Posted on

Sebuah Pertukaran

SEBUAH PERTUKARAN
Original Written By: SUGIH
=00=00=00=00=00=00=00=00=00=00=
Opening theme song:
Letto – Menyambut Janji
ku menanti sang kekasih
dalam sunyi ku bersuara lirih
yang berganti hanya buih
yang sejati tak akan berdalih
lembaran putih telah terpilih
dan demi cinta
ku tepiskan semua keraguan
jiwa
dan ku ganti dengan
kepastian
hatiku ini yang mulai
mengerti
dan berani tuk menyambut janji
kisah cinta yang abadi
takkan ada jika tak kau cari
sering juga hanya mimpi
yang membuatku bertahan
di sini
lingkaran putih telah terpilih
dan demi cinta
ku tepiskan semua keraguan
jiwa
dan ku ganti dengan
kepastian
hatiku ini yang mulai
mengerti
dan berani tuk menyambut
janji
ku tepiskan semua keraguan
jiwa
dan ku ganti dengan
kepastian
hatiku ini yang mulai
mengerti
dan berani tuk menyambut
janji
ku tepiskan semua keraguan
jiwa
dan ku ganti dengan
kepastian
hatiku ini yang mulai
mengerti
dan berani tuk menyambut
janji
=°°°=
#Kesalahan
"Ayo cepat! Sepertinya pasien
kehilangan banyak darah!" Para
perawat pria berjalan tergesa-gesa
mendorong roda tidur.
Seorang perawat wanita berlari-lari
kecil mengiringi roda tersebut sambil
memegangi sebuah botol infus di
tangannya.
Dokter datang tepat bersamaan
masuknya pasien yang digiring para
perawat tadi ke sebuah Instalasi
Gawat Darurat. Langkahku mendadak
terhenti tepat di hadapan pintu IGD
yang ditutup oleh salah seorang
perawat.
Sheet! Mengapa begitu ceroboh aku
dalam mengemudi hingga menabrak
orang yang sedang menyebrangi jalan
raya? Aku merasa ada yang tak beres
dengan mobilku. Sepertinya
seseorang telah dengan sengaja
merusak rem kaki pada mobilku
hingga blong. Mungkin tujuannya
adalah ingin berusaha
mencelakakanku, namun justru malah
jadi aku yang mencelakakan orang
lain.
Kurebahkan pantatku pada kursi
panjang di ruang tunggu. Kusentuh
keningku, mencondongkan badan
dan menopangkan ujung siku
tanganku di atas lutut. Kuremas-
remas rambutku sendiri. Siapa yang
telah melakukan hal ini terhadapku?!
Ini pasti ulah pimpinan Master Flam
yang berusaha ingin menjatuhkan
perusahaanku. Benar-benar picik, dia
menghalalkan berbagai cara untuk
menggulingkanku dari jabatan
presiden direktur. Ya, di usiaku yang
masih terbilang muda, belia bahkan,
23 tahun aku mewarisi bisnis usaha
ayahku sebagai pengusaha kain
terkemuka di negeri ini. Ayahku
'gantung dasi' setelah merasa dirinya
telah kehilangan banyak waktu
berharga bersama ibuku. Karena itu
sebagai putra bungsu yang berbakti
kepada orang tua dengan berat hati
aku menerima jabatan yang amat
terhormat ini.
Banyak hal yang harus kupelajari,
karena terus terang aku tak pernah
berkuliah mengambil jurusan
manajemen bisnis, marketing,
ekonomi, akuntansi atau lain
sebagainya. Yang kuambil justru
program sosio-humaniora. Oleh
karena itulah aku memiliki jiwa sosial
yang tinggi. Bila aku memiliki
kewajiban, aku selalu berusaha untuk
menunaikannya dengan penuh rasa
tanggung jawab.
"Anda keluarga pasien?" Dokter yang
menangani pasien tadi
menghampiriku,
"Bukan! Saya orang yang
menabraknya!" Jawabku dengan
suara rendah.
"Apa ada keluarganya di sini?"
Dokter mengangkat gurat kedua
alisnya tinggi-tinggi.
Aku mengangkat bahu.
"Tidak ada identitas pada pakaian
pasien, dok!"
"Bagaimana keadaannya sekarang
dok?" Tanyaku cemas
"Pasien kehilangan banyak darah, tapi
masih dapat terselamatkan! Hanya
saja ia mengalami kerusakan yang
amat parah pada bagian wajahnya!
75% kulit wajah pasien terkelupas
habis karena bergesekan dengan
aspal. Salah satu matanya bahkan
buta sebelah karena tertusuk kerikil
tajam! Kemungkinan besar terdapat
organ tubuh lain yang tidak dapat
difungsikan layaknya semula! Tapi
kami masih memeriksakannya lebih
lanjut!" Rinci sang dokter
Tubuhku mendadak lemas. Apa yang
telah kulakukan? Aku hampir saja
membunuh orang yang sama sekali
tidak kukenal.
"Saat ini pasien masih koma! Tapi
degup jantungnya berdetak stabil, itu
pertanda ia akan segera siuman dari
alam tidak sadarnya! Berdoalah tuan,
semoga ia tidak apa-apa!"
Dokter menepuk pundakku sebelum
berlalu dari hadapanku.
"Lakukanlah yang terbaik dok!"
Harapku.
Dokter melemparkan seutas
senyuman terus melangkah ke depan
meniti koridor.
~ 36 jam berlalu~
Aku datang ditemani kedua orang
tuaku. Aku telah menceritakan semua
kejadian yang menimpaku, em lebih
tepatnya pada pasien di rumah sakit
ini yang kini sedang kami besuk. Ayah
sangat pengertian, beliau memahami
keadaan persaingan perekonomian
perusahaan kami dengan perusahaan
saingan. Banyak pihak yang berusaha
menjatuhkan perusahaan keluarga
kami dengan berbagai cara. Ayah
merasa bersalah padaku, karena
terlalu dini mengangkatku menjadi
presiden direktur.
Salah satu pihak yang terang-
terangan mengibarkan bendera
perang terhadap perusahaan
keluarga kami adalah Master Flam.
Sebuah perusahaan yang dipimpin
oleh kakak iparku sendiri, Saturno! Ia
sangat berambisi menggulingkanku
dari jabatan PRESDIR di perusahaan
Mercury Text.
