Posted on

Anak Pedagang Menjadi Guru

Suara seruling terdengar merdu mendayu-dayu.Namun lagu yg didendangkan amatlah lirih & pilu menyayat hati.Burung gereja turut berkicau di atas genting atap kamarku,mengiringi suara seruling yg membuatku terhenyak dari mimpiku.Dengan rasa malas aq bangkit dari tidurku & membuka jendela,lalu bergegas ke luar kamar menuju beranda loteng rumah.Kulayangkan pandanganku pada sebatang pohon duku di belakang rumah,dedaunannya yg hijau mencapai pagar pembatas loteng.Meski pohon itu sudah tua,namun hampir tidak pernah berbuah.Kasihan pohon duku ini,pikirku.Besar nyaris tiada guna.
Aq lalu turun menyusuri tangga,kulihat mama sedang membungkusi nasi uduk yg biasa kubawa ke sekolah untuk dijual di kelas.Terlihat olehku guratan rasa lelah di wajah mama,karena harus bangun jam 3 subuh setiap hari hanya untuk melakukan rutinitas ini.Tapi mama tidak pernah mengeluh,setiap hari mama hanya memberiku motivasi untuk tidak mudah putus asa.Mama pun selalu meyakinkan aq agar tidak merasa minder kepada teman-teman di sekolah.Walaupun hidup serba kekurangan,tapi harus tetap optimis bahwa kehidupan setiap orang selalu berubah.Mungkin saat ini kami sedang jatuh terpuruk,namun suatu saat nanti mama yakin kami pasti akan bangkit kembali.Itulah roda kehidupan,terus berputar seiring berjalannya waktu..
Ya,kehidupan kami menjadi jatuh miskin sejak papa meninggalkan kami 2 tahun yg lalu.Beliau telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa,karena penyakit jantung yg diderita selama bertahun-tahun.Pikiranku pun melayang ke masa lalu,menyibak goresan luka yg menyayat hati keluarga kami selama ini:

Bogor,15 Juli 1999
"Gie,sepertinya papa nggak akan pulang lagi hari ini.Minggu yg lalu papa telpon,katanya sakit jantungnya kambuh",mama berkata dengan lesu.
"Lantas bagaimana dengan uang belanja mama?Masak kita harus ngutang belanjaan ke warung Mbak Tati?",aq tertunduk murung,merasa sedih sudah 2 minggu ini papa tak pulang ke rumah kami.Kasihan Dyah adikku merasa rindu pada papa.Hampir tiap hari Dyah menanyakan papa.Dua bulan lalu dia baru merayakan ulang tahunnya yg ke-4.
"Papa sempat bilang & menanyakan kamu,katanya kalau pulang nanti mau belikan kamu sepatu baru!",jawab mama.
Aq tersenyum simpul,papa terlalu baik,dalam keadaan sakit pun masih memikirkan keperluan kami.Padahal sebenarnya papa hanya ayah tiriku.Sejak lahir aq memang tak pernah melihat ayah kandungku sendiri.Namun posisi itu tergantikan oleh papa,ayah dari Dyah,adik serahimku.Kebaikan hati papa selalu tulus kepada semua orang,& hal ini pulalah yg menyebabkan tetangga kami sering datang ke rumah untuk meminta tolong,entah meminta pekerjaan pada papa,atau meminta sumbangan moril maupun materiil.Karena di lingkup perumahan kami tinggal,kami dihitung sebagai keluarga terpandang oleh masyarakat.Papa adalah seorang pengusaha bengkel las bubut yg membuat pagar besi untuk perumahan elite di Ciputat,Jakarta.Tetangga menganggap keluarga kami sebagai keluarga terkaya di RT kami,cuma keluarga kami yg memiliki mobil Mercy termewah & rumah gedong bertingkat seperti kastil atau villa bila dilihat dari atas bukit kampung seberang.
"Feeling mama sangat buruk Gie,coba kamu ajak Dyah main di luar!",mama memandang ke buku telpon.Hendak menelpon ke kantor papa,namun terlihat ragu.
"Kalau gitu aq ajak Dyah ke rumah Indra ya ma!Aq mau belajar sepeda disana",sahutku.
"Jangan lama-lama ya,Gie",ujar mama.
Aq pun bergegas menuntun Dyah,& membawanya keluar rumah.
###
"Horreee….akhirnya aq bisa mengendarai sepeda lagi!",teriakku pada Indra,teman sekolahku.Kami satu sekolah tapi tidak satu kelas.Aq duduk di kelas 3-i sedangkan Indra di kelas 3-f.
Dyah berteriak,"Aa,Dyah naik donk!",pintanya,ia ingin dibonceng olehku.Indra hanya tersenyum di kulum.
Tiba-tiba dari kejauhan,Mang Ega pamanku tampak berlari ngos-ngosan,"Gie,disuruh pulang oleh mama.Kita kedatangan tamu!"
"Siapa mang?papa ya?",tanyaku penuh selidik.
"Bukan,tapi temannya papa!",jawab Mang Ega.
Aq pun pamit permisi pulang pada Indra.Kami pulang dengan langkah tergesa-gesa,dalam perjalanan kutanyai Mang Ega,namun dia hanya diam membisu.Menimbulkan rasa penasaran dalam batinku,"ada apa sebenarnya ini?",tanyaku dalam hati.
Setiba di pintu pagar rumah kudengar suara mama menangis meraung-raung,setengah mengamuk."Ini tidak mungkin Pak Edy!Ini tidak mungkin!",mama menangis sesenggukan.
Tatkala aq tiba di muka pintu,mama memeluk Dyah,& berkata padaku,"Gie,papa meninggal…papa meninggal!",dengan nada tersendat-sendat mama mencoba menjelaskan kepada kami.Di samping mama,kulihat Om Edy sahabat baik papa bersama istrinya mencoba menenangkan mama,sambil memberikan segelas air bening."Ibu yg sabar ya!Ibu harus tegar!Serahkan semua ini kpd Yang Kuasa dengan ikhlas!",ucap istri Om Edy.
Pandanganku berputar-putar,antara percaya & tidak,sedangkan kami melihat jenazah papa pun tidak.Tahu-tahu setelah 5 hari berlalu,& jenazah papa sudah dimakamkan,baru keluarga kami diberitahu.Ini tidak adil rasanya!
Papa meninggal dunia karena serangan jantung saat pulang ke rumah istri pertamanya (mama adalah istri ke-2).Ketika sedang mandi,tanpa sengaja sabun yg papa pakai terjatuh & membuat papa jatuh terpeleset,saat itu kondisi papa masih bisa berjalan,namun setelah beberapa hari di rumah sakit,tuhan berkehendak lain,papa dipanggil oleh-Nya,dalam keadaan tenang & damai.
Air mataku jatuh bercucuran,meskipun papa bukan ayah kandungku,namun beliau selalu memanjakanku.Selalu menuruti apa yg ingin kumiliki.Meskipun mama selalu mencegah agar papa tidak menuruti keinginanku.

BERSAMBUNG

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s