Posted on

Bithu-Sarawak,Malaysia

Pengalaman ketika aq berkunjung ke perbatasan RI-Malaysia …

Nama tempat ini mungkin terasa asing di telinga kita,apalagi bagi yang belum pernah berkunjung ke Sarawak,Malaysia.Ya,Bithu hanyalah salah satu subdistrict tidak jauh dari perbatasan Sarawak dengan Kabupaten Sambas,Kalimantan Barat,Indonesia (sekitar 8-10 jam dari Pontianak).Dari Bithu menuju Kuching ibukota Sarawak memakan waktu lebih kurang 2 jam dengan menggunakan motor.
Ada yang menarik di daerah ini,seperti yang kita ketahui pepatah mengatakan "Lain padang lain belalang!Lain lubuk lain pula ikannya!" yang berarti lain daerah lain juga adat tradisi dan budayanya.Sebenarnya memasuki daerah Bithu tidak ada beda nuansanya dengan Indonesia,mungkin karena negara kita serumpun kali ya?Atau mungkin karena yang membangun gedung-gedung di Sarawak,mayoritas adalah para TKI dari negara kita,Indonesia.Sehingga tata kotanya terlihat identik seperti Singkawang,Pontianak,Pangkalan Bun,Sampit,Palangka Raya,Banjarmasin,dan kota-kota lainnya di daratan Borneo Island atau Pulau Kalimantan.Yang pertama terlihat unik di mata saya adalah,cara duduk wanita Sarawak ketika dibonceng di atas motor tiada yang duduk menyamping layaknya para wanita Indonesia!Mereka duduk layaknya pria,dengan kedua kaki mengangkang dan menginjak pedal boncengan kaki.Dan ketika memasuki area tertentu terdapat peraturan yang melarang warga untuk memakai celana buntung (celana pendek) di tempat umum.Bila ketahuan memakai celana pendek di tempat umum oleh polis Diraja Malaysia,bisa diberi sanksi!
Lalu apabila menaiki mobil tidak boleh melebihi kapasitas penumpang mobil itu sendiri.Untuk anak BATITA (Bawah 3 Tahun) tidak diperkenankan duduk di depan bersama supir.Pasalnya guna menghindari kecelakaan,karena yang duduk paling depan dapat dipastikan yang paling fatal resikonya saat terjadi kecelakaan.
Di daerah Bithu ini tidak sulit menemukan warga negara Indonesia,dapat dikatakan hampir 50% penduduk Bithu adalah orang Indonesia.Umumnya mereka adalah orang Bugis yang berpuluh tahun menetap di Bithu dan tak kunjung pulang ke Sulawesi-Indonesia,kampung halaman mereka.Karena bagi mereka "Dimana bumi dipijak,disitu langit dijunjung!",Sarawak sudah mendarahdaging dalam tubuh mereka.
Meski Bithu berada di perbatasan Sarawak-Sambas,namun di sekitar areal itu tidak ada gerbang imigrasi untuk keluar masuk WNI yang ingin berkunjung ke Sarawak,maupun sebaliknya warga negara Malaysia yang ingin berkunjung ke Indonesia.Garis perbatasan hanya ditentukan dengan menggunakan patok kayu yang ditancapkan di areal tanah perkebunan kelapa sawit.Ini sangat memudahkan para TKI illegal dari Indonesia untuk keluar masuk Sarawak tanpa harus menjalani prosedur di gerbang imigrasi perbatasan.Namun tak jarang terjadi kejar-kejaran antara para TKI illegal itu dengan para Polis Diraja Malaysia.Walau terkadang para polis itu akan berhenti mengejar bila diberi uang RM10000 untuk kurun waktu 1 minggu.Apabila tidak begitu,naaslah nasib para TKI tersebut digiring ke Police Station dan menerima berbagai tuduhan yang tidak-tidak seperti lanun,penzarah,perompak,pengedar narkotik,penyamun,dll,karena telah menjadi pendatang haram (imigran gelap).Lalu mereka disiksa dan didera dengan cara disetrum,diputuskan anggota tubuhnya seperti jari-jari tangan dll,digunduli kepalanya (bila wanita),dicambuk,dirajam,sebelum dipulangkan ke tanah air secara paksa.Namun ada pula kebejatan lain moral para polis Diraja Malaysia terhadap TKW Indonesia yaitu dengan cara menzinahi atau menyetubuhi mereka dengan cara memperkosa,lantas setelah itu mereka melontarkan tuduhan BITCH kepada para TKW tersebut!Memang miris dan sangat memilukan hati..
Dibalik perjuangan para TKI illegal itu pun,tak sedikit dari mereka yang berhasil.Ada yang menyelundup ke rumah-rumah orang Melayu,Dayak,maupun Bugis dan membina hubungan keluarga angkat dengan penduduk setempat,sehingga mereka berkenan mencantumkan 'keluarga angkat dari Indonesia' itu dalam Kartu Keluarga mereka,lantas mereka tinggal dibuatkan Identity Card atau KTP.
Meski mayoritas penduduk Bithu beragama Islam,namun tampaknya mesjid hanya menjadi simbol semata.Atmosfir perjudian dan mabuk-mabukan telah melembaga di daerah ini tak peduli pria-wanita,tua-muda sampai anak-anak sekalipun,semua senang mempertaruhkan uangnya dan minum minuman keras.Bahkan remaja-remaja belia 17 tahunan sangat menyukai pergaulan bebas,tak peduli status mereka masih pelajar pun.Makanan yang diharamkan pun di setiap rumah warga tersimpan dalam lemari es,dan sewaktu-waktu dapat dihangatkan untuk disantap bersama keluarga.Naudzubillah..
Di sisi lain,Bithu memang negeri yang cantik,wilayahnya merupakan daerah perkebunan kelapa sawit,buah naga,dan karet.Walaupun hanya sebuah subdistrict,jalan raya di Bithu sangat licin dan mulus,pasar tradisionalnya bersih dan tidak kumuh,gedung-gedung di kota tertata dengan rapi dan tak ada coretan di dinding,gerbang-gerbang merah berukir naga dengan lampion khas China turut mendominasi wilayah Bithu di setiap penjuru.
Semoga saya mendapatkan ketentraman di Bithu ini!

Advertisements

About Sugih

I'm just an ordinary people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s