Sejak awal ia menikahi kakakku, Venia
didorong rasa ambisi untuk
menguasai perusahaan keluarga
kami. Ia sangat mengincar posisi
jabatan Presiden Direktur yang saat itu
masih dikendalikan oleh ayah. Kendati
kenyataannya ayah menyerahkan
posisi tersebut kepada aku, putra
bungsunya: Aldrius Titan.
Pasien itu telah siuman. Syukurlah,
akhirnya aku bisa melihatnya bahwa
dia masih hidup. Tampak jelas sekali
kalau ia hanya dapat melihat dengan
mata sebelah. Hanya mata kanan
yang dapat melihat. Bibirnya
mengatup rapat, mulai sedikit terbuka
dan ingin berbicara, namun kembali
terkatup karena tak mampu
mengeluarkan suara. Wajah pasien
terbalut rapat oleh perban. Sehingga
hanya mata kanan dan bibir yang
tercetak jelas keluar.
Dokter masuk diiringi oleh seorang
suster membawa papan berisi catatan
hasil perkembangan pasien.
"Selamat siang, dok!" Sapa ayah
ramah bersahaja.
"Selamat siang, kalau tidak salah anda
Pak Juno, pengusaha tekstil terkemuka
itu kan?" Sapa dokter tersenyum
merekah,
"Bagaimana anda bisa tahu?" Jawab
ayah terpana
"Foto anda menyebar luas di surat
kabar dan media televisi lokal kota ini.
Berita penyerahan jabatan kepada
putra bungsu anda begitu marak dan
menjadi buah bibir masyarakat!"
Ungkap dokter terus terang
Ayah memperbaiki posisi kacamatanya
yang mulai merosot.
"Wah, seheboh itukah berita
mengenai saya?"
Dokter hanya tersenyum sekilas.
"Jadi inikah putra bungsu anda yang
ramai dibicarakan orang?"
Aku mengangkat dagu.
Dokter itu menepuk bahuku.
"Sungguh seorang kesatria! Anda
tidak seperti penabrak lainnya yang
sering melarikan diri setelah
menabrak korban!" Ucap dokter
dengan sangat hati-hati.
Ia tak bermaksud menyinggung
perasaanku. Aku tahu hal ini dari cara
ia berbicara dan menepuk bahuku
tadi. Sepintas lalu dokter terlihat
menaruh simpati padaku.
"Namanya Aldrius Titan, dokter!
Panggil saja Titan!" Ayah menyentuh
tangan pasien di hadapan kami.
Suster perawat tengah menyiapkan
injeksi untuk orang yang telah
kutabrak ini.
"Maaf bila saya lupa memperkenalkan
diri, saya Dokter Jaya! Jaya Rantau
Samudera!"
Dokter menyalami tanganku dan ayah.
Tanpa memperkenalkan diri pun kami
sudah tahu nama dokter itu Jaya
Rantau Samudera, papan nama pada
jas putih yang dipakainya terlihat
sangat jelas oleh kami.
Ibu melangkah keluar, ia tidak
terbiasa di ruangan berbau obat.
"Tenanglah! Kami tidak akan lepas
dari tanggung-jawab!" Ayah
menenangkan perasaan pasien yang
tak bisa berkata-kata.
=°°°=
#Kehancuran!
Kuterduduk lesu di atas sebuah kursi
roda. Seorang suster mengantarku
jalan-jalan mengelilingi taman rumah
sakit tempatku dirawat. Hanya dengan
sebelah mata dan wajah terbalut
perban, aku masih tetap dapat
melihat. Baru sejam yang lalu aku
mulai dapat berbicara, dan
mengatakan kepada suster kalau aku
ingin menghirup udara segar. Saat
aku berusaha bangkit dari tidurku,
aku baru menyadari bahwa kedua
kakiku lumpuh. Sempat kumenjerit
histeris atas semua yang terjadi
padaku.
Mengapa ini semua harus terjadi
padaku? Mengapa aku tidak mati saja
sekalian? Mengapa dunia ini kejam
terhadapku? Mengapa tuhan terus
menyiksa aku? Sejak kecil aku selalu
dikucilkan oleh orang-orang di
sekitarku karena wajahku yang buruk.
Aku selalu diejek 'Pangeran Kodok'
oleh teman-temanku. Tak seorang
pun yang mau berteman denganku.
Bahkan di lingkungan keluargaku
sendiri, aku dianggap sebagai aib
keluarga. Setelah ibuku meninggal
dunia di usiaku ke-17, karena kanker
payudara yang diidapnya, ayahku
menikah lagi dengan seorang janda
beranak tiga. Ketiga anak ibu tiriku tak
ada satupun yang mau menerimaku
sebagai anggota keluarga mereka.
Malahan dengan berbagai cara
mereka membuat ulah agar aku
terusir dari rumah. Rumah hasil kerja
keras ibuku menjadi seorang Tenaga
Kerja Wanita di Brunei Darussalam.
Ayahku? Ayahku hanya seorang
pemabuk yang sering menghabiskan
uang ibu di atas meja judi. Pekerjaan
sehari-harinya hanyalah seorang
tukang ojek, terkadang mendapat
penghasilan bila sedang ramai
penumpang, terkadang pula
sebaliknya. Aku benar-benar
tersisihkan dari rumahku sendiri.
Rumah yang dibangun oleh ibu, satu-
satunya orang yang menyayangiku di
dunia ini. Masih kuingat dengan jelas
di hari pertama kami memasuki
rumah itu, ibu berkata kepadaku,
"Bumi, sekarang ini adalah rumah
kita! Istana kita bersama! Kelak ibu
ingin rumah ini menjadi tempat ibu
bersenda gurau bersama cucu-cucu
ibu, anak darimu dan istrimu! Karena
ibu akan mewariskan rumah kecil ini
untukmu, anak tunggal ibu!"
Aku tersenyum getir bila mengingat
hal itu. Kenyataannya tuhan
berkehendak lain. Manusia hanya
mempunyai rencana namun tuhan
yang memutuskan segalanya atas
jalan hidup manusia!
Aku menghela nafas. Masih adakah
nasib baik yang berpihak padaku?
