
melupakan itu semua. Karena itu
semua salahku!” Aku beranjak
melepas dekapan Fain,
Gerrald Alfaintry yang biasa
kupanggil Fain, adalah kekasihku
saat ini. Setelah berakhirnya
hubunganku dengan Reinald
karena…
“Karena apa? Karena namamu
Cloudy? Apalah artinya sebuah
nama!” Fain mengutip pemeo lama
karya pujangga besar William
Shakespeare
Fain menatapku tajam
“Tapi Fain, kamu tahu Reinald pun
tewas karena aku juga! Karena
MENDUNG!” Ups ingatanku lagi-lagi
tertuju pada masa setengah tahun
lalu
BLAS!
Bayangan itu pun muncul…
_______________________
___________________
______________
_________
____
“Sudah kubilang kan Rein! Mereka
meninggal gara-gara aku! Gara-gara
mendung tanpa diiringi hujan!”
Desisku lirih
“Mungkin bila hari itu mendung
diiringi hujan takkan begini jadinya!
Mama, papa dan Kak Surya
meninggal di hari mendung seperti
saat menyambut kelahiranku yang
justru menewaskan nenek dan
kakekku dalam perjalanan menuju
rumah sakit untuk menyambut
kelahiranku! Mereka meninggal
karena bis yang mereka tumpangi
dari Bandung tergelincir di Puncak!
Sebuah truk bermuatan batu
mengalami kebocoran ban, dan
menyerempet bis yang ditumpangi
kakek dan nenek hingga bis pun
tergelincir ke jurang!” Isak tangisku
pun meledak
“Kalau begitu, akulah yang akan
menjadi hujan untukmu! Mulai
sekarang panggil aku Rain (hujan)!
Akan kusirami hatimu yang
mendung kelabu agar kembali
menjadi cerah!”
Reinald menggenggam jemari
tanganku erat. Aku tersentak
mendengarkan ucapannya yang
terasa menyejukkan hati. Meskipun
sebenarnya hatiku masih
galau.
Kendati demikian, untuk yang ke
sekian kalinya…
Mendung itu datang lagi di pagi-
pagi buta, saat aku hendak
berangkat menuju bandara. Aku
harus pergi ke Jepang mengikuti
program pertukaran pelajar.
Semalam Reinald, ah bukan! Tapi
Rain! Telah berjanji akan
mengantarku ke bandara. Langit
begitu gelap pekat. Rintik gerimis
mulai turun, kusunggingkan
senyumku yang menghapus rasa
cemasku. Ah, Rain dimana kamu?
Hujan pun kian deras.
“Cloudy,,,” Rain memanggilku dari
kejauhan, tampak ia datang
mengendarai sebuah motor
SREEET…….
Motor yang dikendarai Rain jatuh
terguling
“Raaaiiin…” Teriakku
Aku bergegas menghampiri Rain
“Lihat Cloudy! Hujan ini turun
untukmu! Menyirami hatimu yang
mendung!” Rain meraih tanganku
Aku mengangguk pelan
Rain melepas helm yang
dipakainya. Kupandangi wajah Rain
lekat.
Tiba-tiba kurasakan sesuatu
menetes keluar dari balik tangan
jaket yang membalut tubuhnya.
Ah darah!
Kusibak sleeve tangan jaketnya,
sebilah pecahan kaca spion motor
yang pecah telah menancap pada
urat nadi pergelangan tangan
kanannya saat ia terjatuh dari
motornya karena jalan licin dalam
hujan yang deras ini.
Rain tersenyum diiringi nafasnya
yang terakhir.
_________
____________
_______________
“Tidak ada gunanya kamu
menyalahkan dirimu sendiri! Apa
yang terjadi adalah kehendak
Tuhan! Itu semua sudah suratan
takdir!” Fain menyeka air mataku
Sejurus kedua matanya menatapku
“Pernah kau dengar lagu Kidung
yang dinyanyikan
Chrisye?”

Tak selamanya,,,
Mendung itu kelabu!
Nyatanya,,,
Hari ini…
Kudapat bernyanyi
Kepadamu…

Fain mencoba bersenandung
Kupalingkan wajahku
“Dengar Cloudy! Setelah mendung
dan hujan pasti langit akan cerah
kembali!”
“Dan akulah yang akan membuat
hatimu cerah kembali!” Tandas Fain
“Jangan kau ucapkan itu Fain! Aku
tak mau kehilangan kamu!” Aku
merajuk
Fain menempelkan jari telunjuknya
di bibirku
“Sst.. Aku adalah Fain! Kamu takkan
pernah kehilangan aku, karena
setelah mencerahkan hatimu, aku
akan selalu berada di hatimu yang
cerah!”
Fain menarik tanganku menuju
keluar kamar.
“Ayo kita bermain snowball (bola
salju), mendungnya sudah hilang.
Hujan salju pun sudah reda.
Matahari bersinar cerah!”
Ternyata Fain benar, di luar
memang cerah. Dengan sebatang
kayu Fain menulis namanya di atas
salju: FINE (baca: FAIN). Aku
tersenyum simpul di kulum. Kubuat
segulungan bola salju besar dan
kugelindingkan dengan sekuat
tenaga ke arah Fain. Bola salju pun
bergulir dengan kencang.
Ups! Dia jatuh terjungkal karena
tertabrak bola salju yang
kugelindingkan tadi.
“Hei, Fain, kamu tidak apa-apa
kan?!” Panggilku ke arahnya.
Hening.
Tidak ada jawaban.

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s