Setelah aku terusir dari rumah,
hidupku menjadi luntang-lantung di
jalanan. Beruntung aku selalu rajin
menabung di bank sejak aku kelas 4
SD. Ini adalah sebuah pelajaran yang
selalu ibu tanamkan kepadaku dalam
surat-surat yang dikirimkannya dari
Brunei Darussalam. Segera aku
berangkat menuju bank terdekat
untuk menarik sejumlah kecil uang
simpananku. Aku memutuskan untuk
menyewa sebuah kamar kos yang
murah di pinggiran kota, tidak jauh
dari sekolahku. Aku bertekad akan
tetap menjalani hari-hariku seperti
biasanya.
Aku pun bekerja keras menjadi
seorang kuli panggul di pasar. Walau
banyak orang yang memandang jijik
terhadapku karena wajahku yang
dipenuhi bentol hitam seperti kodok,
aku tak patah semangat. Sebagian
kecil dari mereka adapula yang
merasa kasihan padaku. Tidak sedikit
dari mereka memberi aku sedekah
atas dasar ingin beramal ataupun
karena iba. Walaupun aku tak pernah
mengemis pada mereka serupiah
pun.
Akhirnya aku berhasil melanjutkan
studiku hingga perguruan tinggi
dengan jerih payahku sendiri. Aku
berhasil menjadi sarjana ekonomi dan
kini sudah setahun bekerja di sebuah
perusahaan terkemuka di salah satu
kota di negeri ini. Perusahaan
tempatku bekerja bergerak di bidang
garmen. Dan aku menduduki posisi
sebagai salah satu staf accounting.
Sebut saja diriku sebagai seorang
akuntan.
Rasa benci orang-orang di sekitarku
masih bertahan dan
berkesinambungan. Segelintir orang
di tempatku bekerja berusaha untuk
mengenyahkanku dari jabatan yang
kududuki. Hingga tibalah seminggu
lalu dimana aku sengaja mereka kirim
untuk menemui kolega kami di kota
ini. Mereka tahu aku tak memiliki
kemampuan untuk meyakinkan para
kolega agar memperpanjang kontrak
kerja sama dengan perusahaan
tempatku bekerja. Bahkan mungkin
sebelum berbicara, para kolega akan
merasa illfeel lebih dahulu melihat
wajahku yang buruk. Dengan
demikian usai sudah kerja sama para
kolega dengan perusahaan tempatku
bekerja. Dan ini akan menjadi faktor
pemicu orang-orang yang
membenciku untuk memecatku dari
pekerjaan, dengan alasan aku tak
becus dalam bekerja. Performa
memang selalu menjadi faktor utama
hubungan manusia!
Di malam minggu lalu aku tiba di kota
ini, aku mendapat sebuah SMS dari
wanita yang sangat kucintai di kantor,
"Tolong jangan ganggu aku lagi!
Karena sekarang aku sudah
bertunangan! Maaf aku tak ingin
memiliki keturunan seperti kodok bila
menikah denganmu!"
Begitulah isi SMS yang kuterima.
Aku berjalan menuju ke luar ingin
menenangkan perasaan di taman
seberang. Kutinggalkan semua
barang-barangku dalam kamar hotel
tempatku menginap. Termasuk
handphone, dompet, dan sebuah
tablet benda yang hampir tak pernah
lepas dari genggaman tanganku.
Biasanya aku membuat catatan harian
tentang kejadian-kejadian yang
kualami dalam tablet kesayanganku
itu.
Kulangkahkan kakiku dengan gontai
menuju seberang. Sejumlah pikiran
masih bergelut di benakku. Benar-
benar kacau! Jalanan tampak lengang.
Hanya sebuah mobil sedan BMW
hitam berjalan di kejauhan. Tak
kuhiraukan mobil tersebut. Tanpa
menoleh lagi aku mulai menyeberang.
Namun suara klakson terus berbunyi
berulang-ulang. Mobil sedan itu
berjalan meliuk-liuk seperti ular.
Mendekat ke arahku dan tak sempat
kuhindari. Suara dentuman mobil
menabrak tubuhku terdengar amat
dahsyat. Tubuhku terpelanting
beberapa meter ke tepi jalan. Sempat
terjadi gesekan antara wajahku
dengan aspal sebelum akhirnya aku
terhenti di pinggiran aspal rusak
penuh dengan kerikil tajam.
Kurasakan ada suatu benda menusuk
ke dalam bola mataku sebelah kiri.
Seketika pandanganku berubah
menjadi gelap. Aku tak sadarkan diri.
Dan disinilah aku berada sekarang.
Setelah 36 jam koma, mata kananku
berhasil terbuka. Tapi tidak dengan
tubuhku. Aku terbujur kaku di atas
ranjang. Sungguh seperti mayat
hidup! Setelah aku mulai dapat
berbicara, dokter mengatakan bahwa
kakiku mengalami kelumpuhan. Tapi
itu bersifat sementara, karena tidak
ditemukan adanya patah tulang
dalam tubuhku. Bila aku menjalani
terapi dengan baik, niscaya kedua
kakiku akan pulih seperti sedia kala.
=°°°=
#Perkenalan
Kuhampiri korban yang telah kutabrak
itu. Ayah masih berkenan
mendampingiku. Bukan tanpa alasan,
ayah sangat mencemaskan
keadaanku. Selama seminggu ini aku
tidak pulang ke rumah, juga tidak
berangkat ke kantor. Tujuanku satu,
ingin menjebak keluar orang yang
telah berusaha mencelakaiku dengan
merusak rem pada mobilku. Ayah
menyetujui tipu muslihat yang
kumainkan ini, membuat rumor
bahwa aku masuk rumah sakit karena
kecelakaan.
"Maafkan saya! Saya sama sekali tidak
bermaksud mencelakai anda!" Aku
bersimpuh di hadapan pemuda
seumuranku itu.
Ia memalingkan muka.
"Anda tahu bagaimana rasanya
menderita? Anda tahu bagaimana
rasanya dikucilkan orang banyak?
Anda tahu bagaimana rasanya
dipermainkan? Anda tahu bagaimana
rasanya ditolak oleh orang yang
sangat anda cintai? Anda tahu
bagaimana rasanya ditabrak,
kehilangan sebelah mata dan kaki
menjadi lumpuh? Anda tahu
bagaimana rasanya tersiksa?" Ia
mencercaku dengan bertubi-tubi
pertanyaan.
"Seharusnya aku mati! Daripada
hidup berkalang siksa seperti ini!"
Ucapnya lirih.
Kupandangi dalam-dalam wajah
tertutup perban itu. Ia menangis.
Tidak! Ia menangis tidak dengan air
matanya! Melainkan menangis
dengan hatinya! Betapa terkilan.
"Anda beruntung ya, memiliki paras
wajah yang sangat tampan! Pasti
banyak orang yang memuja anda!"
Eeh.. Dia memujiku? Apa maksud
ucapannya itu? Ucapannya terdengar
miris di telingaku.
"Maafkan saya telah mengakibatkan
wajah anda rusak seperti ini!" Aku
tertunduk dalam.
"Tanpa anda tabrak pun wajah saya
memang sudah rusak! Orang-orang
bahkan menjuluki saya pangeran
kodok! Tak seorang pun yang berani
menyentuh saya karena jijik!"
"Nasib baik memang tak pernah
berpihak kepada saya! Sejak kecil
hidup saya selalu menderita!
Mengapa tuhan terus memberikan
saya hidup? Tuhan tak adil pada saya!
Saya ingin mati! Saya ingin mati!"
Pemuda itu berusaha membuka
perban di kepalanya. Dipukulinya
kedua kakinya yang terduduk di atas
kursi rodanya. Sebelum ia jatuh
terguling, suster perawat segera
mendorong kursi roda itu kembali
mengantar pasien ke ruang
perawatannya.
Aku dan ayah saling bertatapan.
"Aku merasa sangat bersalah, Yah!"
Tatapku sendu.
"Tenanglah! Kita sudah berjanji akan
bertanggung jawab bukan?" Ayah
menenangkanku.
"Ada baiknya kita meminta Dokter Jaya
untuk melakukan operasi plastik
padanya", timpalku
"Ya, kita akan melakukan yang
terbaik!" Ayah mengusap
punggungku.
Suster telah memberikannya suntikan
penenang.
Aku terkesiap memandangi wajah
pulas yang tertidur itu. Perban di
wajahnya setengah terbuka akibat
ditariknya tadi. Daging berwarna
merah muda menjadi pengganti kulit
sebelumnya.
Dua jam berlalu, akhirnya dia
terbangun. Kurasakan sentuhan jari
mencolek-colek tanganku yang turut
tertidur di kursi samping
pembaringannya.
"Maaf kalau tadi saya mengamuk tidak
karuan! Saya depresi berat!"
"Tidak apa! Bila saya di posisi anda
saya pun akan merasakan dan
mungkin melakukan hal yang sama!"
Sahutku bijak.
"Terima kasih atas empati anda! Oya,
perkenalkan nama saya Bumi Persada
Biru! Panggil saja Bumi!" Ia
menyodorkan tangan kanannya
padaku.
Baru sekejap ia langsung menarik
kembali tangannya.
"Ups, maaf, anda pasti merasa jijik
dengan orang buruk rupa seperti
kodok ini!"
Aku menggeleng, kusunggingkan
sebuah senyuman padanya.
"Anda salah menilai saya! Untuk apa
saya menunggui anda terus di sini!
Perkenalkan juga nama saya Aldrius
Titan! Panggil saja Titan!" Kuulurkan
tanganku pada lelaki bernama Bumi
itu.
Senyuman mengembang dari kedua
bibir Bumi.
"Nama anda sangat bagus! Sama
seperti nama planet yang kita huni ini!
Anda manusia kan?" Candaku
Bumi terkekeh,
"Bahasa kita terlalu formal! Sepertinya
kita sebaya! Sebut aku kamu saja
gimana?" Usulnya,
Aku mengangguk setuju.
"Namamu juga bagus! Titan… Seperti
nama benda langit juga, tapi nama
apa ya??" Bumi mereka-reka.
Gantian aku yang terkekeh,
"Kalau gitu berarti aku yang alien
donk?" Aku merengut diselingi gelak
tawa.
"Pantesan kamu ganteng banget ya!"
Aku terdiam. Aku paling suka salah
tingkah bila ada orang yang memuji
ketampanan wajahku. Bukan merasa
bangga atau takabur, banyak wanita
yang bertekuk-lutut di hadapanku
memelas memintaku untuk menerima
cinta mereka. Namun aku tak pernah
menggubris. Pasalnya aku belum
ingin terkekang oleh suatu ikatan.
"Tidak lama lagi kamu akan menjalani
operasi plastik!"
Bumi tertegun,
"Oh ya, kami juga sudah
mendapatkan seorang donor mata
yang bersedia menyumbangkan
matanya untukmu! Jadi kamu tak
perlu cemas, karena kamu akan pulih
seperti sedia kala!"
"Kira-kira berapa lama aku menjalani
proses perawatan ini?" Tanya Bumi.
"Dokter Jaya bilang setidaknya perlu
waktu 6 bulan sampai kamu benar-
benar pulih dapat melihat, dapat
berjalan, dan memiliki muka
seganteng aku!" Jawabku setengah
bercanda.
Bumi melempar bantal ke arahku.
Baru beberapa jam berkenalan kami
sudah akrab seperti ini. Rasanya kami
adalah kawan lama yang baru saja
dipertemukan kembali.
"Titan, bolehkah aku minta tolong?"
Aku mengangguk ke arahnya,
"Bisakah kamu mengambilkan barang-
barangku di Hotel Mercure?"
"Baik Bos perintah akan saya
jalankan!"
Aku berdiri dan memberi hormat
pada Bumi seolah dia adalah
komandan dan aku menjadi
ajudannya.
"Kamarku nomor 379!"
"Siap!"
Aku melangkah hati-hati
meninggalkan rumah sakit. Segera
kupanggil taksi dan meluncur ke hotel
tempat Bumi menginap sebelumnya.
=°°°=
#Kesepakatan!
"Trims ya sudah mengambilkan
barang-barangku di hotel!"
Kusodorkan sebuah tas ransel berisi
pakaian dan barang-barang berharga
lainnya.
Bumi merogoh isi tasnya, diambilnya
sebuah handphone dari dalam tas
itu.
"Halo, Pak Vallas? Pak, saya mohon
maaf, telah lalai menjalankan tugas,
begitu tiba di tempat tujuan saya
tertimpa kecelakaan!"
"Apa? Kamu tertimpa kecelakaan?
Bagaimana kondisimu sekarang?"
Suara di ujung telepon terdengar
nyaring olehku. Tampaknya ia cukup
antusias kepada Bumi.
"Saya masih dirawat di rumah sakit,
Pak. Apakah saya bisa mengambil
cuti?"
"Hmm.. Tidak masalah! Tapi maaf
saya tak bisa membesuk, karena
sibuk! Kalau begitu biar semua
tugasmu saya serahkan kepada Ariel
sementara waktu!"
"Terima kasih Pak atas
pengertiannya!"
Tut!
Bumi menutup telepon.
Ayah datang didampingi ibu. Sehari
ini ayah sudah 2x datang menjenguk
Bumi sekaligus menemuiku untuk
mengantar makanan. Ibu
membawakan kami bubur ayam
beserta beraneka ragam buah segar.
"Aku bekerja sebagai akuntan di
sebuah garmen terkemuka di luar
kota! Sebenarnya aku diutus kemari
untuk menemui kolega kami guna
memperpanjang kontrak kerja sama!"
"Kamu bekerja di sebuah garmen?
Apakah nama perusahaanmu itu Vega
Prima?" Selidikku
"Hey, bagaimana kau tahu?" Ia
menampakkan keterkejutannya.
"Berarti kamu kurir yang diutus untuk
menemuiku?!" Beberku
"Tapi orang yang harus saya temui
adalah Pak Juno, presiden direktur
Mercury Text", Bumi terlihat
kebingungan.
"Saya Juno! Tapi saya baru saja turun
tahta dan putra mahkota saya telah
menggantikan saya!" Ayah menengahi
kami.
"Perusahaan kami tengah berada di
puncak keemasan, namun banyak
rival yang berniat menjatuhkan
perusahaan kami. Dan Titan menjadi
sasaran utamanya, karena itulah dia
menabrakmu, Nak! Seseorang ingin
menyingkirkan Titan dengan cara
merusak rem mobilnya!" Ibu
menambahkan keterangan, tangannya
menyerahkan beberapa mangkuk
bubur kepada aku dan Bumi.
Bumi ternganga heran, ia nyaris tak
percaya akan perkataan ibu, namun
itulah kenyataan yang sesungguhnya.
°°°°
Hari demi hari aku dan Bumi semakin
akrab. Esok akan tiba saatnya bagi dia
untuk menjalani operasi mata.
Kudekati dia yang tertidur pulas di
atas ranjangnya. Kulihat di atas meja
sebuah benda berkedip-kedip
menyala. Sebuah tablet! Rasa
penasaran memancingku untuk
mengamati benda tersebut.
Astaga! Ini sebuah catatan harian.
Terdorong rasa ingin tahu yang dalam
aku lalu membacanya. Wow, catatan
ini sangat luar biasa karena setiap
orang di sekitarnya dibuat catatan
karakter lengkap beserta fotonya
dengan berbagai ukuran. Tetapi,
kasihan juga perjalanan hidup yang
dialaminya ini. Begitu nelangsa dan
menyedihkan. Kubaca halaman demi
halaman pada software tersebut.
Hingga sampailah aku di sebuah
halaman yang bercerita seperti ini:
"Beberapa hari selama di rawat di
rumah sakit ini, aku telah berkenalan
dengan orang yang menabrakku:
Aldrius Titan. Saat pertama kali
bertemu dengannya walaupun kedua
bibirku mengatup rapat karena belum
dapat berbicara, aku terpana
melihatnya dalam retina mata
kananku! God, seandainya aku
memiliki wajah seperti Titan pasti
Bulan wanita yang kucintai di kantor
tidak akan pernah menolak cintaku!
Begitu juga dengan rekan-rekan
sejawatku di kantor tidak akan ada
yang jijik kepadaku dan berhenti
mempengaruhi Pak Vallas untuk
memberhentikanku dari pekerjaanku!
Tuhan, berkenankah Engkau
mendengarkan doaku walau sekali ini
saja? Aku ingin memiliki wajah yang
tampan seperti Titan agar tidak terus
dicemooh dan dikucilkan seperti
selama ini! Ah, tapi Engkau tak pernah
mau mendengar bisikan insan-Mu
yang hina dina ini…"
Entah mengapa tiba-tiba saja aku jadi
ingin menemui ayah.
"Ayah, aku ingin bicara!" Ucapku
begitu telepon di seberang diangkat
oleh ayah.
"Soal apa?" Tanya ayah.
"Kita harus bertemu! Ini menyangkut
masa depan dan kemajuan
perusahaan kita!" Jawabku lugas.
"Aku tunggu di cafetaria rumah sakit!"
Kututup horn telepon rumah sakit.
°°°°
~ 1 jam kemudian~
Udara sejuk berhembus ke dalam
kamar. Melenakan anganku akan
kepulihan kesehatanku. Besok aku
akan menjalani operasi mata. Orang
yang bersedia menyumbangkan
matanya telah mengikhlaskan sebelah
matanya atas dorongan rasa
kemanusiaan. Namun aku tak tahu
siapa orang tersebut, ia tak ingin
diketahui identitasnya. Siapapun dia
aku sangat berterima kasih padanya.
Semoga tuhan membalas amal
ibadahnya. Amin.
"Sudah bangun?" Titan didampingi
ayahnya datang membawa sekotak
kue.
"Bumi, aku ingin membuat sebuah
kesepakatan denganmu! Aku harap
kamu mau bekerja sama denganku!"
Ucap Titan tiba-tiba,
Aku mengerutkan kening,
"Kesepakatan?" Tanyaku dengan
mulut ternganga.
Titan mengangguk.
"Aku akan pergi ke kotamu dan
menjalani peran sebagai kamu: Bumi
Persada Indah! Sementara
sesungguhnya, setelah kamu selesai
operasi mata, kamu akan berangkat ke
Thailand untuk permak wajah menjadi
sama persis sepertiku! Lalu sementara
aku menjalankan tugasmu sebagai
Bumi yang seorang akuntan, kamu
akan kembali menjalani terapi
memulihkan kakimu yang lumpuh
sementara di Singapura! Bagaimana
kamu mau?"
Kutatap Titan dengan mata berkaca-
kaca.
"Hei, tunggu kau salah menyebutkan
namaku! Namaku Bumi Persada Biru,
bukan Bumi Persada Indah!
Maksudmu kita bertukar peran? Kamu
jadi aku dan aku jadi kamu?"
"Exactly right! Tepat sekali!" Balas
Titan mantap.
"Tapi untuk apa? Kita tak perlu
melakukan hal konyol ini kan?"
"Aku tahu kamu adalah karyawan
yang sangat berprestasi, tapi kariermu
tengah terancam oleh rekan sejawat
yang iri padamu kan?" Seloroh Titan
seolah ia tahu segalanya tentang
diriku.
"Bagaimana kau tahu?" Sengitku.
"Ayahku sudah menelepon Pak Vallas,
pimpinanmu! Berdasarkan hasil
informasi yang dikorek ayah,
perusahaan kami sangat
membutuhkan orang sepertimu!
Maka dari itu setelah kamu pulih dari
kondisi kritis ini, tolong gantikan aku
di perusahaan keluarga kami! Kamu
mau kan Bulan menerima cintamu?"
Aku tersentak mendengar statement
atau pertanyaan pada kalimat terakhir
yang diucapkan oleh Titan.
"Kamu… Kamu telah membaca
catatan harianku?!" Kurapatkan
seluruh gigi dalam mulutku.
Aku geram, senang bercampur
bingung. Tanpa kusadari seluruh jari
tanganku telah meremas kain spray.
Kualihkan pandangan pada Pak Juno.
Ia menatap lurus ke arahku.
Kepalanya mengangguk, merasa yakin
tidak ada yang salah dengan apa yang
direncanakan oleh putra bungsunya
itu.
"Mohon bantu perusahaan kami! Satu
tahun bukan waktu yang lama bukan?
Kami ingin menyeret keluar pihak-
pihak yang ingin menjatuhkan
perusahaan kami!"
Pak Juno menggenggam tanganku
erat.
=°°°=
#Wajah Baru!
Hari ini Bumi akan menjalani operasi
mata, sedangkan aku berangkat
menyeberangi pulau menuju kota
tempat tinggal Bumi. Tadi malam
kami telah menandatangani perjanjian
hitam di atas putih, kami akan
bertukar peran sesuai skenario yang
telah kami rencanakan bersama.
Semua data catatan harian dan
karakter orang-orang di sekitar Bumi
telah kupindai ke dalam flashdiskku,
dan dapat kubuka sewaktu-waktu ke
dalam laptop ataupun tablet yang
kubawa.
"Hati-hati ya Nak, di jalan! Ingatlah
selalu nama tuhan agar perjalananmu
selamat!" Ibu mengecup keningku
Kusalami tangan ibu yang lembut.
"Jaga diri baik-baik! Kalau sudah
sampai hubungi kami!" Ayah
memelukku hangat.
Sosok ayah adalah figur terdekat
dengan hatiku. Mungkin karena aku
anak laki-laki, sehingga hubungan
kami lebih dekat daripada
hubunganku dan ibu. Kedua orang
tuaku tidak pernah menyuruhku
untuk memanggil mereka dengan
sebutan papa dan mama, alasannya
kata ayah agar aku tidak tumbuh
menjadi anak yang manja. Menurut
ayah, pernah ada suatu survei yang
dilakukan oleh suatu organisasi
lembaga kemasyarakatan, anak yang
memanggil kedua orang tuanya
dengan sebutan papa mama
cenderung tumbuh menjadi anak
yang manja. Kedua orang tuaku juga
tak pernah menyuruhku untuk
memanggil mereka dengan sebutan
papi mami dengan alasan menurut
ibu terlalu berkesan kebarat-baratan.
Cintailah Bahasa Indonesia yang baik
dan benar! Pesan ibu padaku.
Pesawat yang kutumpangi tidak padat
penumpang. Perjalanan yang
kutempuh mencapai 3 jam hingga
bandara terakhir di suatu ibukota
provinsi. Namun perjalanan masih
jauh karena aku masih harus menaiki
sebuah bis sampai ke kota tujuan.
Berkali-kali ayah dan ibu
meneleponku ketika perjalanan masih
di dalam bis. Tak kusangka jarak yang
kutempuh sangat jauh, naik bis
memakan waktu 5 jam. Sayangnya
tidak ada bandara di kota tujuan.
Seandainya ada mungkin
perjalananku bisa lebih cepat.
"Sudah sampai mana, Nak?" Suara ibu
terdengar amat cemas di ujung
telepon.
"Kurang tahu Bu, ini semuanya di
kanan kiri jalan perkebunan karet
saja!" Jawabku
Kutolah-tolehkan kepalaku mencari
tahu barangkali ada plang nama jalan.
Aha, dapat! Itu dia yang kucari. Tapi
ee…
"Bu, ada plang nama jalan tapi aku tak
bisa membacanya! Tulisannya
menggunakan huruf Jawi seperti Arab
gundul!"
"Titan, berarti kamu sudah dekat
dengan tempat tujuanmu!" Sepertinya
ayah telah merebut gagang telepon
dari ibu.
"Ayah, bagaimana dengan operasi
mata Bumi? Sudah selesai kah?"
Tanyaku ingin tahu perkembangan
terkini.
"Alhamdulillah semua berjalan
dengan baik! Sekarang dia masih
beristirahat, perban di matanya belum
dibuka oleh dokter!"
"Ah, syukurlah!" Aku menarik nafas
lega.
Seorang penumpang bangun berdiri
dari duduknya,
"Sedaun stop Pak Supir!" kedua
tangan penumpang itu berpegangan
pada rang besi di atap bis.
Mendengar nama tempat yang
disebutkan oleh penumpang tersebut
aku mulai yakin tidak lama lagi aku
akan sampai.
Setelah 5 jam perjalanan menaiki bis,
tibalah aku di sebuah pertigaan yang
biasa disebut simpang tiga kota. Aku
pun bangkit berdiri, meraih tas koper
yang kubawa. Segera menyetop pak
supir, sebelumnya sempat kupastikan
pada kondektur bis, apakah simpang
tiga yang ada di hadapan kami adalah
jalan menuju pelabuhan Sinar dan
Ujung Kota.
Akhirnya tibalah aku di depan rumah
kontrakan Bumi. Tak sulit mencari
rumah di pinggir jalan raya besar
menuju ibukota kabupaten ini. Untung
saja dalam catatan yang kupindai
terdapat banyak foto orang-orang di
sekitar Bumi beserta foto-foto
lingkungan dan tempat-tempat yang
frekuentatif dikunjungi oleh Bumi.
Segera kubuka kunci pintu rumah
sederhana ini, tadi malam kuncinya
kuterima dari Bumi saat aku hendak
mengemasi barang. Selangkah kakiku
masuk ke dalam rumah, kudengar
suara orang berteriak ke arahku.
"Maliiing… Hei kamu mau maling ya?!"
Hardik seorang lelaki tua.
Mendadak aku gelagapan, perasaanku
gugup tak terkira. Lelaki ini, siapa ya?
Sepemahamanku tidak ada foto orang
tua itu di dalam salinan catatan
karakter orang di sekitar Bumi.
"Sa.. Sa.. Saya Bumi, Pak!" jawabku
terbata-bata.
"Bumi? Ko lain? Kamu bukan Bumi!
Bohong kamu ya! Bumi tu, tak elok
rupawan macam ni!" Sahut si lelaki
tua.
Kutaksir usianya seumuran ayah.
"Saya kecelakaan waktu pergi ke luar
kota, wajah saya hancur, maka saya
operasi wajah dan menjadi seperti
ini!" Timpalku setengah bergidik.
Dalam hati aku berkata, aku harus
tampil meyakinkan! Jangan lengah!
Karena ini semua adalah keinginanku
sendiri. Bukan maksudku untuk
menjerumuskan Bumi ke dalam
masalah keluargaku. Melainkan aku
ingin membantu menyelamatkan
dirinya dari keterpurukan yang selama
ini dideritanya. Ayah pun sudah
mempunyai strategi tersendiri agar
keamanan Bumi yang menggantikan
posisiku terjaga ketat. Ya, semua tentu
sudah dipikirkan masak-masak olehku
dan ayah sebelum kami menawarkan
kerja sama ini kepada Bumi kemarin
sore.
"Oh, tampan nian parasmu kini! Tak
seperti dahulu buruk sangat macam
siluman kodok saja!" Lelaki tua itu
terpukau menatapku.
Seolah-olah baru melihat seorang
artis terkenal nan tampan yang terjun
ke masyarakat!
"…"
Tak kugubris ucapan lelaki setengah
baya tadi. Kutinggalkan dirinya di
muka teras kebingungan seorang diri.
Rasa penat, dan letih telah
mengantarkan mataku mencari
pembaringan. Setelah kutemukan
kamar kubaringkan tubuhku di atas
kasur.
°°°°
Kuterjaga di sore hari menjelang
magrib. Telingaku menangkap
gelombang suara keributan di teras
rumah. Penuh rasa malas
kulangkahkan kakiku ke kamar mandi
untuk membersihkan badan. Debu,
panas dan keringat menyebabkan
tubuhku terlihat agak kucel dan bau.
Kusirami tubuhku dengan air di bak
mandi. Kuraih sabun batangan
kesehatan keluarga dalam kotak
sabun di tepian atas bak mandi.
Tak lupa aku pun menyikat gigi, tentu
saja untuk hal yang satu ini aku
menggunakan sikat gigi yang kubawa
sendiri.
Selesai mandi, keributan di teras
rumah makin hingar di telinga.
Tampak jelas di lorong pintu yang
terbuka segerombolan ibu rumah
tangga sedang mengintip-intip ke
dalam rumah. Dari nada pembicaraan
mereka terdengar jelas mereka asyik
memperbincangkan soal aku sebagai
Bumi.
"Hei.. Lihat! Apa benar dia itu Bumi?
Wah, gagah sekali dia sekarang ya?"
Ucap seorang ibu berdecak kagum.
"Tadi kata Wak Umar, Bumi operasi
wajah gegara kecelakaan di luar kota!"
Timpal seorang ibu yang lain.
"Iya, penampilannya kini jauh
berbeda! Dia tak macam kodok itam
dulu itu lah! Jijik saya melihatnya! Tapi
kalau macam ni lah, saya suka sangat!
Saya nak kahwin dengannya!" Ibu
ketiga turut menimpali.
Mereka berbicara menggunakan logat
Bahasa Melayu khas negeri ini.
O jadi ini ibu-ibu tukang gosip yang
kurang kerjaan itu. Menurut catatan
yang pernah kubaca dalam
perjalanan di pesawat menuju ke
mari, ibu-ibu tersebut paling suka
membicarakan perihal para lelaki di
kampung ini. Tak ada aralnya
mengupas habis ketampanan suami-
suami orang dan menjelek-jelekan
para istri yang berparas jelek namun
memiliki suami tampan.
Seorang ibu mendekat ke arahku yang
hanya berbalut handuk di pinggang.
"Wow, macho man…." Racau ibu
pertama tadi.
Ibu kedua tak mau kalah, jari telunjuk
kanannya berseluncur di atas dadaku
yang bidang. Ia berkeliling memutari
tubuhku.
"Apa awak benar-benar Bumi?"
Tanyanya memastikan.
Sebelum ibu ketiga melakukan hal
yang sama terhadapku, aku
berdeham keras.
"Maaf ibu-ibu PTG yang terhormat…."
Kalimat yang ingin kuucapkan
terputus oleh selaan ibu ketiga.
"PTG? Apa tuh PTG?" Tanyanya
penasaran.
"Persatuan Tukang Gosip!" Jawabku
datar.
"Dilarang menyentuh lawan jenis
karena kita bukan muhrim!"
Tandasku.
Ibu kedua yang tangannya 'liar' tadi
berhenti berseluncur di atas tubuhku.
Ia terpekik seraya mengangkat
tangannya ke atas.
"Oh, Bumi kamu sekarang tampan
sekali, tidakkah kamu rindu kepada
kita-kita ini? Maaf ya kalau dulu kami
selalu cuekin kamu! Habis dulu itu
kamu jelek benar sih!"
"Maaf sebentar lagi sudah waktunya
shalat maghrib! Biasanya setan atau
dajal sering berkeliaran di waktu
maghrib untuk menghasut manusia
mengajak berbuat dosa. Apalagi ibu-
ibu ini sudah berdandan seperti
SUPER DAJAL!" Ujarku setenang
mungkin tanpa ekspresi marah atau
pun kesal.
"SUPER DAJAL? Apa lagi tu?" Tanya
mereka hampir berbarengan.
"Tidakkah ibu-ibu menyadari bahwa
ibu-ibu semua sudah berpenampilan
memamerkan SUsu, PERut, DAda, dan
buJAL!?" Sindirku.
Mereka saling memperhatikan
penampilan mereka satu sama lain.
Ibu pertama berpakaian kaos ketat
yang mengakibatkan buah
payudaranya mengencang pada
belahan dada. Ibu kedua berpakaian
sangat junkies sehingga
memperlihatkan pusar dan
pinggulnya ke berbagai penjuru. Ibu
ketiga tak kalah hot dengan ibu
pertama maupun ibu kedua, ia
mengenakan tank top super seksi
yang dapat mempertontonkan ketiak,
dan pusarnya. Dipadu rok mini super
high-tight membuat penampilan
mereka semakin terlihat seksi dan
menggairahkan bagi para lelaki
hidung belang.
Tiba-tiba lamat terdengar suara adzan
berkumandang syahdu.
"Permisi saya mau shalat maghrib,
ibu-ibu sudah membatalkan wudhu
saya!"
Aku pun berlalu dari hadapan mereka.
Meninggalkan mereka terbengong-
bengong dengan mulut menganga.
Kembali ku masuk ke dalam kamar
mandi guna mengambil air wudhu.
°°°°
Malam berganti pagi, aku telah
berdandan rapi mengenakan kemeja
biru kotak-kotak lengan panjang,
celana panjang hitam dan dasi
berwarna hitam dengan motif garis
putih memanjang. Kupatut diriku di
hadapan cermin, kalau dipikir-pikir
lebih jeli aku memang terlihat sangat
tampan dengan paras rupa dan
tampangku yang seperti ini. Wanita
mana yang tidak tergila-gila padaku?!
Pikiranku melayang tertuju kepada
Bumi di seberang laut sana. Semoga
apa yang diinginkan olehnya tercapai.
Sebuah motor matic Suzuki Skywave
kukeluarkan dari pintu samping
rumah. Aku sempat tersenyum
menatap barang berharga yang
sangat dicintai oleh Bumi selama ini.
Motor ini dibelinya dari hasil jerih
payah kerja kerasnya selama ini. Tidak
pernah kusangka body motor ini
lumayan besar juga, termasuk bagasi
dalamnya terbilang luas dapat
memuat sebuah helm. Kapasitasnya
mencapai 125cc layaknya motor
bebek biasa. Sungguh scooter matic
luar biasa. Kupacu motor ini dengan
kecepatan sedang 40km/jam. Selang
20 menit berganti aku tiba di halaman
depan PT. Vega Prima. Kemarin saat
dalam bis gedung ini terlewati
sehingga tak sulit bagiku untuk
menemukannya lagi.
Derap langkah kakiku kulangkahkan
memasuki areal perkantoran di mana
ruangan Bumi berada. Sejumlah
pasang mata memandang lurus ke
arahku. Sebagian terpana dan
terkesima melihat postur tubuhku.
Dari cara mereka menatapku terlihat
jelas kalau mereka mengagumi
ketampanan yang kumiliki.
Dalam hati aku berusaha mengingat
foto wajah rekan-rekan sejawat Bumi.
Kuhafalkan ciri karakter mereka
masing-masing. Terkait masalah
hubungan yang tercipta antara
mereka dengan seorang Bumi
Persada Biru. Beruntung aku memiliki
daya ingat yang cukup tajam sehingga
tak sulit bagiku untuk mengingat dan
menghafal serta menguasai
permasalahan yang ada.
"Hei Bung, mencari seseorang?" Tegur
seorang pria dengan nada yang
kurang ramah.
Kumengerutkan kening, aku hafal
betul orang yang berada di
hadapanku ini pasti Ariel! Ya, tidak
salah lagi pembawaan sifatnya itu
ketus bila bertemu orang yang belum
dikenalnya. Kusunggingkan senyuman
tebar pesona kepada semua orang
yang tengah menatapku.
"Selamat pagi semua! Apa kabar?"
Sapaku hangat.
Para wanita beranjak
mengerumuniku.
"Wow, sudah keren, suaranya nge-
bass pula!" Gumam salah seorang
wanita.
"Cari siapa ya Bang?" Tanya wanita
yang berdiri paling depan.
"Hei… Ini aku! Kalian tidak kenal ya?!
Ini aku, Bumi Persada Biru!" Dengan
penuh percaya diri kusalami mereka
satu persatu.
Semua orang yang hadir di ruangan
itu tercengang menatapku. Seakan tak
percaya kalau aku adalah Bumi rekan
kerja mereka selama ini.
"Bumi?" Ulang mereka lagi.
Aku mengangguk mantap.
"Hei, Bulan lihatlah ke mari! Pangeran
Kodokmu itu telah bermetamorfosis
menjadi Pangeran Bermata Elang!"
Ariel menoleh pada seorang wanita
yang baru saja datang.
Aku membalikan tubuhku ke
belakang. Menatap seorang wanita
muda berparas sangat cantik.
Kecantikan yang terlihat natural.
Pantas saja bila Bumi jatuh cinta
kepadanya.
Bulan terpaku menatapku. Ia
terkesiap. Lidahnya terlihat kelu tak
mampu berkata-kata.
Closing Soundtrack:
"Disguise"
Sung By Lene Marlin
Have you ever felt some kind of
emptiness inside
You will never measure up, to those
people you
Must be strong, can't show them that
you're weak
Have you ever told someone
something
That's far from the truth
Let them know that you're okay
Just to make them stop
All the wondering, and questions they
may have
I'm okay, I really am now
Just needed some time, to figure
things out
Not telling lies, I'll be honest with you
Still we don't know what's yet to come
Have you ever seen your face,
In a mirror there's a smile
But inside you're just a mess,
You feel far from good
Need to hide, 'cos they'd never
understand
Have you ever had this wish, of being
Somewhere else
To let go of your disguise, all your
worries too
And from that moment, then you see
things clear
I'm okay, I really am now
Just needed some time, to figure
things out
Not telling lies, I'll be honest with you
Still we don't know what's yet to come
Are you waiting for that day when
your pain will disappear?
When you know that it's not true what
they say about you?
Couldn't care less 'bout the things
surrounding you
Ignoring all the voices from my wall
I'm okay, I really am now
Just needed some time
To figure things out
Not telling lies
I'll be honest with you
Still we don't know
What's yet to come
I'm okay, I really am now
Just needed some time
To figure things out
Not telling lies
I'll be honest with you
Still we don't know
What's yet to come
Still we don't know
What's yet to come
¤••••||••••¤
Sebuah Pertukaran
[BERSAMBUNG]
=00=00=00=00=00=00=00=00=00=00=
Berharap cerbung ini mendapatkan
tempat di hati teman-teman.
Salam,
SUGIH
Langsung Balas
Kepada: tommy Satria Utama
<Tommylovez

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s